Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU* 33


__ADS_3

Dengan kepala menunduk lesu, salah satu karyawan keluar dari ruangan CEO setelah mendapat amukan dan cacian dari Revan.


Untung lah Roy dapat menenangkannya, dan meminta maklum karena kemarahan bosnya itu sedikit berlebihan.


Sang karyawan pun mengangguk lega dan mengucapkan terima kasih pada Roy.


Hari ini sejak pertama CEO nya itu masuk ke ruangannya, sudah empat orang yang mendapat amukan kemarahan hanya karena kesalahan sepele.


Suasana hati Revan sedang tak baik-baik saja.


Dan mereka para bawahan yang akhirnya mendapat imbas dari suasana hatinya yang buruk.


Untuk mencegah jatuhnya korban berikutnya Roy menahan beberapa berkas yang tadinya akan di serahkan ke ruang CEO dan menaruh di atas meja kerjanya sendiri.


Mungkin setelah moodnya membaik baru Roy akan menyerahkan semua map itu pada Revan.


Roy yang tak ingin terus-terusan ikut terkena imbas pun berfikir keras, apa yang harus di lakukannya agar mood Revan kembali seperti semula.


Sementara waktu sudah mendekati istirahat siang karena hari ini adalah hari jum'at maka istirahat di majukan tiga puluh menit dari hari biasa.


Tiba-tiba Roy bergegas masuk ke ruangan Revan.


Ceklek.


Tubuhnya diam membeku sesampainya di ruangan CEO, karena hadiah tatapan tajam dari Revan lebih dulu menyambutnya.


Glek.


"Apa kau sudah tidak punya sopan-santun lagi heum? Masuk ke ruanganku tanpa permisi dan ketuk pintu."


Kalimat yang datar namun sungguh menusuk hati Roy.


"Maaf tuan, saya harus menyampaikan berita ini secepatnya, sebelum tuan Revan terlambat." ujar Roy tanpa berani memandang bosnya.


"Heum, kalau begitu katakan cepat."


"Bukankah hari jum'at biasanya tuan selalu mengantar non Zara ke makam ibunya, dan sekarang..."kalimat Roy tak lagi ia lanjutkan karena Revan sudah lebih dulu lari keluar dari ruangan dengan umpatan dan caci an.


"Huff" Roy bernafas panjang, lega rasanya sang harimau yang sedang galau itu akhirnya pergi dari ruangan ini.


Brakk.


"Eh pocong pocong ..."umpatan Roy keluar tanpa tertahan saat terdengar suara pintu yang terdorong keras membentur tembok ruangan.


"A ada apa lagi tuan?"


"Kunci mobil mana?"

__ADS_1


Dengan cepat Roy merogoh saku baju dan menyerahkan kunci mobil Revan.


Tangan Revan bergerak cepat menyambar kunci di tangan sang asisten.


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi!"


Ucap Revan dengan wajah kesal, sementara Roy hanya dapat menelan saliva yang terasa pahit.


"Bilang salah, apa lagi nggak bilang..."Roy bermonolog sendiri setelah Revan keluar dari ruangan.


Suasana siang yang terik tak membuat Revan mengurangi kecepatan mesin mobilnya.


Setelah beberapa menit akhirnya sampailah ia di tempat pemakaman umum.


Langkahnya ia ayunkan ke sebuah masjid yang terletak tak jauh dari makam.


Setelah selesai mengikuti shalat jum'at Revan berjalan ke sebuah tempat pemakaman umum yang terletak tak jauh dari masjid.


Tempat di mana Zara secara rutin mengunjungi makam sang ibu.


Netra Revan memindai ke area makam, sosok yang di cari nya pun tak terlihat, hanya ada beberapa peziarah yang berlalu lalang.


Di bawah sebuah pohon kamboja yang terletak di pinggiran makam, Revan duduk di sebuah bangku pinggir jalan, menanti sosok yang telah membuat hari-harinya begitu kacau.


Lebih dari tiga puluh menit Revan duduk bermandikan sengatan mentari yang begitu menyengat, bahkan selembar saputangan halus miliknya sudah tampak basah oleh keringat, kemeja lengan panjang yang ia gulung sebatas lengan pun juga lepek.


Di lihatnya jam di pergelangan tangan, pukul dua.


Pandangan Revan menyapu area makam untuk kesekian kali, tatapannya berhenti pada seorang lelaki tua dengan topi lancip terbuat dari anyaman bambu, dengan sapu lidi yang di bawa di atas bahunya.


Revan merutuki kebodohannya, lalu berjalan melangkah mendekati pria tua tersebut, yang rupanya seorang petugas kebersihan makam.


"Pak tunggu pak."


Revan mengejar lelaki bertopi, namun lelaki itu tetap berjalan tanpa menoleh sedikitpun.


Beberapa kali Revan memanggilnya dengan teriakan keras namun lelaki bertopi itu tetap acuh dan berjalan keluar dari area makam.


"Huff pak tunggu," nafas Revan tersengal karena mengejar pria di tengah serangan mentari yang terik membakar kulitnya.


"Eh ada apa mas?" tanya pria bertopi dengan polos tanpa dosa, dari gerak tubuhnya ia mungkin sudah berkurang indra pendengarannya.


Rona wajah letih Revan kini bertambah dengan warna kecewa.


Rupanya hari ini Zara sudah datang ke makam pagi hari, jadi Revan tak dapat bertemu dengan gadis itu.


Langkahnya lesu kembali ke mobilnya di parkiran.

__ADS_1


***********


Sementara itu, Zara sudah berada di mobilnya menuju ke arah apartemennya.


Sengaja ia ziarah ke makam pagi hari karena sudah lama ia tak mengunjungi keluarga angkatnya.


Hatinya sedikit terhibur setelah bertemu dengan Ikhsan dan keluarga kecilnya.


Adik-adiknya menyambut kedatangan Zara dengan begitu antusias.


Pelukan hangat dari Ikhsan dan Echa sang istri membuat hatinya kembali menghangat.


Bahkan adik-adik angkatnya pun berebut untuk selalu menggandeng tangannya.


Hadiah kecil yang Zara bawa begitu berarti bagi mereka, meski bernilai tak seberapa tapi sikap mereka yang menyambutnya dengan begitu hangat sungguh membuat Zara terharu.


Andai tak ada paman Ikhsan, entah jadi apa Zara sekarang, di saat umurnya yang masih belia dan hidup sebatang kara, tanpa sanak saudara dan tanpa tempat tinggal untuk berlindung dari teriknya matahati dan dinginnya angin malam, paman Ikhsan mau menampungnya di tengah hidup yang penuh keterbatasan.


Saat ini lah Zara merasa harus membayar jasa mereka, dan dengan teratur Zara selalu menyisihkan uang untuk mereka.


Nilai yang tak seberapa namun sangat mereka butuhkan.


Zara selalu memperhatikan kebutuhan sekolah adik-adiknya.


Sepatu, tas dan buku serta uang bulanan selalu Zara yang membayar.


Lambaian tangan dari adik-adiknya saat melepasnya pergi membuat matanya berkabut.


Di sebuah tanah kosong Zara menghentikan laju mobilnya, tanah yang ia beli untuk di bangun sebuah sekolah modeling sederhana.


Semangatnya kembali menyala, asa nya kini semakin menggebu, ia harus bangkit dan menggapai mimpinya.


Zara melanjutkan perjalanan karena hari sudah sore, dan agar tidak terlalu malam sampai di apartemen.


Sesampainya di apartemen Zara membersihkan tubuhnya yang terasa gerah dan lengket.


Dewi pun tersenyum, wajah murung Zara kini sudah berubah riang kembali.


"Bagaimana kabar adik-adikmu Ra, juga paman dan bibi angkatmu?"


"Ehm, alhamdulillah mereka sehat dan baik-baik saja."


"Syukurlah."


Dewi mengangguk dan tersenyum senang, melihat Zara yang begitu terpukul tadi malam, sungguh membuat Dewi pun ikut merasakan sakit di dadanya.


Aku selalu berdo'a untuk kebahagiaanmu Ra, tarik lah kedua sudut bibirmu dan terbitkan senyum paling manis agar dunia tahu, kau adalah gadis tangguh, hujan badai yang sudah terbiasa menerpa, jangan sampai kau tumbang hanya karena gerimis di sore hari.

__ADS_1


__ADS_2