Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*181


__ADS_3

Mery memandang Maharani dengan wajah puas, hasil karyanya begitu cocok dan menyatu di tubuh Zara.


"Setelah sekian lama penantian akhirnya kaulah sang pemilik nya" ucap Mery pada Zara.


Tak tok tak.


"Mom, ada Ayah mertua datang" ucap Andra sambil berlari kecil.


Maharani membulat mulutnya begitu pun Mery, selama ini ia hanya tahu nama besar Tuan Awan yang ternyata adalah Gunawan yang sekarang menjadi besannya.


Dengan langkah panjang Maharani menuju ruang tengah Mansion yang sudah selesai di dekor.


Mery meski sama penasaran namun ia harus profesional, ia harus menyelesaikan memasang gaun Zara beserta mahkota yang memang sudah ia rancang satu set dengan gaun.


Maharani menunduk hormat lalu menyalami besannya, pria paruh baya bertubuh tegap dengan setelan jas hitam tampak gagah di pandang.


Di sampingnya seorang pemuda tampan berwajah setengah bule dengan sikap dingin selalu di sampingnya, dialah Manuel alias Manu.


"Ayah.." panggil Zara setelah Mery selesai mendandani nya.


Gunawan tertegun di tempatnya berdiri, wajah cantik putrinya mengingatkan kembali pada sosok almarhumah Nita sang istri.


"Kau cantik sekali nak" ucapnya lirih sambil memeluk Zara.


"Kenapa Ayah baru datang, ku pikir kau akan tega membiarkanku sendiri" Zara menggerutu lirih.


Manu membuang matanya, ia tak ingin terus menatap kecantikan Zara, ia ingin luka hatinya cepat mengering, dengan menghindar darinya itulah cara paling ampuh.


"Maaf nak asistenku ini harus mengambil jas nya dulu yang tertinggal di apartement" jawab Gunawan santai.


Manu hanya memandang dengan mata sinis, ingin ia memecat bos nya saat itu juga.


Gunawan yang entah berapa kali berganti jas padahal warnanya sama hitam dan satu model, entah apa yang membuat pria itu menjadi sangat bodoh hingga harus membuang waktu percuma hanya untuk berganti jas dengan warna dan model yang sama.


Zara melirik Manu dengan senyum tipis.


"Memang kenapa dengan jas mu Nu? Memakai apapun kau akan tetap terlihat tampan" ujar zara jujur.


Cih kalau kau tahu aku tampan lalu kenapa kau tak memilihku? tanya Manu namun hanya ia ucapkan dalam hati karena ia hanya bisa tersenyum masam.


"Memang dia selalu tampan, tak ada asisten yang se tampan dia."


Gunawan menimpali sambil menepuk bahu Manu.


"Ayo Yah, kita berfoto bersama dulu" ajak Zara menarik tangan Gunawan, mereka harus mempersingkat waktu karena para tamu sudah mulai berdatangan.


Sang fotografer mulai memperagakan gaya untuk Zara dan Gunawan.


"Mana suamimu Ra?."


"Dia sedang menemui tamunya Yah" jawab Zara lalu melambai ke Andra agar mendekat.


"Ayo kita foto ber empat dulu" ujar Zara setelah Andra datang.


"Ra, ajaklah Ayahmu makan dulu, nanti semakin banyak tamu datang" ujar Maharani agak berbisik.


"Baik Mom" Zara lalu mengajak sang Ayah ke meja prasmanan.


Maharani sengaja meminta koki restorannya untuk masak di mansion, khusus untuk para tamu pesta yang datang.

__ADS_1


Echa yang memang senang memasak tentu tak ingin kehilangan kesempatan emas, ini lah kesempatan baginya untuk mencuri ilmu dari para chef tersebut, mereka yang memang ramah tentu dengan senang hati menjawab semua apa yang Echa tanyakan.


Jika Echa asik di dapur beda dengan Ikhsan yang ikut sibuk menyambut para tamu yang datang.


Senyum Andra terbit kala wajah kedua sahabat karibnya datang.


Ke tiganya saling beradu kepalan tangan dan saling peluk.


"Selamat bro, akhirnya Lu yang pertama belah duren" ujar Juned jujur.


"Hm thank's bro, ...Lu cepatlah nyusul, biar nanti anak-anak kita main bareng" ujar Andra, karena Juned pernah curhat padanya bahwa ia sedang tertarik pada seorang gadis yang berasal dari kampung kelahiran kedua orang tuanya di tanah sebrang.


"Sialan Lu, dia enak udah ada calon, lha Gue gimana..." protes Diego kesal, karena sibuknya bekerja hingga dia tak memikirkan nasibnya yang masih jomblo.


"Eh tuh, manis juga tuh, kayaknya dia cocok ama Elu, lagian kalian bertetangga" ujar Andra mengedikan dagunya ke arah pintu di mana Dewi dan keluarganya baru datang.


Namun tatapan Diego malah bersarang pada sosok yang berlari kecil menyambut kedatangan Dewi.


Zara dengan gaun nude nya menyambut Dewi dengan senyum manis.


Beberapa detik Diego tak sadar akan matanya yang terus menatap ke arah Zara.


"Sst alihkan matamu, sebelum sang pawang melihatnya" bisik juned menyikut lengan sahabatnya.


Diego hanya tersenyum masam sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, untung saja Andra takmenyadari apa yang ia lakukan.


"Ned Lu tahu siapa dia?" tanya Diego mengedikan dagu ke arah Manu dan Gunawan.


"Itu Tuan Awan, Ayah Zara dan asistennya."


Mata Diego membulat, nama besar Tuan Awan sering ia dengar namun baru kali ini ia melihat wajahnya.


Diego hanya diam membeku, masih belum percaya bahwa Zara ternyata adalah putri Tuan Awan, alias Gunawan.


"Hei makan Yuk" ajak Juned.


Diego mengikuti Juned di belakangnya dengan sesekali melirik ke arah Gunawan, aura pria paruh baya itu begitu besar, bahkan saat dirinya dalam mode berdiri diam pun, mengundang mata orang lain untuk menatapnya.


"Kapan kalian datang Om, Tante" tanya Zara pada kedua orang tua Dewi.


"Kami datang kemarin Ra, oiya selamat berbahagia untuk kalian semoga langgeng" ucap Ayah Dewi.


"Terima kasih atas do'a nya Om dan Tante, dan terima kasih banyak sudah meluangkan waktunya untuk datang kepernikahan kami" ujar Andra hangat.


"Ah, kami yang harusnya berterima kasih pada kalian, kalian sudah begitu banyak membantu kami, bahkan banyak hadiah yang telah kalian beri untuk keluarga kami" ucap Ayah Dewi.


Zara dan Andra hanya tersenyum tipis.


"Om, Tante silahkan makan dulu, Wi ajak mereka makan dulu" ucap Zara pada Dewi.


"Sayang aku ke Juned sama Diego dulu, mereka suka jahil sama tamu-tamu yang cantik."


"Jahil ngapain memangnya Babe?" Zara penasaran.


"Suka nyuri Foto nggak ijin."


Zara mencebik kesal, ya iya lah nyuri foto masa ijin, umpatnya dalam hati.


Zara menundukkan badan sambil mengusap betisnya yang mengeras, berjam-jam berdiri membuat kakinya terasa kaku.

__ADS_1


"Tante sakit ...." Zara sontak berdiri, suara kecil dan lembut menggelitik indra pendengarannya.


Matanya membulat sempurna, tepat di hadapannya, berdiri sosok mungil berwajah imut dan cantik bak boneka india, tengah menatapnya.


"Tante...tante sakit?" tanyanya lagi.


"Ah Tante nggak sakit sayang...Tante hanya cape" jawab Zara gugup.


Zara mengedarkan pandangan ke arah para tamu, dari mana sosok mungil tersebut datang, pastilah dia putri dari salah satu tamu yang datang.


"Sayang mana orang tuamu?" tanya Zara lembut.


Sosok mungil itu hanya menoleh ke arah para tamu yang berkerumun.


"Sini sayang sama Tante..." Zara membungkukan badannya untuk membopong anak tersebut.


"Fira...Safira...."


"Ayah...."


Panggil sosok mungil yang ada dalam gendongan Zara.


Seorang pria bertubuh tegap dan wajah tampan mendatangi Zara.


"Safira...ah maaf Nona, sini nak...Kak Zara nya cape sayang."


Zara tersenyum lalu menyerahkan gadis kecil bernama Safira pada Ayahnya.


Suaranya begitu lembut dan berwibawa, wajahnya pun sangat tampan dan terlihat begitu menyayangi putrinya.


"Maaf Nona, safira lepas dari pengawasan kami..." ucapnya sambil membungkuk hormat lalu menyalami Zara.


"Saya Rangga, selamat atas pernikahan kalian, semoga langgeng dan bahagia, kau sangat mirip dengan Om Gunawan" ucapnya hangat sambil menggendong Safira.


"Terima kasih Om ...Rangga" Zara ragu untuk memanggilnya Om karena mungkin usianya hanya terpaut beberapa tahun darinya.


"Yah ..mana Fira? Ah kau di sini rupanya nak" suara lembut dari arah samping mengagetkan ke tiganya.


Sepersekian detik Zara tertegun, seorang wanita cantik nan anggun mendekati mereka, wajahnya sangan cantik bak bidadari.


Ah pantas saja putri mereka sangat cantik, orang tua mereka bak pangeran dan bidadari, Zara membatin.


"Maafkan putriku Zara..." sapa nya hangat.


"Shanum mamahnya Safira" wanita cantik itu tersenyum hangat dan mengulurkan tangan ke arah Zara.


Zara segera menyambutnya dan menyambut pelukannya erat.


"Kau begitu cantik...Dan mirip Ayahmu" ucap Shanum.


Zara tersenyum simpul, rupanya mereka teman Ayah Gunawan.


"Mana suamimu Ra" tanya Rangga.


"Ehm dia..." Zara memindai ruangan mencari sosok sang suami yang tadi tengah asik bersama kedua sahabatnya.


Tak di sadari oleh Zara dan para tamu, Andra berdiri mematung di tempat yang agak tersembunyi sambil kedua mata terus memandang ke arah sepasang suami istri yang sedang bersama Zara.


"Shanum......"

__ADS_1


__ADS_2