
Setelah menyudahi makannya, Revan segera ke kamar untuk menelepon sang asisten laknatnya.
"Bos apa kita tidak sebaiknya bicara langsung saja?" tanya Roy di ujung telepon.
"Tapi gue belum bisa keluar Roy, lu tahu kan ibu gimana, memang kenapa kalau lewat telepon?"
"Ya nggak gimana-gimana bos, takutnya bos nanti nggak ngerti sama penjelasan saya."
Revan meremat benda persegi panjang tersebut, bisa-bisanya sang asistenya sendiri meragukan kemampuan otaknya.
"Lu pikir gue lemot banget gitu hah, sialan lu."
"B bukan begitu bos, maksud saya, ceritanya panjang dan rumit deh pokoknya."
Revan menarik nafas panjang, ibunya tak akan membiarkannya keluar dari rumah saat ini.
"Baiklah besok saja kita ketemu di kantor."
"Oh bos sudah mulai masuk besok?"
"Sebenarnya ibu masih melarang, tapi gue akan berusaha meyakinkannya."
"Baik bos oke."
"Ehm sebenarnya apa benar yang Zara katakan Roy?" nada suara Revan terdengar lirih, mengingat kalimat yang Zara katakan membuat dadanya kembali terasa sesak.
"Ehm mending besok saja bos ceritanya, bos tidur saja, istirahat yang banyak, pasti saya akan jelasin semuanya lengkap" Roy yang menyadari nada bicara bosnya berubah rendah dan bergetar, segera mengalihkan pembicaraan, tak ingin terjadi hal yang hampir membuat atasanya pergi ke alam lain.
Roy menutup ponsel segera, tak lagi ia hiraukan rasa penasaran atasannya
Dari getaran nada bicaranya, Roy dapat memastikan bahwa Revan masih nelum sepenuhnya pulih dari kejadian yang membuat dunianya seakan runtuh.
Roy tahu, sedalam apa cinta majikannya pada gadis model itu, bahkan berulang kali ia menolak saat Zara berniat memutuskan hubungan.
Revan selalu menceritakan semua kisah cintanya pada sang asisten, tentang rasa cintanya dan tentang semua kasih tulusnya pada Zara, seorang gadis yang berhasil menyembuhkan hatinya setelah hubungan cinta pertamanya kandas.
Roy masih teringat jelas, Revan begitu bahagia saat perasaannya di terima oleh Zara, meski saat itu Revan tahu seperti apa berita tentang seorang Zara, yang di kenal sebagai seorang model yang sering gonta ganti pacar.
Meski belakangan Roy ketahui bahwa berita itu tidak sepenuhnya benar.
Roy menghela nafas berat, beberapa informasi yang di dapat dari orang kepercayannya, ia mendapat dua lembar foto, satu yang berisi sebuah keluarga kecil dimana sepasang suami istri dan anak kecil berada di tengah mereka.
Dari raut wajah yang ceria, menandakan hidup mereka di liputi kebahagiaan, namun satu keanehan besar terletak pada bagian wajah sang lelaki yang wajahnya tak terlihat karena penuh dengan coretan tinta.
Dan satu foto lagi bergambar lelaki berjas hitam namun Roy hanya bisa merapatkan rahangnya saat orang suruhannya tak menangkap objek dengan angle foto yang bagus.
__ADS_1
Bagaimana bisa ia mengenali pria berjas tersebut jika objek yang di ambil hanya bagian punggungnya.
"Maaf bos, kami terpaksa bersembunyi karena anak buah pria tersebut mengetahui bahwa kami membuntutinya" jawab anak buah Roy kala ia menanyakan angle foto yang akan membuat Revan murka jika melihatnya.
Rupanya, pria per jas tersebut tak lain adalah pria yang berada dalam foto di lembar pertama.
Roy memasukan foto ke tas kerjanya, besok Revan sudah mulai bekerja jadi ia akan memberikan foto berharga itu padanya.
Pagi hari Revan dengan penuh semangat berkaca di depan cermin, kemeja putih dengan setelan jas hitam membungkus tubuh atletisnya.
Bukan semangat karena ia sudah mulai bekerja, tapi Revan semangat karena ia akan bertemu dengan Roy dan menanyakan informasi yang telah di dapat anak buahnya.
Tak tok tak.
Reni menyambut dengan senyum hangat di meja makan.
"Mau kemana bu, pagi-pagi sudah rapi?" tanya Revan sambil menarik kursi untuk tempatnya duduk.
"Ya mau antar kamu ke kantor sayang."
"Uhukk uhukk" tenggorokan Revan serasa tersedak sendok yang menyumbat tenggorokannya.
Gawat kalau sampai ibu ikut ke kantor, batin Revan.
"Ah tidak perlu bu, aku sudah sehat, dan tugas di kantor pun masih Roy yang tangani, aku hanya memeriksa saja" tolak Revan.
Revan diam tak berkutik, sungguh kemauan ibunya yang keras tak bisa ia bantah.
Sepanjang perjalanan Revan tak berkata sepatah pun, kepalanya hanya terfokus pada layar ponselnya.
Roy sudah menunggu di ruangannya, bagaimana ia akan bisa bebas bicara, jiika sang ibu selalu di dekatnya.
Reni menyambut sapaan para karyawan dengan senyum ramah, sementara Revan tampak bermuka dingin dan datar.
Sungguh suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja, otaknya bekerja keras mencari alasan yang tepat untuk menjauh dari sang ibu.
Revan ingin mengetahui kisah yang sebenarnya dari Roy.
Ia tak bisa menerima bahwa ia dan Zara adalah saudara kandung.
Ceklek.
"Pagi bos, akhirnya anda datang juga nggak sabar saya mau ce..."kalimat Roy menggantung saat kedipan mata Revan mengarah padanya, sesekali melirik ke belakangnya.
"Bos, kenapa matanya bos?" tanya Roy tak paham.
__ADS_1
Rahang Revan mengeras, memiliki asisten yang lambat dalam berfikir mungkin akan membuatnya mati muda, batinnya geram.
Hanya helaan nafas pasrah yang Revan lakukan.
"Bos..kenapa diam?"tanya Roy lagi.
"Roy tolong aku mau lihat agenda hari ini."
"Lho t tapi bos kata..." hati Roy menciut seketika, nyalinya kini menciut kecil.
Reni beberapa langkah di belakang tengah memandang tajam ke arahnya.
Glek.
Mati gue, kenapa tiba-tiba ada ibu suri, batin Roy.
Ia tersenyum kecut sambil membungkukan kepalanya.
"S selamat pagi Nyonya" Roy menundukan badannya
Haduhh semoga saja tidak salah ucap tadi, batinnya.
"Bagaimana tugas selama Revan di rumah sakit Roy?" tanya Reni dingin.
"Semua berkas sudah saya periksa dan tinggal pak Revan tanda tangan, dan meeting hari ini akan di laksanakan sore nanti" Roy menyodorkan buku agenda pada Revan.
"Lalu, apa ada kendala besar yang terjadi selama tak ada Revan?"
"Tidak ada Nyonya."
Revan acuh pada Roy yang tegang dengan pertanyaan yang ibunya lontarkan.
Sesekali ia melirik asisten yang kini wajahnya berubah pucat.
"Bu aku mau ke lapangan dulu, aku mau lihat di bagian produksi yang sering terjadi kerusakan mesin."
Revan meninggalkan ruangan tanpa menunggu persetujuan sang ibu.
Geram rasa hatinya, ia merasa di awasi, meski semua untuk kebaikan namun tak semestinya sang ibu selalu mendiktatornya.
"Roy, ke ruang produksi sekarang!!" pesan yang ia kirim ke asistennya.
"Maaf bos, ibu suri masih berada lima langkah di depan saya."
"Hah ngapain?"
__ADS_1
"Entahlah bos, kedua kaki saya pun sudah terasa kebas, berdiri lama."
"Ya sudah, tunggu gue sebentar lagi" Revan bergegas kembali ke ruangannya.