Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*154


__ADS_3

Andra terus melajukan kereta besinya, membiarkan sang kekasih yang masih di liputi berbagai pertanyaan.


Wajah bingung Zara begitu menggemaskan, beberapa kali Andra terkekeh dalam hati.


Baru kali ini ia melihat Zara dalam mode nge bug.


"Babe bukankah ini jalan menuju makam ibuku?" tanya Zara akhirnya tak dapat menahan rasa penasarannya.


Andra mengangguk dan memperlambat laju mobil lalu memarkirkannya di sisi jalan yang terdapat kerimbunan beberapa pohon bugenvil, beberapa meter dari pintu gerbang makam.


Ada dua mobil terparkir agak jauh dari pintu gerbang, dan ia tahu itu adalah mobil Gunawan dan anak buahnya.


"Kita sebentar lagi akan menikah, apa kau tak ingin mengenalkan calon suamimu ini pada Ibumu" tanya Andra lirih dengan tatapan tajam ke Zara.


Zara mengedarkan pandangannya, area makam tampak sepi dan mencekam, membuat Zara mencebikan bibirnya, mana ada orang ziarah ke makam pada malam hari, ia membatin kesal.


Namun pandangan mata Zara menangkap satu sosok yang sedang duduk bersimpuh di samping makam yang ia tahu bahwa itu adalah pusara milik ibunya.


"Sst tunggu di sini" bisik Andra cepat, saat melihat Zara hendak keluar dari mobil untuk menemui sosok tersebut.


"Tapi siapa dia yang lancang duduk di makam Ibuku?" tanya Zara sewot.


"Dia bukan lancang sayang, lihatlah baik-baik, dia sedang ber do'a di pusara ibu mu, mana bisa di sebut lancang" jawab Andra membela sosok yang tak lain adalah Gunawan.


"Siapa dia Babe?" Zara memajukan wajahnya, berharap bisa melihat lebih jelas siapa sosok tersebut.


Andra hanya melirik Zara sekilas lalu ia pun memandang sosok yang tengah fokus di sisi makam tersebut.


Tubuh Gunawan tampak bergetar kecil, beberapa kali terlihat tangannya menyeka air mata.


Keduanya akhirnya tetap duduk di dalam mobil menunggu pria misterius itu pulang.


"Babe sampai kapan kita menunggunya di sini?" Zara berbisik tak tahan karena sudah lebih dari tiga puluh menit pria itu tak juga bangkit dari duduknya.


"Sabarlah, toh kita tidak sedang di buru waktu" jawab Andra santai.


Zara berdecak kesal, rasa penasaran pada sosok tersebut semakin besar, apalagi tubuhnya tampak berguncang menahan tangis, namun sayang Zara tak bisa melihat wajah sosok pria tersebut dengan jelas karena posisi tubuhnya membelakangi mobil yang mereka tumpangi.


Jantung Zara berdebar keras, sosok pria itu bangun dari duduknya dan melangkah pergi setelah mencium batu nisan Ibunya.

__ADS_1


Waktu bagai berhenti berputar seketika, saat sosok tersebut berjalan melewatinya dengan wajah tertunduk.


Namun Zara masih mengenal baik sosok yang melewatinya itu.


Bibirnya bagai terkunci, dan air mata mulai keluar dari sudut mata beningnya.


Melihat hal tersebut, meski ingin rasa hati memeluk sang kekasih, Andra bertahan untuk melihat bagaimana reaksi Zara saat melihat sosok Gunawan setelah sekian lama.


Zara masih saja menatap kepergian mobil yang membawa Gunawan, bahkan hingga di titik ujung jalan mobil itu menghilang dari pandangannya.


"A ayah...." bisiknya terbata.


Zara memalingkan wajahnya ke Andra.


"A apa dia A y a h ku?" tanyanya masih tak percaya.


Andra mengangguk dengan senyum haru.


"Benar dia lah Ayah mu sayang, calon Ayah mertuaku" jawab Gunawan penuh percaya diri.


"Benarkah dia Ayah, kenapa dia datang ke makam Ibu, kenapa dia menangis di sana, kenapa? hiks hiks" Andra merengkuh tubuh Zara yang kini terguncang hebat ke dalam pelukannya.


Tangis Zara mulai lirih, nafasnya pun mulai teratur.


Mata indah itu tampak sembab dan basa oleh air mata.


Dengan lembut Andra mengusapnya perlahan lalu di tatapnya wajah cantik Zara.


"Sayang, ternyata selama ini Ayahmu selalu ada di dekatmu, beliau masih sangat menyayangimu, memperhatikanmu, melindungimu, dan selalu memberikan yang terbaik untukmu" terang Andra setelah di rasa Zara sudah lebih baik.


Zara menggeleng pelan.


"Kau bohong" ucapnya singkat.


"Sungguh..tahu kah kau, semua kerja sama dari beberapa perusahaan besar itu karena Ayahmu yang meminta mereka untuk bekerja sama denganmu, juga bonus-bonus besar dan semua fasilitas yang kau terim, semua karena campur tangan Ayahmu."


Zara masih menggelengkan kepalanya.


"Dan sebidang tanah yang kau dapat dengan harga di bawah rata-raya itu, Ayah mu lah pemiliknya dan sengaja menyiapkannya untukmu, untuk membangun sebuah sekolah modeling seperti yang kau inginkan."

__ADS_1


"Lalu kenapa dia tak menemuiku, lenapa dia membiarkanku hidup sendiri di dunia ini,hiks.."


"Dia tak membiarkanmu sendiri sayang, dari tempat persembunyiannya dia selalu memantau mu, perhatiannya begitu besar padamu."


"Kenapa harus sembunyi dariku" tatapan mata Zara menyala merah ke Andra.


"Itu karen rasa bersalahnya padamu, ia rela begitu tersiks menahan rasa rindunya padamu karena ia tak ingin melihat kau kembali terluka karena kesalahan masa lalunya, tahu kah kau sayang, setiap jum'at malam dia datang ke makam ini, bercerita dan berkeluh kesah tentang rasa bersalahnya padamu juga ibumu, juga tentang rasa ketakutannya jika kau akan menolaknya dan meninggalkannya saat ia menemuimu, ia tak sanggup lagi berpisah darimu sayang, kalian masih saling menyayangi, maafkanlah Ayahmu."


Tatapan Zara menerawang kosong, di hatinya memang masih sangat merindukan sang Ayah, pria yang dulu selalu memeluknya dan mendekapnya saat ia menangis, pria yang selalu menjadi tameng dan pelindungnya.


Dari hati paling dalam Zara begitu merindukan sosok sang Ayah.


"Ayo pulang" ucap Zara dengan suara serak, ia ingin memejamkan matanya dan membiarkan hatinya berdamai dengan masa lalu, berharap hari esok hatinya yang akan berbicara, apakah ia memaafkan kesalahan sang Ayah dan kembali bersama setelah kesalahan besar yang telah di lakukannya di masa lalu.


Suasahan hening terjadi saat perjalanan pulang, Andra tak ingin mengganggu suasana hati Zara, terkadang suasana hati akan lebih membaik jika dalam keheningan, biarlah hati kecil Zara yang akan memberi jawabannya.


Sesampainya di lobi apartement Zara masih mengunci mulutnya.


"Sayang, tanya lah pada hatimu terdalam, pasti di hatimu masih tersimpan rasa sayang yang begitu besar untuk Ayahmu, kasihanilah dia dan maafkan semua dosa dan khilafnya karena sudah terlalu lama ia menahan rasa sesal yang menghimpit dadanya, dan kau tahu keinginan terbesarku?"


Zara menggeleng pelan dan menatap Andra tajam.


"Aku pun ingin memiliki seorang Ayah, biarkan aku merasakan kasih sayang, meski dari seorang Ayah mertua" kalimat Andra tenang dan dalam.


"Istirahatlah, tenangkan hati dan pikiranmu, kau tahu yang terbaik untukmu."


Andra mengecup puncak kepalanya lembut lalu mengacak rambut nya lalu pergi meninggalkan lobi apartement.


Suasana apartermen sudah begitu sepi, televisi dan lampu pun sudah mati.


Zara membersihkan tubuhnya dengan cepat, rasa lapar perutnya tak ia rasakan, ia hanya ingin segera merebahkan tubuhnya.


Penat tubuh membuatnya terbang ke alam mimpi tak lama setelah ia memejamkan matanya.


Pagi menjelang, Andra bangun penuh semangat, hati ini ia ingin bertemu dengan Ayah mertua, anak buahnya sudah menemukan di mana tempat tinggal Gunawan selama ini.


Sebuah gedung apartemen yang tak begitu luas, tak menduga bahwa Gunawan seorang oengusaha kaya raya, akan tinggal di apartemen sederhana tersebut.


Wah kau pandai sekali bersembunyi Ayah mertua, ucap Andra dalam hati dengan senyum smirk.

__ADS_1


__ADS_2