Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU *39


__ADS_3

Dengan cekatan Zara merapihkan kembali tempat yang di jadikan studio poto darurat di sudut ruangan apartemennya.


Dewi terpaksa meninggalkan apartemen tanpa sempat membereskannya kembali, karena waktu sudah sangat tipis, dan tak ingin tertinggal masuk kerja.


Zara dengan sabar mencopot yang memasukan semua peralatan dan hiasan yang masih bisa di pakai ke sebuah kotak besar, agar suatu saat ia memerlukannya maka ia bisa menggunakannya kembali.


Begitupun Andra yang tak mau tinggal diam melihat gadisnya bekerja sendiri.


"Kak sudah kak Andra istirahat saja, biar aku yang bereskan."


"Ish ini tak seberapa Ra, lagian pekerjaan ringan ini, kasihan kamu juga sudah lelah pasti."


Zara hanya bisa memandang Andra sekilas dan untuk sepersekian detik pandangan mereka beradu.


Zara segera memalingkan wajahnya ke arah lain, sementara Andra kini sibuk menata jantungnya yang kini tiba-tiba berdegub kencang.


Ah bertatapan dengannya membuat jantung tak aman aisshh, gumam Andra dalam hati.


Tak ingin perasaan menjadi tegang Andra pun mengambil ponsel dan berlagak hendak berswa poto dengam back ground tempat yang masih berantakan.


"Sedang menata diri, untuk kedatangan sang pemilik hati" caption yang Andra tulis di sosial media miliknya.


Setelah semua tertata rapih seperti semula, Zara mengambil jus dan snack dari dalam kulkas.


Suasana yang tak se tegang tadi, membuat Zara terlihat lebih nyaman.


Begitupun Andra.


"Apa hari ini kau tidak ada acara Ra?" tanya Andra.


"Tidak kak, hanya mempersiapkan wisuda yang tinggal beberapa hari lagi."


Andra menaikan kedua alisnya ada sedikit kekaguman pada gadis di depannya.


Ditengah kesibukan menjadi seorang model juga yutuber yang sudah centang biru, namun masih menyempatkan diri untuk menyelesaikan pendidikannya.


"Ohh selamat kalau begitu, wah jadi kini kau sudah menjadi seorang tukang insinyur." Andra berucap polos.


Zara tersenyum mendengar kalimat jadul Andra.


"Setelah wisuda lalu apa rencanamu Ra?"


"Ehm, aku akan fokus dulu ke pekerjaanku sembari menabung untuk rencana lanjut ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi kak."


Prok prok prok.

__ADS_1


"Hebat kamu Ra, di tengah kesibukan kau selalu mengutamakan pendidikanmu, salut aku."


"Ah biasa aja kak, aku hanya ingin mewujudkan cita-cita ibu, aku harus menuntut ilmu sampai ke negri Cina, namun apalah dayaku, karena keterbatasan dana akhirnya mentok sampai di negri sendiri aja, itu pun sudah sangat aku syukuri kak, dan aku tak berani berharap lebih dari yang ku capai saat ini" Zara berucap pasrah.


"Sudahlah, jangan pernah kau patah semangat, jika kita jalani dengan tulus ikhlas semoga yang Kuasa akan memberi jalan." Andra berucap bijaksana, Zara tersenyum manis, kalimat sederhana namun beribu makna.


Hadeuuh jangan terlalu manis kau tersenyum Ra, aku takut rasa ini akan semakin dalam padamu.


"Aku pamit dulu Ra, ada urusan sore nanti di butik mommy ku."


"Ah ohh, ehm sampaikan salamku untuk tante ya kak"


"Oke Ra nanti aku sampein bye."


Andra melambaikan tangan lalu melangkah keluar apartemen.


"Eh kak, terima kasih banyak atas bantuannya, kalau nggak ada kak Andra nggak tahu lagi nyari siapa yang mau jadi model kita."


"Heum, it' okay kalau ada perlu lagi jangan sungkan bilang padaku, kalau aku bisa maka akan ku lakukan."


Apa sih yang nggak buat kamu Ra.


Andra melangkah keluar dari lift, namun baru beberapa langkah, terdengar satu suara memanggilnya dari arah belakang.


"Ndra, woy!!".


Wajahnya datar memandang Diego yang tengah berlari mengejarnya.


"Lu dari mana bro, dari atas?" Diego bertanya dengan memandang ke sekeliling Andra namun tak melihat orang lain.


"Dari tempat Zara."Andra menjawab singkat.


Diego menatap Andra dengan tajam.


"Dia..di gedung ini?" tanya Diego terkejut.


Andra mengangguk pasti, namun Diego menggeleng tak percaya


"Dia tinggal di apartemen ini baru dua bulan lebih, jadi kau mungkin belum pernah bertemu dengannya" Andra paham wajah tak percaya sahabatnya itu.


Bagaimana mungkin tak menyadari bahwa selama ini, idolanya ternyata tinggal satu gedung dengannya.


"Benarkah apa yang kau ucapkan bro?"


Andra mengangguk pasti.

__ADS_1


"Bisa kah kita, ehm maksudku, maukah kau sesekali mengajakku ke apartemennya?" tanya Diego penuh harap.


Andra menghentikan langkahnya lalu menghadap Diego yang kini melihat ke arahnya dengan penuh harap.


"Zara tak pernah mengajak teman pria nya masuk ke apartemen selain gue tentunya" ucap Andra dengan nada percaya diri.


Tentu saja Andra di perbolehkan masuk ke apartemen Zara, selain dalam keadaan darurat, dan urusan pekerjaan yang membuat Andra dapat akses istimewa untuk memasuki apartemen Zara.


Diego memutar pandangannya hatinya begitu dongkol dengan ucapan sahabatnya itu.


"Lu tumben nggak ke bengkel, udah kaya lu?" tanya Andra sarkas.


"Sialan lu, gue habis belanja spare part."


"Lha emang lu kagak ada anak buah, ngapain bos turun tangan sendiri."


Diego menggelengkan kepalanya, sahabat nya itu memang sama sekali belum mengenal liku-liku dunia bisnis dengan baik, dua tahun hidup di negri orang, hanya mengandalkan uang saku yang tentu ia bisa dapatkan dengan mudah tinggal sebut, maka notifikasi di ponsel akan muncul.


Transferan berjumlah fantastis akan sampai di ATM nya.


Jadi tak heran jika Andra belum paham dunia kerja.


"Gue ingin memberikan layanan maksimal untuk para costumer gue, dan gue nggak ingin mengecewakan mereka dengan menggunakan spare part yang abal-abal hanya untuk keuntungan pribadi" terang Diego.


"Apa selama ini costumer lu selalu meminta spare part yang paling baik?"


"Ehm mereka tidak selalu meminta menggunakan yang terbaik, tapi selama bisa gue sediakan meski dengan keuntungan yang tipis tentu akan gue gunakan yang terbaik, tak mereka minta pun gue selalu memberikan layanan terbaik gue, karena gue ingin mereka mempercayai bengkel gue untuk ke depannya."


Andra manggut-manggut paham.


"Sekarang lu mau ke mana, dan lu habis ngapain di apartemen Zara?" tanya Diego.


"Ehhm dia minta bantuan gue untuk menjadi pasangan model jaket endorse an nya."


Diego membulatkan matanya tak percaya.


"Waah daebak, lu sekarang jadi model bro?" tanya Diego antusias.


"Bukan model, cuma peran pembantu doang, gue bantuin dia, udah " Andra berucap santai.


Diego segera mengambil ponselnya lalu menscroll akun Zara.


"Mana bro, kagak ada muka lu?" tanya Diego bingung.


"Belum sempat di edit, mungkin tar malem baru up" ujar Andra.

__ADS_1


Walau di up juga kagak bakalan wajah gue keliatan, orang wajah gue di tutupin topi.


__ADS_2