Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
Thu 41


__ADS_3

Revan memasuki ruangannya setelah informasi dari Verdy sudah di dapatnya, meski masih ada beberapa ganjalan yang masih menganggu fikirannya.


"Roy apa hari ini ada meeting?" tanya Revan sesampainya di perusahaan.


Roy menatap bingung sang CEOnya.


Bukankah dia sendiri yang mengatakan meeting di undur setelah makan siang, kenapa sekarang malah jadi anemia, gerutunya.


"Sebentar lagi meeting akan di laksanakan tuan."


Revan menaikan alisnya dan terlihat agak terkejut.


"Kenapa kau tak bilang Roy"


"Hah"


Roy menggaruk kepalanya yang tak gatal, apa bosnya baru terkena benturan di kepalanya hingga menyebabkan salah satu urat syaraf yang terhubung dengan memori nya putus mendadak, batin Roy.


"Ehm sudahlah, kau siapkan berkas untuk meeting sebentar lagi , aku akan kesana"


Roy hanya termangu melihat sikap absurd sang bosnya.


Sementara itu Andra melangkah menuju mobilnya yang terparkir di garasi, dengan kecepatan sedang, ia melajukan kereta besinya menuju bengkel Diego.


Tak seperti biasanya, bengkel itu terlihat sepi.


"Ehm hmm" suara deheman pemilik bengkel menyambut Andra dari balik pintu kaca.


"Lu ada teman datang bukannya di sambut dengan ramah, malah ngumpet di kolong meja" rutuk Andra.


"Cihh, lagak lu kaya tamu agung aja minta di sambut, nohhh mau gue sambit pake arit."


Diego kembali fokus pada laptop di depannya.


"Isshh lu emang teman laknat Nyong, eh tumben sarang lu sepi?"


"Sialan, emang gue tawon" sungut Diego kesal.


"Ya kan sama aja, tawon mempunyai sarang untuk menyimpan madu yang di hasilkannya, nah bengkel elu kan nge hasil in uang, sama aja, lebah nyimpan madu di sarangnya dan elu ngimpen uang di bengkel ini"terang Andra asal.


"Serah lu dah, lagi males gue ngobrol."


"Hah tumben amat elu males ngomong, biasanya elu yang paling gacor" rikas Andra dengan senyum sinis.


"Bengkel gue semalem kebobolan tamu tak di undang."


"Hah, maling maksudnye?" tanya Andra polos.


Diego mengangguk kesal.


"CCTV yang di pasang di beberapa sudut tampak rusak, rupannya pencurian itu di lakukan oleh profesional dan ter rencana."


"Terus lu udah laporan ke pihak berwajib?"

__ADS_1


"Males gue, toh nantinya laporan gue cuma jadi tambahan berkas di lemari gudang mereka"


"Emang apa aja yang mereka pinjem?"


Diego menoleh dengan kedua alis menyatu.


"Pinjem?"


"Iya mereka pinjem tapi nggal bilang." jawab Andra santai.


"Kalau pinjem mah pasti balik lagi Nyong."


"Ya kali aja mereka cuma pinjem, lalu besoknya di balikin lagi, itu juga kalau bisikan malaikat raqib di denger telinga mereka."


Diego hanya menggeleng pasrah.


"Berapa kerugian lu?"


"Lumayan."


"Trus, lu nggak laporin ke polisi lu bakal diem-diem bae nunggu mereka dapat hidayah lalu balikin barang yang mereka ambil." Andra berucap kesal dengan sikap pasrah sang sahabat.


"Lalu harus gimana lagi, semua CCTV tak berfungsi, gue mau dapet bukti dari mana lagi Samsuuuul?" ucap Diego kesal.


"Mana laptop lu?"


Diego diam menatap sahabatnya dengan tatapan tak paham, lalu menyerahkan laptop yang ada di hadapannya.


Diego diam memperhatikan sahabatnya yang memang mahir mengotak atik laptop.


"Ehm gue perlu laptop milik gue" ucap Andra dengan wajah serius.


Andra bergegas keluar dari bengkel meninggalkan Diego yang memandangnya dengan heran.


"Eh Nyong lu mau kemana?"


"Ngambil laptop gue bentar."


"Apa nggak bisa lu nyuruh pengawal lu aja, deket ini."


"Kagak ada yang boleh pegang laptop gue selain gue."


Nada dingin yang Andra ucapkan membuar Diego mengkerut.


"Ehm, oke gue akan tunggu lu di sini" ucap Diego pasrah.


Dalam hal retas meretas, memang Andra lah paling jago di antara mereka bertiga.


Tak lebih dari satu jam, akhirnya Andra datang kembali dengan laptop di jinjingan tangannya.


Diego masih diam memperhatikan apa yang Andra lakukan.


Sebuah alat berbentuk kotak kecil yang di keluarkan Andra dari saku celananya lalu memasangkan ke laptop milik Diego.

__ADS_1


Andra yang fokus pada laptop tak menyadari saat Diego keluar dari ruangan.


"Gimana kabar lu?" rupanya Juned pun segera berangkat ke bengkel Diego setelah mendapat informasi dari salah satu karyawannya yang mengatakan bahwa sahabatnya mengalami perampokan.


"Ehm gue sih baik, cuma mesin ATM gue yang nggak baik-baik saja" jawan Diego lesu, beberapa peralatan penting di gondol maling tak berperasaan hingga kini bengkelnya terpaksa berhenti beroprasi sementara.


Juned menyisir ruangan bengkel, masih terlihat rapih meski beberapa peralatan sudah tak ada lagi di tempatnya semula.


Kedua tangannya mengepal keras, hatinya ikut trenyuh, usaha kecil yang ia rintis bersama sahabatnya itu baru berdiri belum setahun, namun sudah aja saja manusia licik yang hendak mematikan usahanya.


"Lu udah lapor kejadian ini?"


Diego menggeleng pasrah, lalu menceritakan semua kejadian yang di alami bengkelnya pada Juned.


Kini harapannya hanya ada pada Andra, karena pihak berwajib pun akan mengalami kesulitan jika harus mengusut kejadian yang di alaminya, pencurian yang mungkin di lakukan dengan persiapan yang matang hingga tak ada bukti apapun yang tertinggal.


"Andra mana?"


Diego mengedikan dagunya ke arah ruangan di sebelah bengkel.


"Gimana Ndra, apa yang lu dapet?" tanya Juned pada Andra yang masih fokus dengan laptopnya.


"Bentar lagi"


"Karyawan lu mana?" tanya Juned oada Duego.


"Gue suruh balik, percuma bengkel buka, kalau nggak ada alatnya" jawab Diego masih memendam kekesalan hatinya.


Dua karyawan yang datang pagi tadi terpaksa ia pulangkan karena memang semua peralatan penting sudah raib.


"Sudahlah, ayo kita makan dulu."


Juned yang berfikir cepat jika sahabatnya itu pasti tak akan memikirkan perutnya yang kosong karena kejadian yang sedang menimpanya.


Beberapa bungkus makanan sengaja ia bawa dari cafe untuk di makan bersama.


"Woy, Ndra isi bensin dulu?" Juned memperagakan gerakan tangan menyuapi mulutnya.


"Sip" Andra menjawab singkat dengan jempol terangkat, namun mata masih fokus ke layar monitor.


Perut yang memang sudah berdemo sejak pagi karena melewatkan sarapan membuat Diego menghabiskan makan dengan lahap.


"Woy Put, makan dulu, kagak mau gue di salahin mommy mu gara-gara putra kesayangannya sakit peyut karena kelaparan" teriakan Juned sontak membuat Andra menatap tajam ke arah sahabat nggak berahlaknya.


"Sialan lu, mulut lemes amat, belum pernah di ***** ikan buntel ya" umpat Andra yang akhirnya ikut bergabung.


"Sorry bro, gue nggak bisa lama di sini, cafe lagi sibuk banget, tar sore gue ke sini lagi" pamit Juned di balas anggukan Diego karena Andra kini tengah sibuk dengan makanannya.


"Lu mau nutup sampai kapan bengkel ini bro?" tanya Andra di sela kunyahan mulutnya.


"Entahlah" Diego menggeleng lesu.


"Gue hanya kasihan pada mereka berdua yang hidup dari ngandelin hasil bekerja di bengkel ini" sesalnya lagi.

__ADS_1


Andra mengrenyit, bayangan potongan adegang di layar laptop mengalihkan perhatiannya.


__ADS_2