
"Oiya Mom mungkin besok aku ijin ngajak Zara dulu cari perlengkapan pernikahan jadi nggak bisa masuk kerja" jelas Andra pada Maharani.
" Tentu saja nak, mulai saat ini Mommy akan memberhentikan Zara sebagai karyawan resto ."
"Hah, s saya di pecat Tante?"
Maharani mengangkat kedua alisnya dengan bibir menahan tawa, Zara begitu jujur dan profesional dalam pekerjaannya, bahkan untuk berhenti saja sangat sayang baginya.
"Tentu saja sayang, kau akan menjadi Menantu Mommy otomatis kau sudah menjadi pemilik resto ini, juga butik Mommy yang lain" jelas maharani lembut.
"T tapi Tan..."
"Ssttt, jangan panggil 'Tante' lagi dong, mulai sekarang panggil 'Mommy' oke."
"I ya..M mom" ucap Zara terbata.
"Mom kita pulang dulu, udah malem."
Maharani mengangguk dengan senyum bahagia, lalu melambai kan tangan saat mobil meninggalkan mansion.
Zara menatap Andra yang sedamg fokus dengan kemudinya.
"Kak, aku mau .."
"Sayang, kita sebentar lagi nikah, masa kau tetap memanggilku seperti itu, nanti orang pikir, aku nikah sama adik sendiri" Andra memotong kalimat Zara dengan wajah kesal.
"Ehm iya maaf, b babe" kalimat Zara terbata dengan wajah mulai memerah.
Andra tersenyum gemas lalu mengacak puncak kepala Zara.
"Tadi mau bilang apa heum?"
"Aku mau setelah nikah nanti, aku akan tetap bekerja" Zara berucap dengan wajah tegang.
Andra tertawa tergelak.
"Tentu saja, lakukan apapun yang kau ingin, gapailah apa yang kau cita-citakan aku akan selalu mendukungmu, dengan syarat, kau tidak boleh melupakan tanggung jawabmu sebagai seorang istri dan ibu nantinya."
"Terima kasih aku janji nggak akan lupa pada kewajibanku nanti."
"Aku juga minta sesuatu padamu sayang, ku harap kau mau mengabulkannya."
"Heum, apa itu? Tentu saja aku akan mengabulkan apa yang suamiku minta" Zara berucap spontan.
Andra menepikan mobilnya ke sisi jalan, mendengar Zara menyebut kata 'suami' hati Andra seketika berbunga-bunga, bagai taman indah yang di penuhi kupu warna warmi.
"Katakan sekali lagi" titah Andra dengan tatapan haru.
"Katakan apa?" tanya Zara di landa bingung.
"Tadi kau bilang akan mengabulkan apa yang suamimu ingin?"
Zara mengangguk pasti.
"Tentu saja Babe, aku akan mengabulkan keinginan suamiku, selama itu bisa ku lakukan."
Greep
__ADS_1
Andra merengkuh tubuh Zara ke dalam pelukannya.
"Kau pasti bisa melakukannya" bisik Andra lirih di dekat telinga Zara.
"Apa itu?"
"Lahirkan anak-anakku."
Zara diam membisu, kalimat yang membuat dadanya berdebar
Tatapan mata Andra sayu dan wajahnya semakin mengikis jarak hingga kini bibirnya entah detik ke berapa sudah mendarat di bibir lembut Zara.
Sesapan bibir Andra yang terasa begitu lembut, membuat Zara pun terlena, perlahan ia pun membalas dengan memberi akses agar Andra memperdalam ciumannya.
Neberapa menit bibir keduanya menyatu saling bertukar saliva, malam yang mulai larut dengan jalanan yang agak sepi, membuat keduanya lama terhanyut dalam buaian panasnya api asmara, Andra menyudahi aksinya saat Zara menepuk pundaknya lembut.
Keduanya tersadar bahwa mereka berada di sisi jalan yang sepi.
Andra tersenyym dan mengusap sisa salivanya di bibir sang kekasih.
"Maaf, rasanya aku sudah begitu tak sabar memilikimu seutuhnya" ucap Andra dengan suara berat, tatapannya pun kian sayu pertanda hawa panas sudah mengalir di sekujur tubuhnya.
Tak ingin terjadi hal yang akhirnya ia sesali, Andra kembali melajukan mobil menuju apartement.
Suasana kini tampak canggung, wajah Zara terasa panas, debaran jantungnya pun berdebar tak karuan.
"Bersiaplah, besok malam aku akan mengajakmu untuk bertemu se seorang."
Andra berucap dengan mata memandang Zara tajam, setelah lama berpisah, sudah saatnya mereka bertemu kembali, tak perlu mengulur waktu, jika memiliki niat baik maka Sang Pencipta pun pasti akan merestui, ucap batin Andra.
"Apa tak bisa siang hari ketemunya" tanya Zara.
"Beliau orang yang sangat sibuk, jadi kita hanya bisa menemuinya saat malam"
Zara menautkan alisnya.
"Apa kita tidak akan mengganggu jadwalnya?" tanyanya lagi.
Untukmu apapun akan dia lakukan, kau lah hal terpenting dalam hidup dan dunianya , batin Andra berucap lirih.
"Karena itu kita hanya bisa bertemu saat malam" jawab Andra.
Zara turun dari mobil dengan banyak pertanyaan di kepalanya.
Siapakah orang penting yang akan ia temui besok malam, dan se penting apakah orang itu baginya.
"Hei jangan melamun, cepatlah tidur dan besok sore aku jemput untuk fitting baju" ujar andra cepat, membuat Zara tergagap.
"A ehm iya Babe."
Andra melangkah memasuki mobil setelah Zara melepasnya dengan kecupan ringan di pipi.
Ceklek.
Langkah Zara perlahan memasuki apartement, televisi yang masih menyala di ruang tengah sementara Dewi terlelap di sofa dengan dengkuran kecil dari mulutnya yang setengah terbuka.
"Wi Dewi, pindah ke kamar gih, udah malam" bisik Zara, tangannya menepuk pipi sang sahabat.
__ADS_1
Tubuh Dewi menggeliat dengan lenguhan panjang.
"Masih inget pulang Lu Markonah?" sapa Dewi kesal, ia menunggu Zara sejak sore tadi karena ia ingin mengajaknya jalan-jalan Soping belanja bulanan.
"Heum" Zara mengangguk dengan senyum bahagia.
"Wi Gue di lamar" bisik Zara dengan suara lirih namun membuat bulu tengkuk Dewi merinding.
"Hah beneran ???" pekiknya langsung bangun dari tidur.
Zara mengangguk sambil memperlihatkan cincin di jari manisnya
Dewi sontak memeluk sang sahabat dengan begitu erat.
"Selamat Lu yaaa..akhirnya ada juga yang mau nego ke perawanan Elu hiks."
Zara mentoyor Dewi yang kini terisak haru.
"Sialan Lu."
Kedua sahabat itu saling berpelukan erat layaknya teletabis yang sedang bahagia.
Dewi semakin terisak, tangis bahagia karena menyaksikan sahabat baiknya akan mengakhiri masa lajangnya.
"Lu napa malah nangis, apa Elu nggak bahagia kalau Gue married?"
"Songong Lu, ya bahagia lah, bahagia bangeet, semoga kalian akan mrnjadi pasangan yang di restui alam, do'a ku untuk kebahagiaan Elu selalu Ra huuu huu."
Keduanya tak henti saling berpelukan bahkan mereka tidur bersama di kamar Zara.
Pagi menjelang, begitupun suasana di mansion, Andra bangun pagi dengan penuh semangat, namun dalam hal ini Maharani lah yang paling bersemangat, ia bangun lebih pagi menuju butiknya.
Maharani akan membuat baju pengantin spesial untuk sang menantu hingga Andra terpaksa menikmati sarapannya sendiri.
Bergegas ia melaju motornya ke sebuah tempat.
Empat puluh menit akhirnya sampai di tujuan, Andra menepikan motornya di depan rumah Nardi.
Tak seperti biasanya, Nardi tampak duduk tenang di kursi rotan tua miliknya di teras samping rumah sambil memandang hamparan kebun sayurnya.
Nardi tersenyum melihat kedatangan Andra.
"Selamat pagi Pak.." sapa Andra penuh semangat.
"Pagi nak, kulihat kau sedang bahagia hari ini, wajahmu tampak berseri" ujar Nardi.
Andra menyeringai lebar.
"Pak aku datang membawa kabar baik" ujar andra.
Nardi menatap Andra tajam, memang dari wajahnya tampak ia sangat bahagia.
"Aku akan menikahinya" jelas Andra girang.
Senyum Nardi terbit, pemuda itu sungguh sangat mencintai putri Gunawan, terlihat dari rona bahagia wajahnya, batin Nardi.
Relakan dia untuk meraih kebahagiananya bersama pria lain Nu, Nardi membatin lirih.
__ADS_1
Ia pun sebenarnya tahu sedalam apa rasa cinta Manu pada gadis itu, tapi rupanya Yang Kuasa berkehendak lain, Andra lah sang pemenangnya.