Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*161


__ADS_3

"Ayo coba lah, masakan lelaki tua ini sangat enak, bahkan masakan restoran kalah lezat dari masakannya" tawar Gunawan bangga.


Nardi hanya senyum masam di sebut lelaki tua.


"Iya tapi aku sudah kenyang Yah."


"Tidak, itu masih terlalu sedikit nak, lihatlah... tubuhmu sangat kecil, bahkan tiupan anginpun bisa menerbangkanmu."


Zara tersenyum tipis, dan menggelengkan kepalanya menolak dengan halus.


"Perutku rasanya sudah mau meledak Ayah, aku tak sanggup lagi menampungnya."


"Ah kau memang sama seperti ibumu, lambung kalian sangat mungil, baiklah jangan di paksakan."


Ketiga pria lain yang duduk di dekat mereka hanya bisa melempar pandangan, sikap Gunawan sangatlah manis pada putrinya.


Gunawan memandang Zara tak rela saat Andra mengajaknya pulang, anak buah pria itu sudah mengantarkan mobilnya dan makan pun telah selesai.


Bukan maksud hati ingin memisahkan Gunawan dengan Zara tapi kesal rasanya hati Andra saat Gunawan menguasai Zara seakan gadis itu hanya miliknya seorang, sedangkan dirinya tak di beri kesempatan sedetikpun meski hanya berdekatan dan berpegang tangan.


"Hari sudah malam kita sebaiknya pulang sayang" ucap Andra lembut.


"Ck memangnya kenapa kalau sudah malam heum, toh dia bersamaku..Ayahnya" ujar Gunawan sinis.


"Tapi angin malam tak baik untuk tubuhnya Ayah mertua" timpal Andra lagi.


Gunawan berdecak kesal, rasa rindu pada putrinya masih belum tuntas, berat hatinya jika harus berpisah saat ini.


"Nak apakah besok kau sibuk?Ayah ingin mengajakmu jalan-jalan?"


"Besok tak bisa Ayah, ada urusan yang harus di kerjakan untuk mempersiapkan pesta pernikahan."


"Aku sedang bertanya pada putriku bukan padamu" hardik Gunawan kesal.


Cih cerewet sekali pria tua ini, ingin rasanya ku pecat menjadi Ayah mertuaku, umpat Andra dalam hati.


"Ehm mungkin lusa aku ada waktu luang ayah" Zara berucap lembut, wajah melas ayahnya membuatnya tak tega untuk menolak.


"Ehm baiklah lusa kau akan Ayah jemput."


"Apa aku boleh ikut Ayah mertua?" tanya Andra penuh harap.


Manu dan Nardi saling pandang, kedua pria itu saling merebutkan Zara, bagai dua orang bocah memperebutkan mainan kesukaan mereka.


"Aku hanya ingin berdua dengan putriku, kau cari saja kesibukan lain" ujar Gunawan datar.


Andra hanya mencebikan bibirnya kesal lalu menatap Zara meminta persetujuan.


"Ehm bagaimana kalau kita pergi bertiga" usul Zara.


Mata Andra berbinar terang, sebaliknya Gunawan menghela nafas kasar tak rela.

__ADS_1


"Bagaimana Ayah?."


"Baiklah nak, asal kau bahagia apapun akan Ayah turuti" jawab Gunawan pasrah.


Zara dan Andra pergi setelah adegan penuh drama Gunawan yang berat melepas putrinya pergi.


Wajah pria itu berubah murung dan keceriaan wajahnya hilang bersamaan dengan kepergian Zara.


"Hei sudahlah, nggak usah kau cengeng seperti itu, toh lusa kau akan kembali bertemu dengan putrimu lagi" ujar Nardi kesal.


"Kau tak akan bisa merasakan sakitnya berpisah dengan putrimu satu-satunya Di" jawab Gunawan sewot.


"Tapi ini kan hanya sementara Gun, dan besok kau pun masih bisa bertemu dengannya kapanpun kau mau" ujar Nardi, Gunawan kali ini kelewat lebay, tak pantas rasanya pria berbadan besar berjiwa rapuh, umqpt Nardi dalam hati.


Andra akhirnya bernafas lega setelah berhasil membuat Zara terbebas dari sang Ayah.


"Huff, ternyata Ayahmu sangat rapuh sayang, kau tinggal pergi saja wajahnya begitu sedih."


"He he iya lucu yah Ayah" Zara terkekeh.


"Aku senang akhirnya kau bertemu dengan Ayahmu dan bahagia bersama."


"Heum, akupun tak menyangka bisa kembali bertemu dengn Ayah setelah begitu lama kami berpisah, bahkan ku kira Ayah sudah meninggal."


"Huss, jangan begitu sayang.." Andra mengusap puncak kepala sang kekasih dengan lembut.


"Entahlah, ku kira ini adalah mimpi."


"Apa kau bahagia bertemu dengan Ayah?"


"Aku senang akhirnya bisa kembali bertemu ayah dan berkumpul bersama kembali."


Andra memarkirkan kendaraan di area parkir gedung apartement Zara.


"Istirahatlah, besok aku jemput, mommy ingin mengajakmu ke suatu tempat."


Zara mengangguk nurut, lalu berjalan menuju pintu lobi, namun Andra lebih dulu menarik tangan Zara dengan lembut hingga tubuhnya kini berbalik dan masuk ke dalam dekapannya.


"Ehhm aku sangat merindukanmu, sepanjang hari ini Ayahmu sangat menyiksaku, dia tak membiarkan kita dekat sedetik saja" ucap Andra lirih menumpahkan rasa kesal dan rindunya, sambil mendekap tubuh ramping sang kekasih.


Zara memejamkan matanya, menikmati aroma tubuh khas Andra, ia bisa mendengar detak jantung pria itu dengan jelas, ada rasa nyaman di hatinya, dada bidang itu bagaikan sebuah kasur nyaman yang bisa menampung seluruh tubuhnya.


"Jangan pernah kau merasa sendiri di dunia ini, ada aku di sisimu, bahu dan dadaku selalu ada jika kau butuh untuk bersandar, jangan pernah kau berfikir hidup sendiri, cintaku selalu menyertaimu sayang."


Zara menengadahkan wajahnya, meski tingginya seratus tujuh puluh tujuh centi meter tapi Andra bertubuh sepuluh centi lebih tinggi darinya.


Beberapa saat kedua mata mereka saling menatap intens.


"Jangan pernah ragukan cintaku padamu..."


Andra semakin memajukan bibirnya, perlahan kedua bibir mereka menyatu dengan lembut.

__ADS_1


Andra melampiaskan semua hasrat dan rindunya pada sang kekasih, dengan ciuman bibirnya yang menyapa benda kenyal nan hangat bibir Zara.


Beberapa saat keduanya saling bertukar saliva, Zara pun rindu dengan nyamannya pelukan Andra karena sang ayah selalu menguasainya hari ini.


Andra tersenyum puas, sambil mengusap jejak salivanya di bibir Zara.


"Istirahatlah, besok aku jemput" ucap Andra seraya melangkah pergi.


Zara mengangguk pelan dan melambai tangannya.


Dari tempat tersembunyi sosok tampan tampak memalingkan wajahnya, denyut nyeri begitu terasa saat melihat adegan romantis yang membuat hatinya begitu hancur, selama ini tak pernah sekalipun Zara mau berciuman dengannya, meski saat awal mereka menjalin kasih dan saat Zara belum mengetahui tentang Reni Ibunya yang telah membuat keluarganya hancur.


Namun dengan pria itu, Zara terlihat begitu menikmatinya.


Kau memang tak mencintaiku sejak awal Ra, ucap Revan dalam hati.


Revan memang selalu menolak saat Zara meminta untuk putus hubungan, ia berfikir seiring berjalannya waktu, rasa cinta akan tumbuh di hati Zara, namun ternyata ia salah.


Bagaimana cinta akan tumbuh jika tak pernah ada benih yang tersemai.


Revan baru membalikan wajahnya saat terdengar deru suara mobil Andra menjauh.


"Ra tunggu.." panggil Revan sambil berlari ke Zara.


"Aku ingin bicara sebentar..." ucapnya.


"Kenapa Van?"


"Ehm aku hanya ingin mengucapkan selamat padamu, semoga kalian bahagia .."kalimat singkat dan berat akhirnya bisa juga Revan ucapkan.


Dadanya yang begitu sesak tak sanggup lagi untuk meneruskan semua kalimat yang sudah ada dalam kepalanya.


Biarlah waktu yang akan menyembuhkan luka hatinya.


Zara hanya bisa mengangguk saat Revan menjabat tangannya erat untuk terakhir kali, karena esok pria itu memutuskan untuk pergi ke negara S.


Zara membalas lambaian tangan Revan, wajah pria itu terlihat begitu sedih, bahkan tatapannya kosong saat meninggalkannya.


Ceklek.


"Eh baru datang lu, lama banget" sapa Dewi.


"Heum, kenapa?" tanya balik Zara.


"Revan nunggu dari tadi, baru aja gue pulang temenin dia di lobi."


Zara diam membeku di ambang pintu kamarnya.


Jika Revan sudah lama menunggunya, bukan tak mungkin ia telah melihat saat ia berciuman panas dengan Andra.


"M mau apa dia Wi?" tanyanya gugup.

__ADS_1


"Dia mau pamit, katanya mau pindah ke S, perusahaannya mau buka cabang di sana."


Zara menerawang kosong, ada sesal di hatinya, perpisahannya dengan Revan tak seharusnya meninggalkan luka hati.


__ADS_2