Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*155


__ADS_3

"Kenapa dari kemarin kau tampak tak bersemangat Nu?" tanya Gunawan, wajah Manu terlihat sangat murung dan lesu tak seperti biasanya.


"Tidak Bos, hanya sedikit pusing kepala, kurang istirahat mungkin" jawab Manu se kena nya, lalu melangah keluar dari pintu apartement.


Bagaimana dirinya tidak murung jika mengetahui bahwa gadis yang di cintainya sebentar lagi akan menikah.


Rasanya hancur hati Manu mendengar berita dari anak buahnya, mengerjakan tugas kantor pun tak sanggup otaknya untuk berputar.


"Bos, apa saya boleh ijin tidak masuk hari ini?" tanya Manu akhirnya berbalik lagi memasuki pintu apartemen Gunawan.


"Heum, istirahatlah kalau pusing kepalamu tak hilang segera berobatlah ke rumah sakit."


Manu hanya mengangguk, lalu kembali keluar tanpa semangat.


Gunawan hanya menghela nafas panjang, dari Nardi baru ia tahu kalau Manu menyimpan rasa pada putrinya, bahkan rasa suka Manu sudah tumbuh sejak lama, kini hati pemuda itu sedang tidak baik-baik saja karena telah mengetahui kabar rencana pernikahan Zara dengan putra desainer tersebut.


Ada rasa sesak di dada Gunawan, pemuda jujur dan polos itu patah hati bahkan sebelum mengungkapkan perasaannya.


Tok tok tok.


Alis Gunawan mengerut, Manu sudah pergi beberapa menit yang lalu, apakah ia kembali lagi? Batin Gunawan berucap.


"Masuk."


Ceklek.


"Ada apalagi Nu?sudah lah kau tidurlah di tempatmu, tugas kantor biar aku yang selesaikan" ucap Gunawan tanpa mengalihkan wajahnya dari setumpuk berkas yang sedang di bereskannya.


"Selamat pagi Tuan."


Deg.


Sepersekian detik nafas Gunawan tertahan, satu sosok telah tegap berdiri beberapa meter di depannya dengan wajah tersungging senyum tipis.


Pria putra desainer itu bagaimana bisa sampai ke sini, dan dari mana dia tahu apartementnya, batin Gunawan penuh tanda tanya.


Gunawan berusaha menenangkan dirinya dan mempersilahkan Andra duduk.


Mendapat tamu tak di undang pagi hari, sungguh tak Gunawan duga, apalagi pria itulah yang akan merebut Zara darinya.


Kedua pria beda generasi yang mencintai wanta yang sama kini duduk saling berhadapan.


Jantung Andra berdebar kencang, baru kali ini ia merasa kalah di depan pria lain, bahkan umurnya dua kali lipat darinya.

__ADS_1


Meski usianya tak lagi muda, Gunawan masih terlihat segar dan tubuh tegapnya membuat Andra sedikit minder.


"Maaf jika saya telah lancang berani datang ke sini" ucap Andra sambil menunduk hormat pada sang calon mertua.


"Ehm, apa maksud kedatanganmu ke sini?" Gunawan tentu saja tak ingin menanyakan hal kecil tentang bagaimana Andra bisa tahu kediamannya, harta yang melimpah tentu saja bisa membuatnya mudah memperoleh apa yang ia inginkan, termasuk mencari tahu tempat persembunyiannya.


"Aku ingin mengenal lebih dekat calon Ayah mertuaku" jawab Andra penuh percaya diri.


"Percaya diri sekali kau bisa menjadi menantuku" ucap Gunawan sinis.


"Ku kira kau pun sudah mengetahuinya bahwa akulah pria yang putrimu cintai" Andra masih semangat dan penuh percaya diri, ia tak ingin terlihat lemah dan ragu di hadapan Gunawan, ia tahu siapa Gunawan, pengusaha besar yang terkenal dengan ketegasan dan tak mempan terintimidasi oleh pihak lawan mana pun.


"Itu karena putriku tak tahu seperti apa laku mu di luar sana, jangan coba kau memperdaya putriku? Aku tak akan membiarkannya tertipu rayuanmu, dan asal kau tahu, aku sudah menyiapkan seorang lelaki yang pantas untuk bersanding dengannya, jangan harap aku merestuimu" ucap Gunawan tegas.


Andra mencelos, rupanya Ayah mertua masih ragu akan cintanya pada Zara, bahkan ia sudah menyiapkan pria lain untuk memisahkannya.


"Baiklah Ayah mertua, kau bisa mengirimkan berpuluh lelaki untuk memisahkan kami, tapi kau akan lihat sedalam apa rasa cintaku untuk putrimu, dan saat itulah aku ingin kau memanggilku 'menantuku'"seringai tipis keluar dari bibir Andra.


"Maaf Ayah, mungkin untuk perkenalan pertama ini cukup untuk kita, lain waktu aku akan datang membawa putrimu" ujar Andra lalu mengangguk hormat dan pergi.


Gunawan menghela nafas panjang, tak di pungkiri, ia pun merasa sedikit kagum pada rasa percaya diri putra desainer itu, meski pertama kali bertemu tapi ia bisa melihat kejujuran juga kegigihannya.


Keluar dari lift apartement, Andra mengembuskan nafas panjang, pertama kali bertemu sang Ayah mertua sudah membuatnya senam jantung.


Dirinya sudah menyiapkan mental sebaik mungkin untuk bertemu Gunawan tapi pria paruh baya itu tak bisa di anggap enteng.


Sementara itu Zara masih diam di sofa ruang tengah apartemennya.


Semenjak hari kemarin Maharani sudah melarangnya unyuk kembali bekerja, Dewi sudah berangkat dua jam yang lalu, tinggal dirinya kini sendiri di apartement.


Sungguh membosankan hari-hari tanpa bekerja, Zara membayangkan jika setelah menikah nanti dirinya akan diam menunggu Andra di mansion besar tanpa kegiatan apapun, membayangkannya saja sudah sangat mengerikan baginya.


Karena tak ada kegiatan apapun Zara hanya mengenakan baju rumahan yaitu kaos oblong dengan celana hot pants, memperlihatkan paha rampingnya yang putih mulus tanpa noda.


Tok tok tok.


Zara mengerutkan kedua alisnya, Dewi sudah berpesan bahwa hari ini tak ada paket yang datang, sedang dirinya pun tak memesan apapun di online.


Tok tok tok.


Kembali suara ketukan pintu terdengar.


Zara melangkah dengan malas ke arah pintu, hari ini ia ingin menikmati me time nya dengan mandi siang dan membiarkan wajahnya tanpa make up, hanya polesan lipbalm agar bibirnya tak kering.

__ADS_1


Awas saja kalau ada paket nyasar, umpatnya dalam hati karena kesal waktunya terbuang sia-sia.


Ceklek.


Pintu terbuka dan sosok pria tampan berdiri dengan wajah memelas.


"B babe.."


Greep.


Andra merengkuh tubuh ramping Zara ke dalam pelukannya, beberapa menit tubuh keduanya menyatu, hanya baju yang mereka kenakan sebagai pembatas kulit keduanya.


Zara membiarkan sang kekasih yang mendekap tubuhnya erat, entah apa yang terjadi hingga suasana hati Andra memburuk.


Zara mengurai pelukannya perlahan, Andra menelisik wajah sang kekasih dengan intens.


"Sayang apakah kau benar men cintaiku?" tanya Andra menatap penuh harap.


"Kenapa kau tanyakan itu?"


"Jawablah, apakah di hatimu benar ada namaku?"


"Babe, kalau aku tak mencintaiku mana ada cincin indah ini di jariku" Zara memperlihatkan jarinya dengan sedikit kesal, kenapa sang kekasih meragukan perasaannya setelah cincin melingkar di jarinya.


"Bagaimana jika Ayahmu tidak merestui hubungan kita."


"Dari mana kau tahu Ayah tak merestui kita, dan apa hak nya mencampuri urusanku" Zara menatap Andra tajam.


"Aku menemui Ayahmu untuk meminta restu, tapi rupanya dia sudah mempunyai seorang pria yang akan di calonkan menjadi suamimu" Andra berucap dengan mimik wajah memelas penuh iba pada sang kekasih.


"Babe, dengarlah..tak ada yang akan bisa memisahkan kita siapapun itu kecuali kematian."


Tatapan netra Andra tajam ke mata indah Zara, rulanya Gunawan me wariskan Keindahan mata dan bibirnya pada Zara.


Dan entah kenapa justru kini Andra lebih fokus menatap bibir merah muda Zara, perlahan ia mengikis jarak hingga benda ranum itu pun kembali ia rasakan manisnya, ciuman lembut nan hangat membuat Zara begitu terlena.


Bibir kenyal Zara bagai magnet yang senantiasa menariknya untuk kembali merasakan lembut dan manis bibirnya.


Bahkan kini tangan Andra menelusup ke tengkuk Zara hingga ia bisa memperdalam ciumannya.


Nafas keduanya saling berpacu bahkan tatapan Andra tampak sayu saat menyudahi ciuman panasnya.


Andra memejamkan matanya menahan aliran darahnya yang mulai me manas mengalir ke seluruh tubuhnya, kening keduanya kini beradu, begitupun Zara yang ikut terlena dengan permainan lidah Andra yang begitu lembut dan memabukan.

__ADS_1


Drrt drrt.


Kedua insan yang sedang di landa panasnya gejolak asmara terlonjak kaget saat nada panggikan di ponsel Zara terdengar nyarung hingga pelukan keduanya mengurai.


__ADS_2