Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU *47


__ADS_3

"Sorry hp gue lowbat, gue ada di bengkel bareng dia."


Pesan yang tak terlalu panjang namun dapat membuat panas di hati Andra kini makin naik ke ubun-ubun.


Juned dengan senyum ceria minta di tabok, berswa foto bertiga dengan Zara dan Diego, bahkan jarak wajah ke tiga nya hanya berjarak beberapa centi.


Tangan Andra meremas kemudi dengan kencang, bahkan buku-buku tangannya sampai memutih.


Sialan kenapa dada gue jadi panas begini, Andra membatin.


Gemuruh dalam dada yang tak pernah di rasakannya, entah rasa apa yang dapat Andra deskripsikan.


Seperti mainan kesayangan seorang anak yang di rampas dari tangannya, itulah yang di rasakannya saat ini.


Tapi benarkah Zara pantas di samakan dengan sebuah mainan?, perang batin Andra kini semakin membuat suasana hatinya tak menentu.


Sikap posesif yang kini akan timbul jika ada orang lain yang mendekati Zara, apakah di hatinya mulai timbul perasaan yang belum pernah ia miliki selama ini.


Dadanya terasa sesak saat melihat Zara berdekatan dengan Revan, bahkan hatinya pun ikut merasakan sakit saat melihat air mata jatuh membasahi kedua pipinya.


Rasa bahagia bahkan di rasa Andra saat sang ibu memeluk Zara dengan hangat karena menganggap Zara lah yang akan menjadi menantunya.


Apakah rasa untuk memilki seorang Zara adalah salah, apakah rasa ingin melindungi gadis itu juga tak benar, sedangkan status yang saat ini mereka jalani adalah sebuah permainan semata.


Benarkah ia terbawa perasaan hingga rasa itu datang seiring seringnya ia bertemu dan berdekatan dengan gadis itu.


Andra menggelengkan kepalanya cepat berharap perang batin dalam kepalanya menghilang.


Yang ia tahu saat ini hanya rasa ingin melindungi gadis itu, seperti perjanjian pertama kali mereka bertemu.


Andra akan membantu Zara agar terlepas dari Revan, dan sebaliknya, Zara akan membantu Andra agar sang mommy tak terus menerus menjodohkannya dengan putri sahabatnya.


Andra ingin menolak perasaan aneh yang kini selalu timbul saat berada dengan dekat dengan zara, namun hatinya tak dapat berbohong.


Gadis itulah yang sudah membuat harinya berwarna, dan penuh semangat.


Di hentikannya mobil di samping cafe, lambaian tangan Juned ia acuhkan, bahkan senyum Diego pun tak di lihatnya.

__ADS_1


Matanya hanya tertuju pada sosok wajah yang selalu mengganggu tidurnya, yang selalu membuat debaran jantungnya tak karuan, dan yang membuat senyumnya terbit tanpa ia sadari.


Zara menatap ke arah Andra, untuk sesaat keduanya saling bersitatap tajam.


Netra bening Zara yang teduh memandang Andra dengan lembut, tatapan yang beberapa minggu ini selalu ia rindukan di kala jarak mereka tak bertemu tatap.


"Sorry bro baru bisa hubungi elu, pons..." Juned mencelos saat Andra membuang muka ke arah lain.


Juned hanya bisa menelan saliva yang bagai tercekat di lehernya.


Glek.


Zara hanya menatap ketiga pria di dekatnya bergantian.


Aura panas penuh ketegangan kini memenuhi ruangan berukuran tiga kali enam itu.


Di sambarnya minuman kaleng di atas meja lalu meminumnya, dalam sekali teguk maka tandaslah seluruh cairan manis itu masik ke perut Andra.


"Ehm hmm" Diego mencoba mencairkan suasana dengan deheman singkat bak keselek kodok.


"K kak ada apa ini?" tanya Zara.


Andra masih setia pada pendiriannya yaitu 'Diam adalah emas' padahal dalam hatinya sedang bergemuruh kencang.


"Sorry Ra, gue minta lu datang ke bengkel ini untuk menjadi saksi dengan apa yang akan kami ungkapkan padanya" terang Juned lalu mengalihkan pandangan pada Diego.


Kini ganti Diego yang kebingungan.


"Apa maksudnya, apa yang mau lu ungkapin?" tanya Diego tak mengerti.


Juned lalu menjelaskan semua tanpa kurang dan tanpa tambah.


Tentang siapa sebenarnya sosok seorang Anto.


Pria yang di tolongnya ternyata tak lain hanyalah seorang srigala berbulu domba.


"Apa benar semua yang kalian katakan?" Diego masih tak dapat mempercayainya.

__ADS_1


"Haiiisssh"


Pletakkk.


"Aaakkhhh"


"Kak.."


"Bro, apa yang baru lu lakuin, gila lu?"


Zara dan Juned sama-sama terkejut dengan sikap Andra yang tak ada angin dan tak ada badai, mendaratkan telunjuknya menyentil kening Diego dengan keras.


"Biar otaknya segera sadar dari ilmu hitam yang bercokol di kepalanya" jawab Andra santai tanpa rasa dosa sedikitpun.


"Isshhh" sementara Diego mengusap keningnya yang terasa panas karena sentilan Andra.


"Ya enggak gitu juga kak, kasihan kak Diego" Zara mengangkat tangannya hendak mengusap kening Diego, namun gerakan tangan Andra menahan lebih cepat hingga tangan halus Zara tertahan oleh genggaman Andra.


"Nggak perlu, cuma sentilan ringan, nggak bakalan kerasa." ujar Andra masih santai.


Sementara Diego pun pasrah dengan sikap Andra.


"Sudah di ceritain dengan saksi dan bukti nyata, masih aja lu bilang nggak percaya sama kita?" tanya Andra sinis menatap Diego.


Diego hanya diam, bukannya dia tak percaya, hanya hatinya belum dapat sepenuhnya menerima kenyataan jika orang yang selama ini ia perlakukan dengan baik ternyata malah menusukan pisau berkarat di punggungnya.


"Kalau lu masih nggak percaya apa lebih baik kita tanya langsung sama mantan bosnya aja Ra?" tanya Juned, membuat Andra dan Zara saling tatap.


"Tidak..!!"


Brakkk.


"Eh buset monyong" pekik Juned spontan saat Andra menggebrak meja dengan keras.


💦💦💦💦💦💦


Terima kasih sudah mampir di novel recehku ini, tolong tinggalkan jejak dengan like, koment dan vote yaa 😍😍😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2