Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*184


__ADS_3

"Bagaimana Nu, apa anak buahmu sudah dapat informasi?" tanya Gunawan dengan tangan mengepal keras.


"Orang-orang kita sudah mendapatkan sosok target yang mencurigakan Bos."


"Hmm siapa itu?"


"Ada dua orang tamu yang datang membawa kado dengan warna dan ukuran sama seperti kado yang berisi bangkai tersebut, setelah kami telusuri orang tersebut ternyata bukan tamu kenalan dari kedua mempelai pengantin, bukan Tamu Nyonya Maharani, begitu juga bukan dari salah satu klien kita Bos."


Gunawan mengerutkan alisnya.


"Lalu siapa mereka."


"Mereka hanya orang suruhan Bos, mereka penjual makanan kecil disebuah pasar malam dan mendapat tawaran dari salah satu pembeli yang menyuruh mereka agar mengantar kado ke alamat mansion , mereka dengan senang hati mau melakukan karena mendapat upah besar jika mereka berhasil mengantar kado tersebut."


Gunawan menganggukan kepalanya mengerti.


"Licik juga cara mereka" umpat nya.


"Lalu kalian tahu siapa orang yang telah menyuruh mereka?" tanya Gunawan lagi.


"Sayangnya mereka tak mengenal ciri-ciri orang tersebut Bos, karena saat itu malam hari dan sedang banyak pembeli, kebetulan di daerah tersebut tak ada kamera pengawas satu pun yang berfungsi."


Sementara itu di mansion, Andra sudah bersiap menuju apartement miliknya tanpa Zara, karena lelah dan kurangnya istirahat membuat Zara merasa tak enak badan.


Pagi hari pusing kepalanya hanya sedikit terasa namun semakin hari beranjak siang rasa pening kepalanya semakin bertambah.


"Tak apa kau ku tinggal sendiri sayang?"


"Heum, aku hanya ingin istirahat tenang, pergilah, aku baik-baik saja."


"Minumlah dulu vitamin dan obat sakit kepalamu, atau kita ke dokter dulu?"


"Tidak perlu, aku benar-benar hanya butuh istirahat, itu saja" ucap zara meyakinkan Andra.


"Baiklah, aku pergi ..tak akan lama, muacch."


Andra menarik nafas panjang, tak tega rasanya meninggalkan sang istri dalam ke adaan tak sehat, tapi memang ia harus segera mengusut kasus kado misterius itu hingga tuntas.


Zara melambai tangannya dan memejamkan matanya kembali.


Namun belum juga Andra keluar dari kamar, pria itu sudah berbalik dan kembali duduk di tepi ranjang.


"Sayang, ayo kita ke dokter dulu, ...aku tak akan tenang kalau kau seperti ini" ucap Andra hangat sambil mengusap kening sang istri.

__ADS_1


"Babe, aku hanya pusing sedikit, ini sudah biasa aku alami saat di apartement dan kau tak perlu cemas, nanti juga sembuh setelah aku bangun tidur" Zara sungguh tak habis pikir dengan ke cemasan suaminya yang berlebihan menurutnya, hanya rasa pusing biasa, sama seperti saat ia akan mengalami masa periodenya, ia membatin kesal.


Andra tak juga beranjak dari duduknya bahkan kini tangannya memijit kaki Zara dengan lembut.


"Babe, kapan kau akan berangkat?"


"Nanti setelah kau tidur."


Zara menghela nafas kasar, ia mana bisa tidur jika Andra terus duduk dengan gelisah sambil terus bertanya tentang ke adaannya.


"Babe aku hanya bisa tidur nyenyak jika pelaku yang memberi kado misterius itu tertangkap pelakunya, maka itu cepatlah selesaikan urusanmu"hardik Zara dengan sedikit kesal.


Glek.


"Kau mengusirku Sayang?"


"Iya.." jawab Zara ketus.


"Baiklah aku pergi..tapi..."


Mulut Andra kembali tertutup rapat saat Zara meng isyaratkan untuk segera meninggalkan ruangan tanpa alasan apapun.


"Aku akan cepat pulang..." ucap Andra sambil membuka pintu.


Ceklek.


Zara menutup pintu kamar dan langsung mengunci nya.


Punya suami yang sedikit posesif memang kadang menguji kesabarannya.


Andra bergegas ke apartement dengan mengemudikan kereta besinya berkecepatan tinggi, tiga anak buah kepercayaannya Do, Re dan Mi sudah ia suruh untuk berkumpul di apartement setelah terlebih dahulu ia mengirimkan pesan tentang kasus kado misterius yang menggegerkan mansion.


"Langsung pada intinya, aku tak punya banyak waktu, cinta ku sedang sakit di mansion...apa yang sudah kalian dapatkan?" tanya Andra tanpa basa-basi.


Do, Re dan Mi hanya bisa saling pandang jengah karena memang mereka semua masih jomblo, dengan kalimat yang Andra ucapan secara tak langsung membuat hati mereka tertampar.


"Maaf Bos sebelumnya kami ucapkan selamat atas pernikahanmu, dan untuk tugas yang tadi pagi kau kirimkan...kami mendapat informasi dari rekaman CCTV dari pintu masuk mansion, kami melihat ada dua orang yang datang dan pergi dengan jarak waktu yang singkat jadi di pastikan mereka hanya datang untuk memberi kado dan langsung pulang bos" terang Si Do.


"Lalu kau sudah cari siapa mereka?"


"Mereka hanya orang suruhan Bos, otak pelaku belum kami dapatkan informasinya."


Andra mengerutkan alisnya menandakan otaknya sedang berfikir keras.

__ADS_1


Sedangkan Zara yang merasa bosan di kamar mansion pun mencoba mengalihkan pikirannya dengan jalan keluar kamar.


Dan pandangannya kini terfokus pada tumpukan kado di ruang tengah mansion.


Ia tiba-tiba teringat kado pemberian Reni yang belum ia buka.


Ceklek.


Ia kembali memasuki kamar dan mengambil kado di atas nakas.


Seketika mulutnya membulat, kado tersebut ber isi satu set perhiasan bertahta kan permata begitu indah dan cantik.


Kalung, anting dan cincin yang di taksir berharga hingga ratusan juta.


Zara tahu dan sedikit paham, benda berharga yang sering di sebut sebagai sahabat terbaik wanita itu tampak berkilauan indah di terpa cahaya lampu.


Meski itu adalah pemberian tapi Zara merasa berat untuk menerimanya, benda itu terlalu mahal bagi nya.


"Iya Wi, ini semua dari ibunya Revan, gimana dong Wi" Zara menghubungi Dewi untuk minta pendapat.


"Ya tapi kan memang sudah Tante Reni berikan padamu Ra, dan ku yakin ia memberi dengan ikhlas" jawab Dewi jujur.


"Tapi apa tak sayang Wi, coba Lu pikir, perhiasan berharga ratusan juta ia berikan cuma-cuma sebagai hadiah."


"Terus mau Lu gimana Ra, mau balikin lagi, apa nantinya Tante Reni tak akan sakit hati, lagi pula dengan harta yang ia punya, Gue rasa uang segitu bukan masalah besar baginya, apalagi ia mungkin juga merasa itu pantas buat Elu."


"Entahlah aku akan bicarakan hal ini sama Ayah dan suami Gue" ujar Zara.


Tok tok tok.


Ceklek.


"Eh sudah Wi suami Gue dateng udahan ya" Zara menutup sambungan telepon sepihak, membuat Dewi di ujung telepon mengumpat panjang.


"Siapa sayang, kenapa kau sudahi ngobrolnya?" tanya Andra.


"Itu Dewi, udahan kok ngobrolnya."


"Bagaimana pusingmu sayang" tanya Andra seraya memegang kening sang istri.


"Dingin kan, aku bilang juga apa, pusingku itu tak rewel, nggak perlu harus ke rumah sakit, cukup ku bawa tidur pasti kabur deh itu pusing kepalaku" terang Zara penuh percaya diri.


Andra tersenyum smirk, berarti malam ini si Udin nggak bakal kedinginan lagi, ia membatin.

__ADS_1


Ia pun melangkah ke kamar mandi dengan penuh semangat.


__ADS_2