Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*128


__ADS_3

Dengan keceparan sedang, Andra memajukan mobil menuju ke sebuah gedung apartement yang di duga tempat Gunawan tinggal bersama sang asistenya Manu.


Berbekal informasi yang di dapat dari anak buahnya, Andra kini duduk tenang di dalam mobilnya sambil mengamati area parkir.


Sudah lebih dari empat puluh menit ia menunggu aktifitas Manu, namun nihil.


Baru di jam ke dua Ia akhirnya melihat sosok yang di nanti memasuki area parkir.


Dari postur tubuhnya yang tinggi tegap serta wajah tampan di atas rata-raya, Manu sangat cocok menjadi seorang CEO atau direktur, bukan hanya sekedar asisten biasa.


Melihat kekayaan orang tuanya yang memiliki banyak bisnis besar, sudah bisa di pastikan Manu dengan mudah bisa mendapatkan itu semua, tapi kenapa ia malah lebih memilih untuk menjadi seorang asisten biasa dan bekerja dengan orang lain.


Empat puluh menit perjalanan, akhirnya Manu menepikan mobilnya di rumah sederhana, dari jarak sepelemparan batu, Andra terus mengamati gerak Manu dari dalam mobilnya.


Tak lebih dari sepuluh menit Manu pun kembali keluar dan melajukan mobilnya kembali.


"Do, Lu cari informasi tentang rumah yang berada di jalan xx non 22, cari siapa pemilik rumah tersebut" pesan yang Andra kirim ke anak buahnya.


Rupanya Manu kembali melajukan mobilnya lembali menuju apartement milik Gunawan dengan membawa sebuah bungkusan.


Sedangkan Andra terpaksa memutar kembali mobilnya setelah sang mommy menyuruhnya ke butik karena sudah dari pagi kedatangannya di tunggu oleh putri Pak Menteri.


Huh kenapa di saat seperti ini ondel-ondel itu selalu mengacaukanku, umpatnya kesal.


Dan benar saja, sesampainya di butik sudah banyak awak media yang tengah menunggu kedatangannya.


"Hai Ndra, kata Tante kau sedang ada urusan penting, jadi aku menunggumu di sini" sapa Fitri yang tersenyum manis menyambutnya.


Andra hanya tersenyum masam.


"Ndra kenapa kemarin kau tidak datang?"


"Aku ada urusan Fit" Andra menjawab jengah, para wartawan tak hentinya membidikan kamera ke arahnya.


"Fit, sebaiknya kita pergi dari sini, aku takut banyak pembeli yang akan membatalkan datang ke butik setelah melihat banyaknya para wartawan."


"Kenapa memangnya Ndra? Bukannya dengan ada para awak media, butikmu akan menjadi lebih terkenal."


Andra berdecih dalam hati, butik mommynya tak perlu awak media untuk membuatnya terkenal, nama besarnya sudah menjadi jaminan untuk menjadi sebuah butik beromset ratusan juta yang di peroleh setiap minggunya, juga menjadi langganan para artis dan pejabat.


Sebenarnya Andra begitu enggan untuk datang ke butik, namun ia merasa tak enak pada sang mommy karena ulah Fitri, butiknya menjadi riuh dengan banyaknya para wartawan.


Bahkan mungkin para karyawan pun diam-diam merasa terganggu dengan keberadaan mereka.


"Kita ke mana Ndra? " tanya Fitri antusias.

__ADS_1


"Kita ke restoranku" saat ini Zara sedang libur, jadi di restoran adalah tempat aman baginya.


Fitri mengangguk bahagia.


"Tapi jangan bawa mereka."


Andra menatap para awak media yang sudah siap mengikutinya.


Fitri mengangguk lesu, ia sangat ingin mengabarkan berita tentang kedekatanya dengan Andra, dengan begitu maka tak ada lagi harapan bagi gadis lain yang berfikir untuk memiliki lelakinya.


Meski rasa dongkol di hati, Fitri tak mungkim memperlihatkannya di hadapan Andra, ia ingin selalu tampil sebagai wanita sempurna yang selalu hangat dan penuh kasih saat bersama Andra.


Terpaksa ia melarang para wartawan untuk tetap mengikutinya, karena Andra sudah mengancam jika masih ada reporter itu mengikuti di belakang mereka maka Andra akan pergi meninggalkan Fitri.


Fitri turun mengikuti Andra masuk ke restoran besar miliknya, anggukan karyawan ia balas dengan ala kadarnya, senyum tipis tersungging manis meski hatinya menyimpan rasa kesal.


"Bos mau makan apa?" tanya Wanto.


"Tanya dia" jawab ketus Andra, malas rasanya mengikuti keinginan Fitri yang selalu mempunyai berbagai macam perintah dan larangan.


Pria lugu itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu ia melangkah ke ruangan di mana sang ratu huru-hara sedang duduk asik dengan gadget di tangannya.


Mungkin suasana hati yang sedang bahagia, membuat Fitri kali ini tak meminta makanan yang macam-macam.


Salad sayuran dan jus buah campur, menjadi pilihannya.


"Ndra besok Ayahku pulang" pekik Fitri girang karena kepulangan Ayahnya di percepat.


Andra hanya memandang datar, tak ada yang istimewa baginya.


"Besok temani aku jemput mereka Ndra" rengek Fitri.


"Tapi aku bekerja Fit" elak Andra, meski ia tahu pastilah alasannya tak berarti bagi Fitri.


"Pokoknya aku jemput kamu pukul sepuluh" ucap Fitri penuh percaya diri, ia terbiasa melakukan sesuatu tanpa penolakan.


Fitri makan dengan sesekali selfie dengan Andra di sampingnya, lalu mengirimkan pada sang Ayah agar kedekatannya semakin mereka restui.


"Ayo kita pulang Fit" ajak Andra spontan, membuat Fitri tertegun.


"Kau tega mengusirku Ndra" tanya Fitri tak percaya.


"A...b. .bukan begitu Fit, maksudnya ayo kita sebaiknya pulang lihatlah cuaca mendung, mungkin sebentar lagi turun hujan" elak Andra gugup.


"Ah aku masih ingin tetap di sini, hujan akan membuat suasana semakin syahdu."

__ADS_1


Andra tak bisa berbuat apa-apa lagi, banyak alasan yang di buatnya agar Fitri segera pulang namun ternyata gadis itu masih betah bersamanya.


"Kamu kenapa sii Ndra? Apa yang sedang mengganggu fikiranmu?" tanya Fitri heran.


Andra tampak gelisah dan tak tenang bahkan duduk pun selalu melihat jam di pergelangan tangannya.


"Aku hanya bosan di resto Fit." terang Andra singkat.


"Lalu kemana lagi kau akan mengajakku?"


Glek.


Bagai bumerang yang kini berbalik menyerangnya, Andra bukannya terlepas dari jerat Fitri, bahkan kini semakin erat ia terperangkap jaringnya.


Andra menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ehm entahlah, sebenarnya aku sedikit tak enak badan, kepalaku sedikit pusing" akhirnya jurus pamungkas Andra keluarkan, memang kurangnya durasi tidur tadi malam membuat kepalanya terasa berat.


"Hah apa kita berobat ke rumah sakit saja Ndra?" tanya Fitri cemas.


"Tidak usah hanya pusing biasa, istirahat sebentar juga akan sembuh."


Andra bukan tipe orang yang heboh dengan hanya sedikit rasa pusing di kepalanya dan tidak semua sakit harus di selesaikan di rumah sakit.


Perhatian Andra sedikit teralih saat notifikasi pesan dari anak buahnya muncul di layar ponsel.


"Maaf Fit aku ke belakang sebentar" ucap Andra lalu melangkah ke dalam resto.


Ceklek.


Tak ingin ada orang yang menguping pembicaraannya, Andra mengunci rapat ruangannya.


"Bagaiman Do?"


"Pemilik rumah itu hanya seorang petani biasa Bos."


"Maksudmu?"


"Dia seorang petani yang menanam sayuran di kebunnya."


"Lalu" Andra tak sabar dengan penjelasan Do yang berbelit-belit.


"Dia petani biasa, namun rumah itu rupanya sering menjadi tempat Guanwan singgah bahkan menghabiskan waktu di gubug tua itu."


Kedua alis Andra mengerut.

__ADS_1


Pastilah pemilik rumah itu memiliki hubungan erat dengan tuan Gunawan, mana mungkin seorang pengusaha kaya raya mau singgah bahkan menghabiskan hari-harinya di sebuah rumah tua yang reot dan tampak lapuk di makan usia, ucap batin Andra


__ADS_2