Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*179


__ADS_3

Meski kamar luas dan mewah tak membuat Echa dan Ikhsan langsung terlelap.


Terbiasa tidur beralaskan busa tipis membuat mata mereka susah terpejam, ranjang empuk dan nyaman ternyata bukan jaminan tidurnya menjadi lelap.


"Bu, aku tak bisa tidur, rasanya susah sekali mataku terpejam" bisik Ikhsan.


"Iya Pak, aku juga begitu .." jawab Echa.


"Apa kita nyalain televisi saja Bu?" tawar Ikhsan.


"Apa boleh Pak."


"Ah pasti boleh Bu."


Jika di kamar pasutri yang tak lagi muda tengah berbeda pendapat tentang susahnya tidur di tempat yang nyaman tapi berbeda dengan keadaan di kamar Zara dan Andra.


Andra bagai tengah di mabuk rindu berat pada Zara, ia selalu menempel pada sang istri.


"Babe, aku mau sikat gigi dulu, nggak usah ikut."


"Tapi aku juga mau sikat gigi dan cuci muka sayang" rengek Andra.


"Hhm modus, ya udah sana kamu duluan, aku soalnya lama" cibir Zara.


"Ah kamu aja duluan sayang" ujar Andra berlagak santai.


Zara menatap tajam ke sang suami, sikapnya adalah modus karena Zara sudah terlatih dengan cara yang di tempuh sang suami agar niatnya terlaksana.


Zara pun melangkah cepat menuju kamar mandi dan langsung menguncinya.


"Sayang ..ah kok di kunci" Protes Andra dengan mimik wajah kesal karena kalah cepat.


Zara hanya terkekeh di balik pintu, suaminya tak akan pernah membiarkan dirinya bebas di kamar mandi, ada saja alasan baginya untuk menjamah tubuhnya.


Dengan wajah segar dengan tubuh sudah berbalut baju, Zara keluar dari kamar mandi.


Andra berdecak kesal, ia memandang Zara intens bahkan kedua matanya tak berkedip sama sekali.


"Kenapa Babe? Ada apa dengan wajahku?" tanya Zara sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya.


Andra tetap diam bahkan mengerutkan kedua alisnya.


"Warna bibirmu aneh" ujarnya.


"Aneh gimana?" Zara mulai panik.


"Entahlah tapi coba aku rasakan."


Dengan santainya Andra merengkuh wajah sang istri dan menyesap bibir sang istri begitu dalam, aroma mint dari pasta gigi yang di pakai membuat mulutnya terasa segar dan harum.


Zara dengan bodohnya menurut apa yang Andra pinta, bahkan ia membuka sedikit mulutnya hingga sang suami bebas menyesap bibir lembutnya.


"Emm enak, segar dan wangi" ucapnya santai, lalu melangkah masuk ke kamar mandi meninggalkan Zara dengan wajah polos masih belum sadar bahwa sang suami telah menipunya.


Andra terkekeh di dalam kamar mandi setelah puas menyesapi bibir sang istri beraroma mint yang segar itu.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh saat ia keluar dari kamar mandi, Zara sedang asik dengan gadgetnya di atas kasur.


"Belum tidur sayang?."


"Belum ngantuk."


Andra melangkah ke atas ranjang dan bersatu dengan Zara di bawah selimut.


"Apa yang kau lihat?" tanya Andra penuh selidik, dadanya tergelitik saat Zara beberapa kali tersenyum melihat akun sosmed nya.


"Ternyata banyak yang meminta ku untuk meng upload kebersamaan kita lagi."


"Bagaimana kalau kita publikasikan hubungan pernikahan kita."


"Hmm, tapi mungkin besok saja sekalian kita memposting foto pernikahan kita."


Andra mengangguk setuju.


"Aku yakin akan ada banyak pria yang patah hati di luar sana" ujarnya.


"Mungkin juga" jawab Zara santai.


"Apa kau tak merasa takut jika nanti penggenarmu meninggalkan mu?"


"Tidak, jika mereka meninggalkanku hanya karena hatiku sudah berlabuh, berarti mereka bukan penggemar sejatiku, karena seorang penggemar yang baik akan selalu mendukung apapun yang idol mereka lakukan apalagi untuk kebahagiaannya."


Andra tersenyum lalu mencium kening sang istri mesra.


"Babe apa kau pernah meng idola kan se seorang?."


Mata Zara membulat tak percaya, pria se cuek dan se santai Andra ternyata bisa juga meng idola kan se seorang dalam hidupnya.


"Apa dia seorang artis?"


Andra menggeleng pelan.


"Apa fotomodel?."


Masih ia menggerakan kepalanya ke kanan dan kiri.


"Dia seorang CEO sebuah perusahaan besar, aku meng idolakan karena dia begitu cantik, dan mandiri, tak pernah aku se gila itu menyukai se seorang, bahkan setelah tahu hatinya sudah ada yang memiliki."


Zara masih diam menyimak cerita sang suami dengan cermat.


"Lalu apa dia tahu kau menyukainya?."


"Ya dia tahu, namun ia menolak dengan halus, saking halusnya hingga aku masih saja berharap hatinya masih bisa berpaling dari lelakinya."


"Jahat kau Babe, mendo'a kan hubungan orang lain hancur."


"Aku bahkan pernah berniat ingin menculiknya kabur di hari pernikahannya."


Zara membulatkan mulutnya tak percaya.


"Terus..teruss..gimana?."

__ADS_1


"Pada akhirnya aku sadar, cinta tak harus memaksakan kehendak, dan cinta tak harus memiliki, karena aku tahu hati dan cintanya sudah ia berikan pada suaminya."


"Jadi dia sudah menikah?" Zara bertanya antusias, cerita cinta suaminya begitu seru bagai cerita novel online yang sering ia baca.


"Dia empat tahun lebih tua dariku, mungkin sekarang mereka sudah hidup bahagia dengan putri cantik mereka" Andra tersenyum masam.


"Apa kau masih mencintainya?"


Andra menggeleng pasti.


"Kalau dulu aku bisa se gila itu mencintainya, tapi sekarang...kau lah segalanya bagiku" Andra berucap sambil menatap Zara begitu dalam.


"Aku sangat beruntung mendapatkan cintamu dari sekian banyak pengagummu di luar sana, terciptalah hanya untukku?"


Zara tersenyum bahagia dan memeluk sang suami dengan haru.


"Sejak kapan kau benar-benar menyukaiku Babe?"


"Hmm sejak kejadian itu..."


"Kejadian apa?"


Andra termenung sejenak, mungkin inilah saatnya ia mengakui dosa nya pada Zara.


"Apa kau ingat saat Irfan memberimu obat setan yang akhirnya membuatmu tak sadar?"


Zara menggeleng sambil mencoba mengait memorinya tentang kejadian yang sama sekali tak ada dalam isi kepalanya.


Andra menghela nafas dalam.


"Saat itu kau berada dalam pengaruh obat laknat itu dan terpaksa ku bawa ke apartement, dan untuk menghilangkan pengaruh obat itu aku terpaksa ...glek" Andra menelan ludah kasar.


Mulut Zara membulat utuh saat sadar inti dari cerita Andra.


"Jadi..kau sudah...?"


"Tidak, aku tidak pernah menodaimu, dan kau tahu sendiri, kemarin adalah malam pertama aku mendapatkan mahkotamu sayang" teriak Andra panik.


"Lalu bagaimana kau menyembuhkanku dari pengaruh obat laknat itu?."


Zara semakin penasaran bagaiaman cara Andra mengatasinya saat itu, yang ia tahu obat perangsang yang di berikan Irfan adalah salah satu obat dengan dosis tinggi, dan hanya lewat bercinta lah yang dapat menyembuhkannya.


"Aku menyelesaikannya dengan caraku."


Andra berbisik dengan suara berat di telinga Zara, mengingat kejadian itu sontak membuat bagian bawah tubuhnya mengeras.


Dan Zara hanya bisa pasrah saat tatapan Andra sudah mulai sayu dan suara semakin berat.


Malam panjang pun mereka nikmati dengan olah raga panas yang di mulai dengan Andra mengulang cara membebaskan Zara dari pengaruh obat panas dulu.


Dan senyumnya terbit, ternyata cara itu pun masih ampuh kala Zara sudah mencapai puncaknya.


Nafasnya tersengal dengan desisan keluar dari bibirnya yang bergetar, Andra sungguh memanjakannya di bawah sana.


"Babe...apa seperti ini yang telah kau lakukan padaku saat itu?" tanya Zara dengan suara parau.

__ADS_1


Andra mengangguk puas, sementara Zara sudah terkulai lemas tak bertenaga.


__ADS_2