Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*77


__ADS_3

Andra terus saja menggenggam tangan Zara erat.


"Kak, lepas ih, malu di liatin banyak orang" bisik Zara berusaha mengurai genggaman Andra.


Di sebuah cafetaria kini mereka berada.


"Kenapa senyam-senyum kak?" tanya Zara.


Andra masih merasa desiran di dadanya kala benda kenyal Zara menempel pada punggungnya.


Tak biasa mengendarai motor matic membuat Andra melajukannya dengan kecepatan tinggi, jika biasanya motorsport melaju gagah membelah jalanan, dengan motir matic milik Zara, tubuh Andra yang tinggi tegap bagai mengendarai motor mainan anak-anak.


Zara beberapa kali memukul punggung Andra karena jantungnya berdebar kencang saat motor matic melaju sangat kencang.


Bukan mengurangi kecepatan, tapi Andra semakin kencang melajukan motor matic milik Zara.


Tak ayal gadis itu semakin menempelkan tubuhnya di punggung Andra yang membuat kedua benda kenyal miliknya lekat di punggung sang pria.


Gelenyar aneh yang merambat menjalar ke seluruh tubuh Andra, seiring dengan teriakan nyaring Zara di telinga juga goyangan yang menempel di punggungnya, sungguh membayangkan saja sudah membuat benda tumpul miliknya menegang di bawah sana.


"Kak pelan kaaaak" teriakan Zara di acuhkan Andra, seringainya lebar yang tak akan terlihat oleh gadis itu.


"Biar cepat sampai Ra."


Cepat sampai gundulmu, iya cepat sampai yang ada di jemput sama malaikat maut, geram Zara.


Masih dengan dada naik turun mengatur nafas, Zara duduk di cafetaria.


Ada yang mau di bicarakan, ucap Andra saat Zara menanyakan kenapa mereka berhenti di tempat tersebut.

__ADS_1


Jus sirsak di pilih Zara dan caramel machiato menjadi minuman penyegar Andra.


"Ra, gimana kerjaan di butik, apa kamu betah?"tanya Andra.


Zara mengangguk pasti, meski ada perlakuan karyawan yang terus menguji emosinya namun Zara masih bisa mengatasinya.


"Mulai besok mommy minta kamu untuk gantiin mbak kasir di resto pusat."


"Hah di resto, bukannya sudah ada kasir di sana, lalu di butik gimana?"


"Embak yang di bagian kasir sedang cuti hamil, dan nggak ada yang bisa ngoperasikan komputer di resto jadi mommy pikir kamu aja yang gantiin sementara, kasihan Ra embaknya sudah hamil tua takut kalau terjadi kontraksi di resto saat sedang kerja, kan bahaya Ra" tutur Andra penuh dramatisir di bumbui dengan wajah tampannya yang ia rubah mode melas.


Zara diam termenung, jika ia menyanggupi untuk pindah ke resto, lalu bagaimana kelanjutan kasus gaun yang kancingnya ilang di butik, batinnya.


"Giman Ra, kasihan embaknya kakinya juga sudah bengkak-bengkak." Andra semakin mendramatisir kalimatnya agar Zara semakin percaya, meski kenyataannya si embak sedang dalam keadaan sehat wal'afiat bahkan segar bugar.


Andra yang paham dengan kelembutan hati Zara menggunakan kelemahan gadis itu , agar mau menerima permintaannya yang mengatas nama kan perintah sang mommy.


"Nggak bisa Ra, harus kasih keputusan sekarang agar bisa meng informasi embak bahwa mulai besok dia sudah boleh cuti" Andra semakin tak mau keinginannya mendapat penolakan.


"Ehm.."Zara bingung, karena jika dia pindah besok, bukan berarti ia lari dari tanggungjawabnya, lari dari kesalahan yang memang bukan dirinya yang membuat.


Dan nama baiknya tentu saja akan semakin buruk di mata orang lain.


Namun ia juga tak bisa menolak permintaan tante Maharani.


Zara sungguh berada dalam dilema, andai saja hari ini tak ada kejadian yang akan mengancam nama baiknya di butik sudah tentu Zara akan langsung menerima perpindahan kerjanya.


"Ayo lah Ra, kamu di resto aja."

__ADS_1


Zara menganggukan kepalanya perlahan, mungkin kerja di resto bisa membuatnya berkesempatan untuk menyelesaikan masalah di butik, jika sift dua maka ia akan ke butik, pikirnya.


Iyess, sorak Andra dalam hati.


Motor matic melaju membelah kota menuju apartemen Zara.


Andra terpaksa membiarkan Zara pulang sendiri karena mommy menyuruhnya pergi ke resto pusat untuk mengambil buku catatan data keuangan yang tertinggal.


Untuk mengejar waktu, sengaja Andra memakai jasa ojek online.


Zara mempercepat laju motor karena tetesan air hujan mulai membasahi tangannya.


Nafasnya tersengal, akhirnya sampailah di parkiran gedung apartemen.


Langkah Zara cepat menuju pintu lobi, ia ingin segera membersihkan tubuhnya yang lengket dan gerah.


"Ra, tunggu" teriakan seseorang menghentikan langkah Zara.


Revan, batinnya.


"Ra aku mau bicara."


"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi." Zara mempercepat langkahnya.


"Ra ini terakhir kali aku meminta kau menjawab pertanyaanku, dan tak akan lagi aku mengganggumu?" Revan berucap lirih.


Zara membalikan tubuhnya, keduanya kini saling bertatap.


Revan menatap Zara intens, gadis yang pernah mengisi hatinya, bahkan hingga detik ini hatinya masih utuh milik Zara.

__ADS_1


"Katakan apa yang ingin kau ketahui?" nada ucap Zara tenang, namun sebenarnya dadanya bergemuruh kencang.


__ADS_2