
Reni masih tak bisa mengeluarkan suara, matanya masih fokus menatap pria ber jas.
"Bagaimana kabarmu selama ini?."
Reni mengangguk pelan, mulutnya terbuka lebar saat pria itu membuka masker yang menutupi wajahnya.
"Mas Gun..." sapa Reni dengan suara bergetar.
Sekian tahun tak berjumpa setelah perpisahan, dan tak sekalipun Reni bertemu atau pun tahu kabar tentangnya.
"Apa kabarmu Ren?" sekali lagi Gunawan bertanya.
"Seperti yang kau lihat mas, aku baik-baik saja, meski hatiku masih belum bisa menerima penggantimu yang lain."
Gunawan tersenyum masam.
"Maafkan aku atas semua yang telah aku lakukan."
Gunawan memutuskan untuk bercerai dari Reni setelah satu tahun usia pernikahan mereka.
Gunawan yang rupanya tak bisa melupakan Nita dan putri mereka yang telah di tinggalkannya.
"Mas, katakan padaku, apakah kau tidak kembali pada istri dan anakmu setelah perpisahan kita?" tanya Reni.
Gunawan menggeleng penuh penyesalan.
"Aku sudah terlambat Ren, ternyata sepeninggalku Nita sakit, dan akhirnya menghembuskan nafasnya."
Reni terisak lirih, sesak dadanya mendengar penuturan mantan suaminya.
"Aku memang laki-laki pengecut, aku tak berani menampakan wujudku setelah dosa besar yang telah ku lakukan, aku begitu berdosa dan hina untuk sekedar memohon maaf pada mereka" suara Gunawan bergetar lirih.
"Lalu kemana kau selam ini Mas?" tanya Reni.
"Mungkin Tuhan sangat membenciku Ren, di tengah rasa penyesalanku, aku kecelakaan dan hampir merenggut nyawaku, andai tak ada yang menolongku kala itu, berbulan-bulan aku terbaring tak berdaya, bahkan kakiku tak bisa di gerakan selama hampir satu Tahun, Dan aku tak lagi memiliki muka untuk menemui putriku."
"Kenapa kau lakuakan itu Mas? Tahu kah kau, saat itu putrimu tentu sangat membutuhkanmu hikz" tangis Reni semakin keras, tak bisa ia bayangkan, gadis kecil sebatang kara bertahan hidup, berjuang mencari sesuap nasi.
Gunawan menggelengkan kepalanya penuh frustasi.
"Aku kira dia bersama neneknya Ren, ibu Nita, ku kira putriku di rawat oleh ibu mertuaku tapi ..."
__ADS_1
"Tapi apa Mas?."
"Ternyata Ibu mertuaku pun menyusul Nita, ia meninggal tak lama setelah Nita, aku sungguh seorang Ayah yang tak berguna Ren" Air mata akhirnya luruh dari sudut mata pria tegap itu, ia terisak lirih, wajahnya menunduk dalam, dengan tangan menutup wajahnya.
"Aku seorang penghianat yang tak berguna, aku pendosa yang hina, aku tak pantas untuk di maafkan huu huu huu" tangis Gunawan pecah, Vila yang sepi kini ramai karena terdengar suara tangis dan isak saling bersahutan.
Reni berdiri dan merangkul tubuh Gunawan, di usapnya punggung bidang mantan suaminya.
Rasa cinta yang dulu begitu besar, kini berganti menjadi rasa dari sesama insan yang sama-sama menyesali kesalahannya.
"Sudahlah Mas, tak ada gunanya lagi kita meratapi semua yang telah terjadi, biarlah itu menjadi pelajaran bagi kita, dan sekarang lah saatnya kita harus mempertanggung jawabkannya Mas, kita harus meminta maaf pada Zara."
Gunawan mengangguk pelan.
"Akupun sudah memikirkannya beribu kali Ren, apapun akan ku lakukan agar putriku memaafkanku, mulai sekarang Zara harus bahagia" ucap Gunawan lemah.
Reni menatap Gunawan tajam.
"Jadi kau tahu jika Zara putri kandungmu sekarang telah menjadi seorang model terkenal?" tanya Reni tak percaya.
Gunawan mengangguk kecil, malu dan sesak dadanya saat mengakui Zara adalah putrinya, tentu saja ia pasrah jika nanti putrinya menolaknya mentah-mentah.
"Apa Zara juga tahu jika kau adalah Ayahnya?"
"Selama ini aku mengurus perusahaanku dan kebanyakan aku berada di luar, jjka pun aku di sini, aku tak pernah menampakan wajahku, tapi aku selalu memantau gerak putriku."
"Jadi kau sudah sukses Mas?" tanya Reni semangat.
"Setelah aku pulih, aku bekerja di sebuah perusahaan ekspor impor, dan karena keahlianku aku di percaya bos untuk menjadi tangan kanannya, dan karena kebaikannya aku di beri kepercayaan untuk mengurusi salah satu anak cabangnya, hingga kini perusahaan kecil yang ku pegang semakin berkembang pesat dan hingga sekarang perusahaanku memiliki beberapa anak cabang di beberapa kota" terang Gunawan panjang lebar.
Reni tersenyum hangat, memang Gunawan adalah seorang pria yang baik dan jujur, tak heran jika ia di percaya oleh atasannya, dan buah dari kejujurannya kini telah ia dapatkan .
Berhasil menjadi seorang pengusaha sukses.
Bahkan nama besar yang ia gunakan selama ini, yaitu Tuan Awan yang ternyata adalah potongan dari nama Gunawan.
"Lalu kapan kau akan menemui putrimu?."
"Sesegera mungkin, aku ingin hatinya tenang dulu setelah kedatanganmu di hadapannya tentu saja hatinya masih shock" ucap Guanwan.
"Jadi kau tahu aku mengunjunginya ke ruamh sakit?"
__ADS_1
Gunawan mengangguk pasti.
"Semua yang terjadi dengan putriku, selalu aku mengetahuinya, termasuk putramu yang begitu tergila-gial padanya" Gunawan menghela nafas panjang.
"Itu karena kesalahan kita Mas, tapi Revan pun tak salah jika ia benar-benar mencintai putrimu, cintanya sangat tulus, tahukah kau betapa hancur dirinya saat Zara mengatakan bahwa mereka adalah saudara satu Ayah, kesalah pahaman ini hampir merenggut nyawanya" ujar Reni membela sang putra.
"Aku tahu Ren, tapi hati dan perasaan tak dapat di paksakan, begitupun rasa cinta, ia tak akan bisa di paksakan, sekeras apapun kau berusaha, jika cinta memang tak ada maka semua sia-sia" terang gunawan.
"Apa kau tahu sekarang putrimu dekat dengan putra seorang desainer terkenal?" tanya Reni lagi.
"Aku tahu, tapi aku belum yakin apakah putriku benar-benar menyukai pemuda itu, aku paham bagaimana sikap putriku, meski aku tinggal bersamanya tak sampai dewasa namun aku paham sifat keras hatinya, ia tak akan mudah melabuhkan hatinya pada seorang pria."
Reni pun mengangguk paham, putra nya begitu mati-matian menyerahkan sepenuh hatinya, namun tak juga Zara menerima cinta tulusnya.
"Hari sudah larut, ayo ku antar pulang" ucap Gunawan lembut.
Reni pun mengangguk nurut.
Mobil yqng di kendarai Gunawan melaju dengan kecepatan sedang, menuju mansion Reni.
"Mas, tolong turunkan aku di mini market di sebrang" ucap Reni saat beberapa puluh meter lagi sampai di gerbang rumahnya.
"Baiklah, hati-hati dan jaga dirimu" ucap Gunawan.
Reni pun mengangguk dan tersenyum tipis, Gunawan masih selalu perhatian pada siapapun orang di sekelilingnya.
Reni melangkah ke mini market setelah mobil Gunawan pergi, ia tak ingin penjaga rumahnya mengetahui dengan siapa dia pulang.
Revan beberapa hari ini tampak sedang menyelidikinya.
"Iya jemput aku di mini market depan" ucap Reni pada anak buahnya di ujung telepon.
Sementara itu, Gunawan mengemudikan kereta besinya menuju rumah Nardi.
Empat puluh lima menit akhirnya sampailah di rumah sederhana tempat kesukaannya.
"Bagaimana perkembangan putriku Nu?"
"Nona Zara sudah jauh lebih baik Tuan, dan saya sudah mengantarkannya sampai di apartement."
Gunawan mengangguk puas.
__ADS_1
"Kau memang selalu bisa di andalkan Nu" ucapnya sambil menepuk bahu kekar asistennya.
Saya juga bisa di andalkan sebagai seorang menantu Tuan, ucap Manu namun hanya bisa di ucapkan dalam hati.