Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*185


__ADS_3

"Kenapa kau diam sayang? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Andra sambil menggosok rambutnya yang masih basah dengan handuk.


Zara menunjukan kado pemberian Reni pada sang suami.


"Bukankah ini kado dari ibu nya Revan? Apa isinya?" sambung Andra.


"Buka lah."


"Whoaahh, emas ...dia memberikan hadiah pernikahan dengan perhiasan ini sayang?"Andra masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Zara mengangguk jujur, ia adalah wanita sama seperti yang lain yang akan merasa bahagia jika mendapat hadiah apalagi berupa perhiasan mahal.


"Apa kau senang sayang?" hati Andra sedikit tersentil karena sebagai seoarng suami ia bahkan belum memberikan satu pun perhiasan berharga pada istrinya.


"Heum aku senang dan bahagia bukan karena nilai hadiah yang orang berikan untuk ku tapi aku bahagia karena mereka mau menyisihkan waktu untuk memberi sedikit perhatian dengan datang ke acara kita."


"Dan aku akan senang menerima nya apa pun itu terkecuali.....kado bangkai itu" ucap Zara berubah lirih dengan wajah murung.


Ia masih merasa sedih kenapa ada orang yang begitu tega mengirimkan kado berisi bangkai busuk padanya, dalam hati selalu bertanya apakah kesalahan yang telah ia buat hingga orang membencinya.


"Sayang kenapa kau diam?" Andra menatap lurus wajah Zara yang kini berubah murung.


"Tidak apa-apa Babe, ayo kita tidur, ku harap esok ada berita baik" ucap Zara berandai, mencoba menenangkan hatinya agar tak lagi terlalu risau memikirkan kesalahan apa yang telah di buatnya hingga membuat orang membencinya.


"Hmm ayo kita tidur, apa kau sudah meminum obatmu?."


Zara menggeleng pelan karena memang ia sama sekali tak ingat untuk meminum vitamin dan obat pusingnya.


Andra menghela nafas panjang, istrinya memang terlalu teledor dengan kesehatannya sendiri, ia mengambil obat di laci meja dan air minum lalu menyerahkan pada sang istri.


Meski enggan Zara tetap menyambil obat di tangan sang suami dan me minumnya sambil mengerutkan alisnya karena rasa obat yang sangat ia tak sukai .


"Hm tidurlah, aku di sini."Andra merebahkan tubuhnya di samping Zara dan melingkarkan tangannya untuk mengusap puncak kepala sang istri, berharap Zara segera terlelap.


Andra tahu hati Zara pastilah belum merasa tenang, dari tingkahnya ia selalu terlihat gelisah dan melamun.


Waktu pukul sebelas saat Andra lihat nafas sang istri sudah mulai teratur menandakan ia sudah terlelap.


Andra bangkit dari ranjang dengan gerakan halus bahkan nafas pun ia tanah se lembut mungkin agar tak membuat istrinya terjaga.


Tuas pintu ia tekan lirih.


Ceklek.

__ADS_1


Dengan langkah kaki berjingkat Andra keluar dari kamar menuju pintu ruang kerja Maharani karena di ruangan tersebutlah suaranya tak akan terjangkau dari kamarnya.


"Ada apa kau menghubungiku malam-malam? Apa terjadi sesuatu pada putriku?."


Gunawan tentu saja merasa panik setelah ponselnya berderimg dan ada nama 'menantu' memanggil.


"Yah, ibu nya Revan memberi hadiah Zara berupa perhiasan yang harganya fantastis Yah."


"Maksudmu mantan istriku?" tanya Gunawan.


Glek, Andra menelan ludah kasar, sepertinya ia bertanya pada orang yang salah, pikirnya.


"Tapi ia juga kan ibu nya Revan,mantan Zara Yah."


"Lalu ...apa masalahnya?."


Andra tak habis pikir dengan mertuanya, apa dia tak menyadari pesona putrinya yang di gilai banyak lelaki.


Masih segar di ingatannya kala Reni dan mom Maharani saling berebut Zara untuk menjadi menantu mereka, bahkan saat itu Zara sudah putus hubungan dari Revan, hingga dengan terpaksa Andra mengatakan bahwa mereka sudah bertunangan.


Itu ia lakukan agar Reni tak lagi terus mengharap pada Zara.


"Ndra? Apa kau masih di sana? Apa kau menghubungiku malam-malam hanya untuk menanyakan hal yang tak penting ini?."


Bahkan kebaikan Reni pun membuat hatinya tak tenang.


"Ehm sudah lah Yah, aku akan krmbali ke kamar, maaf kalau sudah mengganggumu."


"E haiss sialan, dasar menantu tak tahu sopan santun, main tutup telepon tanpa pamit...!!" Gunawan mengumpat di ujung telepon meski sang lawan bicara sudah menutup ponselnya.


Andra baru bisa memejamkan matanya menjelang pukul dua pagi, hatunya di landa resah dan merasa tak tenang.


Dan itu ber imbas pada rasa pening di kepalanya.


Terdengar gemericik suara air dari kamar mandi, jika biasanya Andra akan menyusul ikut mandi dengan penuh semangat, tapi kali ini ia begitu enggan beranjak dari kasur.


Zara muncul dengan bathrobe dan tangam masih mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, anak rambut yang menjulur basah ke lehernya biasanya akan membuat Andra bergairah, tapi itu terjadi jika tubuhnya dalam keadaan sehat.


"Kenapa Babe? Kau sakit?" tanya Zara.


"Heum" suara berat Andra terdengar serak dari balik selimut.


"Kau demam Babe" Zara menempelkan telapak tangannya di kening sang suami, dan terasa suhu badannya lebih hangat dari biasanya.

__ADS_1


Zara bergegas mengganti bajunya lalu pergi ke luar kamar untuk mengambil air panas untuk mengompres Andra.


Pria tampan yang tampak lemah tak berdaya itu hanya bisa pasrah saat handuk basah itu menempel di keningnya.


Sebenarnya Andra begitu enggan tak tak betah dengan metode yang Zara gunakan, selain basah juga keningnya terasa lebih panas.


"Sst diamlah, ini sangat efektif Babe, Dewi selalu mengompresku jika aku demam seperti ini" jelas Zara lembut, memang metode yang ia lakukan sedikit kuno karena jaman sekarang sudah tersedia alat kompres instant yang praktis dan tersedia di banyak mini market atau pun warung.


Hanya dengan menempelkan selembar kain di kening maka demam akan terserap ke dalam kain tersebut.


Tok tok tok.


Ceklek.


Maharani muncul dari pintu dengan wajah panik, lalu berhambur ke sisi ranjang dan menempelkan tangan ke kening sang putra.


"Kau demam nak? kita ke dokter ya.."


Maharani cemas karena putranya sangat jarang terkena demam.


"Tidak usah mom, aku hanya perlu istirahat" ujar Andra menirukan alasan yang di pakai saat Zara sakit.


"Tapi demam mu sangat tinggi ayo lah kita ke dokter" bujuk Maharani.


Andra menggeleng pasti, turun harga dirinya jika ia kalah dengan sang istri.


"Biarkan aku tidur dulu Mom, pasti nanti sembuh" Andra berucap lirih.


Maharani menarik nafas berat kalu pergi dari kamar.


"Baiklah Mommy akan suruh pelayan buatkan bubur untukmu, Ra...tolong jaga anak bandel ini, kalau nanti masih demam cepat hubungi mommy ..."


"Iya mom.."


Sementara itu di tepi sebuah kolam renang hotel, Sandy keluar menyembulkan kepalanya dari dalam air kolam, renang tiga putaran sudah cukup untuk menjaga staminanya, ia pun beranjak naik ke tepi kolam dan menyambar handuk lalu melilitkannya di pinggang, menyisakan otot six packnya yang menghias perut kekarnya.


"San..aku jenuh tinggal di hotel terus" rengek Fitri yang sedang merebahkan tubuhnya di kursi kolam dengan bathrobe dan sunglasses bertengger di hidung mancungnya.


"Lalu kemana yang kau inginkan honey apa kita ke luar negri?" tanya balik Sandy.


"Apa di bali ada hotel milikmu juga?" tanya Fitri.


"Ada, kau mau yang di tengah kota, atau vila saja, biar kita bisa menikmati waktu berdua dengan leluasa?" ucap Sandy sambil mengedikan alisnya.

__ADS_1


__ADS_2