
Zara akhirnya tertidur, lelah hatinya menunggu sahabatnya yang ia kira akan menghubunginya kembali namun ternyata dugaannya salah.
Ia pun bergegas mandi dan bersiap untuk berangkat, meski tubuh dan hatinya begitu lelah tapi ia harus tetap semangat, demi semua cita-citanya.
Meski impiannya untuk meneruskan kuliah di negara x akhirnya harus pupus, Zara sudah membulatkan tekadnya, uang untuk kuliah sudah ia gunakan untuk membeli tanah yang akan ia dirikan untuk membangun sebuah sekolah.
"Ra, liat " Dewi menunjukan sebuah pesan dari salah satu owner produsen pengharum ruang aromatherapy yang meminta Zara me review produknya.
Zara mengangguk semangat.
"Oke Wi, ambil."
"Siip, Lu pulang jam berapa, gue masuk siang nih" ucap Dewi.
Keduanya saling pandang.
"Lu konfirm dulu,kapan mereka minta produknya kita upload agar kita segera mengerjakannya" ujar Zara sambil mulai berkemas.
"Oke Gue berangkat dulu Wi, kalau ada balasan langsung kasih info ke gue" sambungnya lagi lalu meninggalkan Dewi.
"Siap, hati-hati Ra, jangan ngebut" teriakan Dewi di balas dengan acungan jempol Zara sesaat sebelum menghilang di balik pintu.
Dewi mengulum senyum, lumayan ada pemasukan tambahan, pikirnya, ia memandang sudut apartement, ia akan membuat studio mini, agar jika ada endorse yang mendadak ia tak harus repot-repot lagi menyiapkan tempat.
Dengan nafas memburu Zara melangkah cepat memasuki restoran yang baru buka, para koki sudah sibuk di dapur dan karyawan lain pun mulai membereskan ruangan.
Aroma wangi masakan tercium saat Zara memasuki dapur resto.
Beberapa hidangan sudah masak, hari ini rupanya ada yang booking ruang VIP untuk sebuah arisan.
Mata Zara membulat, pastilah para ibu-ibu sosialita yang rela mengeluarkan uang dalam jumlah banyak hanya untuk membooking restoran mewah tersebut.
"Mbak, ini kata Den Joy, Mbak Zara d suruh sarapan dulu" salah satu karyawan menyodorkan satu bungkus bubur ayam pada Zara.
"Kak Joy nya mana Bu?"
"Ehm, tadi pamit dulu katanya ada urusan di butik" jawab wanita paruh baya.
Zara mengangguk mengerti, Andra memesan bubur untuknya sebelum ia pergi, ia tahu kalau Zara datang telat pastilah ia belum mengisi perutnya, senyum tipis terbit dari bibir Zara.
Pukul sembilan, para peserta arisan sudah mulai berdatangan.
Benar saja, mereka datang dengan dandanan penuh gemerlap yang menempel di tubuhnya.
Penampilan horang kaya memang suka bikin orang geleng-geleng kepala, batin Zara.
Sepatu berharga puluhan juta, tas bermerk dengan tubuh penuh perhiasan mahal di badan mereka.
Tak satupun para peserta arisan memakai barang dengan harga di bawah satu juta, Zara tentu paham, semua yang melekat di tubuh para wanita itu bisa sampai miliaran.
__ADS_1
Perhiasan yang mereka pakai penuh dengan permata yang indah bersinar.
Ajang di adakannya arisan hanyalah sebuah alasan agar mereka bisa memamerkan apa yang mereka miliki yang tak semua orang mampu untuk membelinya.
Dan pengunjung resto pun mulai berdatangan, para koki sibuk memasak berbagai pesanan dan pelayan pun tampak hilir mudik.
Waktu terus bergulir, tak terasa sudah beranjak tengah hari.
Drrt drrt.
Zara melihat ponselnya yang bergetar, satu pesan masuk.
"Ra, mereka minta produknya kita upload besok pagi" isi pesan Dewi.
"Oke Wi, nanti malam kita kerjain."
Dewi membalas dengan emot jempol.
Zara memandang ruangan VIP, mereka tampak tersenyum riang dan bahagia, tak ada rona kesedihan di wajah mereka.
Mereka hidup serba kecukupan barang apapun yang mereka ingin bisa mereka beli, mana mungkin mereka merasa sedih, batin Zara.
Tak seperti dirinya yang harus berjuang keras, jangankan membeli barang mewah, baju-baju yang di milikinya sebagian besar adalah bonus endorse yang ia dapat.
Zara sangat sayang jika menghabiskan uang hanya untuk membeli baju mahal.
Meski seorang model, Zara sangat perhitungan dengan uang yang ia keluarkan, jika memang tak terlalu penting maka ia tak akan membelinya, ia akan lebih berfikir untuk menabungkan uangnya.
"K kak Andra kapan datang?" tanyanya gugup.
"Dari saat kau asik melihat mereka" jawab Andra lalu melihat ke arah ruang ViP.
"Ra nanti jangan dulu pulang, ada yang mau aku bicarakan" ujar Andra dengan tatapan tajam ke Zara.
Deg.
"A ada apa Kak?"
"Nanti kau juga tahu."
Lalu Andra melangkah meninggalkan Zara.
Sepeninggal Andra, Zara jadi gelisah, tak pernah ia lihat wajah Andra se serius ini, batinnya.
Apa ada sesuatu yang telah membuatnya marah padaku, sambungnya dalam hati.
Dan akhirnya waktu kerja pun usai, Zara segera mengecek semua transaksi hari ini dan menghitung jumlah uang yang di dapatkannya lalu mencocokan dengan catatan bon.
Zara mengedarkan pandangan ke seluruh area parkiran.
__ADS_1
Namun tak ada sosok yang di carinya.
"Non, Non Zara!" panggil Wanto sambil berlari ke arah Zara.
"Ada apa To?"
"Di tunggu Den Andra di taman belakang resto."
"Hah, taman?" tanya Zara terkejut, karena ternyata restoran itu mempunyai sebuah taman mini yang terletak di belakang resto yang tersekat tembok hingga membuat pengunjung tak akan mengetahui keberadaan sebuat taman yang memang khusus buat para karyawan melepas penat maupun sebagai ruang tunggu jika waktu kerja akan berganti sift.
Zara mendekat ke arah Andra yang duduk tenang dengan gua gelas jus sirsak di atas meja.
"Duduk Ra" kalimat datar Andra membuat Zara tercekat, ia pun duduk dengan wajah mulai panik.
Andra menghela nafas berat, sungguh ia merasa kecolongan, mendengar penuturan karyawan butik tentang semua yang Zara pernah alami.
Ia sungguh tak mengira jika Septi yang tak lain putri dari sahabat mommynya mempunyai sifat yang membuatnya begitu kecewa.
Dengan tatapan tajam Andra memandang Zara.
"Sampai kapan kau akan menyembunyikan hal ini dariku Ra?" tanya Andra dingin.
"A aku tak bermaksud menyembunyikannya dari Kakak, aku hanya tak ingin ke salah pahaman ini menjadi suatu masalah besar, aku pikir setelah aku selesai menggantikan cuti mbak Meta di sini, aku akan menyelesaikan masalah di butik."
"Tapi dia memang sudah bermaksud jahat padamu Ra" ucap Andra yang memang sudah melihat semua rekaman CCTV di mana Septi sengaja melepas kancing gaun di butik dan menyalahkan hal tersebut pada Zara, beruntung ada satu karyawan yang merasa terpanggil dan melihat kelicikan Septi pada Zara, hingga menyimpan rekaman kamera pengawas secara sembunyi-sembunyi.
Juga saat Septi menabrak tubuh Zara hingga pundaknya membentur tembok denagn keras.
Sebagian karyawan butik merasa segan pada Septi karena memang setahu mereka Septi adalah putri dari sahabat Maharani.
Zara menatap Andra dengan wajah polos, rupanya Andra sudah mengetahui apa yang di alami Zara selama beberapa hari di butik.
"Mulai sekarang dan seterusnya kau akan tetap di sini."
"T tapi bagaimana jika nanti mbak Meta akan mulai kembali masuk bekerja Kak, kasihan dia harus mencari uang tambahan untuk kebutuhannya sehari-hari apalagi sekarang dia mempunyai seorang baby, yang pasti akan banyak membutuhkan uang" terang Zara yang merasa tak tega jika nanti Meta di pecat dari resto karena sudah di ganti olehnya.
"Mbak Meta akan bekerja tapi hanya paruh waktu, kau tahu wanita yang baru melahirkan di larang bekerja terlalu berat, dan bayinya pun masih membutuhkan perhatian penuh dari ibunya" Andra merasa harus memindahkan Zara karena ia tak tenang jika gadis itu kembali bekerja di butik sedangkan ia pun segan untuk me mecat Septi karena ia mengenal baik ibu Septi.
"Nanti kita ke butik, Septi harus minta maaf padamu" ujar Andra tegas.
"Ah t tidak perlu Kak, toh bukan masalah besar" jawab Zara cepat, ia tak ingin masalahnya menjadi panjang dan rumit.
"Tapi dia tak akan menyadari kesalahan jika kau tak memberi pelajaran, coba saja jika saat itu karena sehari penuh kau berdiri lalu menyebabkan kakimu terluka, bukankah itu adalah masalah besar, kakimu adalah modal utamamu Ra, kau adalah seorang model, mana ada model berbetis kaya tukang becak" kalimat Andra membuat tawa Zara pecah.
"Ya nggak gitu juga Kak, betis ku masih normal kok, dan masih bisa berjalan dengan normal."
"Tidak pokoknya Septi harus meminta maaf padamu, atau dia akan ku pecat."
"Hah, jangan Kak, baiklah kita ke butik" jawab Zara pasrah.
__ADS_1
"Goodgirl.." ucap Andra sambil mengusap kepala Zara dengan lembut.