
Andra memencet password untuk membuka pintu apartemen Diego, karena memang hanya kedua sahabatnya itulah Diego memberitahu nomor sandi pintunya.
Televisi yang di biarkan menyala namun tampak sepi tak ada satu mahluk pun tampak.
Segelas kopi di atas meja ruang tivi yang masih hangat, menandakan bahwa sang penghuni masih ada dalam apartemen itu.
Ceklek.
"E busett, monyong" umpat Diego saat baru keluar dari kamar mandi.
Dengan lilitan handuk di pinggang dengan kepala tertutup handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Andra yang sedang mengambil minuman di kulkas pun tampak terkejut.
"Lu kaya maling kesorean aja Ndra, dateng-dateng buka kulkas".
"Dari mana lu jam segini baru mandi" Andra malah balik nanya.
"Baru kelar dari bengkel, badan kaya habis di rendem sama oli"ucap Diego sambil mencium badannya sendiri.
"Masih kecium oli nggak tubuh gue?" Diego mengangsongkan punggungnya mendekati Andra, agar temannya itu dapat mencium aroma tubuhnya.
"Ishh, ogah amat gue nyium badan lu" Andra mendorong agar Diego menjauh.
"Ngapain lu nyuruh gue ke sini?" tanya Andra .
"Ya buat nyium badan gue, masih bau oli kagak" jawaban polos Diego membuat Andra terbengong.
"Lu yang bener aja, gue jauh-jauh datang cuma di suruh ngendus badan lu doang, wahh parah" ujar Andra dengan wajah kesal.
"Dih sensi amat lu, kayak cewek lagi dapet aja, dah lu diem dulu tar gue jelasin" terang Diego santai menuju kamarnya.
Andra hanya memutar pandangannya ke arah televisi karena jengah.
Diego keluar dari kamar setelah mengganti bajunya.
Ceklek.
Keduanya mengalihkan pandangan ke arah pintu apartemen.
Juned alias Zain muncul dengan senyum penuh pesona, setidaknya itu menurut pemikirannya sendiri.
"Udah lama lu Ndra?"
"Heum".
Brak.
Juned menaruh berkas di atas meja, Diego meraih dan mengamati dengan seksama.
__ADS_1
Gerakan kepalanya manggut-manggut dengan sudut bibirnya terangkat.
"Cukup bagus" ucap Diego saat melihat data tabel keuntungan yang di dapat cafe nya bergerak naik.
Andra mendekatkan wajahnya dan melirik kertas yang berada di tangan Diego.
"Pa an si?"tanya Andra heran.
Namun tak ada jawaban dari keduanya yang masih fokus menatap berkas di tangan Diego.
"Ish" Andra bangkit hendak melangkah keluar dari apartemen karena kesal dua sahabatnya itu mengacuhkannya, namun langkahnya di tahan oleh Diego.
"Lu kenapa si, dari tadi mood lu jelek amat, sabar napa"ujar Diego menarik tangan Andra kesal agar duduk kembali ke kursi nya.
Diego dan Juned saling pandang, sebenarnya mereka hanya ingin mengtahui apa sebenarnya yang telah membuat Andra yang biasa bersikap dingin dan tenang, kini seakan hari-harinya selalu di rundung kecemasan dan suasana hatinya pun terlihat sangat buruk.
"Lu ada apa sebenarnya bro?, ceritalah sama kita, meski tidak banyak membantu, setidaknya dapat melegakan beban di hatimu"ucap Juned bijak.
Begitupun Diego, meski mereka sibuk dengan dunia bisnis yang mereka geluti masing-masing, tapi sikap Andra yang tampak kacau sungguh mengganggu pikiran dan hati, kedua sahabatnya itu.
Andra diam terpaku di tempat duduknya.
Meski kedua sahabatnya tampak acuh namun ternyata mereka selalu memperhatiakn dirinya, bahkan sebelum menceritakan ganjalan di hatinya pun, Diego dan Juned sudah mengetahui bahwa suasana hati Andra saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Ada rasa haru di hati Andra, kedua sahabatnya masih begitu perduli padanya.
"Gila aja gue d suruh datang jam sembilan, emang cafe lu buka jam berapa?" tanya Andra sewot.
"Dah lu nurut aja bro tar lu lihat, lu pantengin tuh cafe gue yang meski cuma sebuah cafe kecil tapi lu bisa bandingin pendapatannya dengan restoran lu yang mewah itu, baru lu protes" kalimat menohok yang Juned ucapkan seakan menyadarkan Andra.
Memang cafe Juned tak seberapa besar di bandingkan rertoran miliknya namun pengunjung selalu saja penuh bahkan baru hitungan bulan, cafe itu di buka, Juned sudah berencana membuka satu cabang lagi di kota lain.
Andra melangkah ke luar dari pintu lift, terpaksa ia menyudahi pertemuan dengan dua sahabatnya setelah mommy Maharani memanggilnya.
Langkahnya terhenti saat dari dari sudut matanya memandang sosok pria yang pernah ia lihat.
Revan, dengan wajah sendu tengah berada dalam pelukan wanita paruh baya bergaya sosialita yang ia temui tadi.
Dari gaya wanita itu memeluk, apakah mereka ibu dan anak?, pikir Andra.
Langkahnya ia buat selambat mungkin dengan jari tangan memegang ponsel.
"Sabarlah Van, mungkin besok baru ibu bisa bertemu dengannya, saat ini ia tidak berada di apartemennya" ucap wanita itu lembut.
"Apa ibu sudah masuk ke dalam apartemen Zara?" Revan seakan tak percaya jika Zara tak berada apartemenya sedangkan saat ini sudah malam.
"Ibu bertemu dengan temannya yang tinggal dengan Zara, dan katanya Zara sedang tidak berada di tempat" jawab wanita itu.
Andra menghentikan langkahnya dan menaruh ponselnya di sebelah telinga dengan gaya orang sedang berbicara, sementara matanya tak henti melirik ke arah kedua orang tersebut yang kini berjalan menuju parkiran.
__ADS_1
Dari wajah yang terlihat sayu dan tampak jelas rona kekecewaan di matanya.
Andra melihat jarum jam di pergelangan tangannya.
Pukul sepuluh kurang lima belas menit, ia pun bergegas melajukan kereta besi nya menuju mansion.
Lampu yang masih menyala di ruang televisi, menandakan jika mommy nya nasih ada di ruangan itu.
Tatapan Andra terhenti pada sosok yang bersandar di sofa panjang dengan kedua mata terpejam, tubuh ramping dengan nafas teratur, namun sebuah majalah bisnis masih berada dalam pangkuanya.
Andra meraih kaca mata baca sang mommy lalu menariknya perlahan agar gerakannya tak membuatnya bangun.
Di letakannya kacamata di atas meja dan majalah bisnis itupun berhasil ia ambil.
Di amatinya wajah yang sudah terlihat beberapa keriputan di sudut mata dan bibirnya.
Andra menghela nafas panjang,"Maafkan aku yang belum bisa membahagiakanmu momm" batin Andra bergumam perih.
Andra meraih tangan Maharani dan melingkarkannya di lehernya agar mempermudah untuknya membopong ke kamar.
Namun ia urungkan gerakannya karena kedua mata itu bergerak membuka perlahan.
"Kau sudah pulang sayang" sapaan lembut dengan senyum hangat terbit dari bibirnya.
Andra pun tersenyum getir, berusaha menutupi kegugupannya.
"Kenapa kau tidur di sofa mom, di sini dingin" ujar Andra lirih.
Maharani menggeleng pelan.
"Mommy nggak bisa tidur, jadi mommy baca majalah sekalian nunggu kamu pulang Joy".
Semakin ter iris hati Andra, meski usianya sudah bukan lagi anak kecil namun Maharani masih tetap memperlakukannya seperti bocah balita masih membutuhkan perhatiannya dan selalu ia cemaskam jika tak berada di rumah.
"Sudah makan kamu Joy?".
Andra mengangguk pasti.
"Aku sudah makan tadi di cafe Juned mom".sahut Andra bohong.
"Ehm, bagaimana perkembangan cafe temanmu itu Joy?" tanya Maharani.
"Ehm cukup bagus mom" Andra menjawab singkat, tak ingin menambah beban pikiran sang Mommy karena cafe Juned yang nota bene cafe kecil namun mendapat keuntungan lebih pesat dari restoran besar miliknya.
"Ehm boleh kan mommy kapan-kapan main ke cafe temanmu itu?".
Andra menatap netra sang mommy yang terlihat begitu berharap.
"Baik mom, kapan-kapan kita main ke cafe Juned"
__ADS_1