
Sebelum makan siang Andra sudah berpamitan pada Zara untuk keluar resto karena ada urusan.
Dengan motor sport miliknya Andra melajukan motor ke satu tempat.
Panasnya terik matahari membuat keringat membasahi baju Andra, dan di depan sebuah rumah sederhana ia menghentikan motornya.
"Permisi Pak, boleh kah saya numpang istirahat di sini sebentar" sapa Andra pada pria paruh baya yang sedang membersihkan cangkulnya di samping rumah.
"Iya silahkan Den, silahkan duduk" jawabnya ramah.
Andra tersenyum senang.
"Jangan panggil saya 'Den' Pak, panggil saja saya Andra" pemuda tampan itu mengulurkan tangannya.
"Saya Nardi, panggil saja Pak Nar" ujarnya mengambut uluran Andra.
"Kenapa motornya Nak Andra?" tanya Nardi.
"Ini Pak, tadi pagi saya lupa menge cek bensinnya, dan saat di jalan tadi mogok setelah saya cek, ternyata bensinnya habis."
Meski sulit di terima akal sehat tapi Nardi tak ambil pusing, mungkin saja memang ia lupa mengisi bahan bakar untuk motor mahalnya itu.
Nardi masuk ke dalam rumah untuk mengambil minum untuk Andra.
"Hanya air putih ini yang bisa saya sediakan, minumlah" ucap Nardi menyuguhkan segelas air bening.
Dan senyum tulusnya terbit saat Andra meneguk habis minumannya.
"Terima kasih banyak Pak" jawab Andra spontan, di cuaca terik ini segelas air bening sungguh sangat berarti.
"Bapak tinggal dulu ke dalam ya Nak Andra" ujar Nardi ramah.
"Iya Pak , silahkan meneruskan pekerjaan Bapak, maaf kalau kehadiran saya sudah mengganggu Bapak Nar" ucap Andra sopan.
"Ah tidak apa-apa, saya malah senang karena ada teman untuk ngobrol."
Andra merebahkan tubuhnya di kursi rotan yang sudah terlihat usang, semilir angin yang sepoy-sepoy membuat matanya terasa berat.
Letak rumah Nardi yang cukup jauh dari pemukiman penduduk membuat suasana hening dan nyaman.
Setelah mengirimkan pesan pada Zara, Andra pun memejamkan matanya yang semakin terasa berat.
Satu jam lebih pemuda tampan itu terlelap dalam tidurnya, tak pernah ia merasa tidur se nyaman ini saat di luar kamarnya.
Ia baru terjaga setelah tepukan lembut di bahunya yang membuatnya membuka mata.
"Nak Andra bangunlah, mari kita makan" ujar Nardi pelan.
Andra tergagap, ia mengedarkan pandangan ke sekitarnya yang tampak asing, lalu perlahan kesadaran mulai pulih saat wajah ramah Nardi menyapanya.
__ADS_1
"Bangunlah cuci mukamu lalu kita makan bersama."
Bagai kerbau yang di cocok hidungnya, Andra mengikuti Nardi di belakangnya.
Dan Andra di kejutkan dengan rasa masakan istimewa yang menyapa indra pengecapnya.
Ia menatap Nardi lekat, pria itu dengan tenang fokus mengunyah makannya.
Masakan yang sangat sederhana namun langsung mendapat tempat istimewa di lidah Andra.
"Makanlah yang banyak, hanya ini yang bisa Bapak sajikan"ujar Nardi di tengah mulutnya mengunyah.
Andra mengangguk haru, meski hidup sederhana tapi Nardi begitu ikhlas dalam memberi.
Sayur bening sederhana dan ikan bakar yang mungkin hasil tangkapannya di taman samping rumahnya.
Nardi tersenyum puas, Andra begitu lahap dan semangat, bahkan tak sungkan pemuda tampan itu menambah porsi nasinya.
"Pak, masakan ini sungguh enak, apa Bapak pernah belajar kursus masak?" tanya Andra
penasaran.
Beberapa chef di restoran miliknya memiliki ketrampilan memasak karena memang mereka terlebih dahulu mengikuti kursus masak bahkan ada yang mengikuti sekolah kursus sampai ke negeri tetangga, jadi jika masakan mereka terasa lezat maka Andra pun tak heran.
Namun hatinya mencelos setelah pria paruh baya itu menggeleng kepalanya, masakan se enak itu di masak oleh seseorang dengan otodidak merupakan sebuah mukjizat.
Andra melihat sekilas jemari tangan Nardi, tampak normal seperti tangan pada umumnya, namun rasa yang di ciptakan mengalahkan para chef di restoran miliknya.
"Kalau bisa Bapak lakukan, maka akan Bapak lakukan" jawab Nardi jujur.
"Bisa kah ajari saya memasak?"
Untuk sesaat Nardi terdiam, Andra memandangnya dengan tatapan penuh harap.
"Untuk apa?" pertanyaan singkat namun bermakna luas.
"Aku ingin belajar agar bisa memasak untuk kekasihku" ucap Andra jujur.
"Untuk kekasih?"
Andra mengangguk, lalu menceritakan usahanya kala membuat sebuah nasi goreng untuk Zara, meski semua kemampuan sudah ia kerahkan tapi hasilnya masih jauh dari kata 'cukup enak'.
"Alangkah bahagianya gadis yang menjadi kekasimu nak Andra" ujar Nardi, hatinya menghangat karena ia pun mempunyai keinginan untuk memanjakan sang istri dengan masakannya namun takdir berkata lain, istri tercintanya lebih dulu di panggil oleh Yang Maha Kuasa.
"Bukan dia yang beruntung Pak, tapi saya lah yang sangat beruntung bisa mendapatkan hatinya" Andra mengambil ponselnya lalu menyodorkan pada Nardi.
"Lihatlah, cantik bukan, di antara berpuluh bahkan mungkin ber ratus lelaki yang bermimpi mendapat cintanya, saya lah yang akhirnya bisa mendapatkannya" ucap Andra bangga.
Deg.
__ADS_1
Nardi menatap lekat layar ponsel di tangan Andra.
Ia masih ingat jelas wajah itu, gadis yang sama yang pernah di ajak oleh Manu yang tak lain adalah putri Gunawan.
"Cantik kan dia Pak?" tanya Andra lagi dengan wajah bangga.
Nardi mengangguk spontan.
"Kalian memang sangat serasi" ucapnya jujur.
"Aku ingin membahagiakannya di sisa umurku nanti Pak, aku ingin dia menjadi teman hidupku yang akan menemani sampai masa senjaku bahkan hingga aku menutup mata nanti, hanya dia yang aku ingin, tak ada yang lain." terang Andra panjang lebar, ia ingin melihat raut muka Nardi saat wajah Zara yang tak lain putri Gunawan ia tunjukan.
Namun Nardi sungguh sangat lihat menyambunyikan rona wajahnya.
Nardi melihat netra penuh ketulusan di mata Andra, cinta yang begitu dalam tersirat jelas dari pancarannya.
Rivalmu begitu berat Nu, gumamnya dalam hati.
"Kalau kau ingin membahagiakannya kenapa, kalian tidak segera menikah?."
"Ada hal penting yang harus aku selesaikan dulu, aku ingin kekasihku bertemu kembali dengan Ayahnya agar mereka bisa kembali bersatu."
Andra sungguh berharap Zara bisa berkumpul kembali dengan sang Ayah, dan memaafkan kesalahan yang telah di lakukan oleh Gunawan.
Terdengar suara deru mobil berhenti di sisi jalan di depan rumah.
Andra dan Nardi saling pandang.
Tok tok tok.
Nardi perlahan membuka pintu, lalu menoleh ke Andra, karena merasa tak mengenal sang tamu.
Andra memiringkan bahunya agar bisa melihat sosok di depan pintu yang terhalang tubuh Nardi.
"Oh Elu ..." ucapnya datar, dalam hati was-was, takut jika pesannya tak terbaca oleh Do.
"Sialan Lu, bikin susah orang aja, sudah tau kagak ada bensinnya, masih Lu pakai" ucap Do santai dengan memberi bonus tambahan sebuah toyoran ke kening Andra.
Sialan ini abu gosok, awas aja Lu kalau udah sampai rumah, umpat Andra dongkol dalam hati.
Ia memang sudah berpesan agar Do bersandiwara bahwa mereka bukan Bos dan anak buah, tapi merupakan sahabat dekat.
"Maaf Tuan, dia memang sering nyusahin orang" ujar Do sambil bersalaman dengan Nardi.
Nardi hanya tersenyum ringan dan melihat interaksi kekonyolan keduanya.
Dengan wajah ceria Do mengambil satu galon kecil bahan bakar dari dalam mobilnya lalu menuangkan ke motor Andra.
Hatinya bernyanyi kecil, puas rasanya mentoyor sang Bos meski hanya sebuah sandiwara.
__ADS_1
"Pak Nar saya pamit pulang, terima kasih banyak atas makan siangnya."
Andra menunduk hormat dan bersalaman di ikuti Do pun melakukan hal sama seperti bosnya tanpa tahu di depannya sudah ada bahaya besar menantinya.