
Weekend pertama Zara mendapat giliran libur, bersyukur pagi ini cuaca cerah, ia putuskan untuk melemaskan otot dengan lari pagi di sekitar gedung apartemen.
Sekian lama tak melakukan olah raga pagi membuat seluruh tubuhnya bagai mengeras, syaraf dan ototnya terasa pegal.
Dewi yang masuk lembur sedang menyiapkan diri di apartemen, memasak bekal seperti biasa.
Jika untuk sebagian besar orang, weekend adalah hari libur di mana kita bisa me refreshingkan diri dan tubuh kita dengan hiling atau sekedar jalan-jalan ke kuar kota.
Namun tidak bagi Dewi, hari libur adalah hari di mana ia bisa mendapat tambahan uang dengan menggantikan lembur teman-temannya.
Meski ia sekarang sudah berhasil menyelesaikan pendidikannya hingga ke jenjang sarjana, ia masih harus tetap membiayai sekolah adik-adiknya di kampung.
Sementara Zara tengah asik dengan olah raga paginya, suasana pagi ibukota masih terasa sejuk beda jika hari beranjak siang, cuaca panas, bising suara kendaraan dan polusi udara dari asap knalpot kendaraan sungguh membuat udara ibukota menjadi kotor dan sesak.
Keringat yang sudah mulai membanjiri kening dan rasa gerah mulai membuat tubuhnya lepek oleh keringat.
Drrt drrt.
"Ra nanti aku jemput ya jam sembilan" pesan dari Andra membuat Zara mencebik.
Kebiasaan kak Andra kalau ngajak, pasti maksa, batin Zara.
Satu kali putaran mengelilingi area gedung apartemen cukup membuat tubuh Zara mengeluarkan banya keringat.
Lumayan, racun sudah pada kabur, batinnya.
Satu jam lagi Andra akan menjemput, Zara pun menyudahi lari paginya.
Bergegas ia membersihkan tubuh setelah keringat tubuhnya mengering.
"Ra aku udah di lobi bawah."
Hah, kan tiga puluh menit lagi, pekik Zara saat Andra kembali mengirimkan pesan teks.
Ting.
Dengan langkah tergesa dan nafas memburu Zara keluar lift, matanya menyapu ruang lobi.
"Lagi cari siapa cantik?"
Sapa Andra yang ternyata berdiri di samping pintu lift.
"Ish kak Andra suka ngagetin" Zara mencebik kesal.
Melihat dandanan outfit Andra kali ini Zara menaikan kedua alisnya, hanya celana jeans panjang belel dengan kaos lengan panjang berwarna hitam sungguh Andra terlihat semakin gagah.
"Kenapa lihatnya kaya gitu, tar naksir lho."
Zara tersenyum simpul, dadanya memang berdesir aneh saat Andra menatapnya dalam.
"Ayo kak kita berangkat."
"Eh kemana?"
__ADS_1
"Lha kan kakak yang ajak, napa malah tanya kemana?"
"Ya kali aja ada tempat yang mau kamu tuju."
"Iya, aku mau ke makam ibu dulu ya bentar."
"Asiap bos"
Andra menyondongkan tubuhnya ke hadapan Zara hingga pipinya hampir menyentuh Zara.
Debar jantung tiba-tiba berdebar kencang membuat wajah Zara merona merah.
"Pasang dulu seatbelnya."
Zara tak membalas karena sibuk menenangkan jantungnya yang kini berdetak tak karuan.
Huff, kenapa harus deg-deg an gini jantung, diam ya kau di sana, aku masih ingin hidup, jangan kau berhenti berdetak dulu, Zara membatin sambil mengatur nafas diam-diam.
Aroma tubuhnya begitu wangi, ahh ingin rasanya aku menciumnya setiap saat, sungguh wangi yang membuatku candu, Andra membatin lirih.
Mobil meluncur membelah kota, jalan yang terkendala macet membuat mereka baru sampai saju jam lebih.
Zara menunduk dan mengusap pusara sang ibu, lantunan ayat suci ia ucapkan dalam hati.
Rasa syukur ia panjatkan untuk sang pencipta.
*Bu aku datang bu, nek, akhirnya cita-cita kita terwujud, tahu kah kau bu, karena engkaulah aku bisa tegar dan teguh dengan tujuanku, engkaulah sumber semangatku bu, menjadi seorang sarjana seperti apa yang kau inginkan.
Aku sekarang sudah wisuda bu, setelah kepergianmu, aku bertekad untuk mewujudkan satu-satu nya ke inginanmu.
Aku foto sendiri bu, tapi nggak apa-apa, yang penting ibu di sana senang, ibu bahagia kan lihat Zara memakai toga, Zara cantik kan bu?
Ibu tenang ya di sana*.
Perlahan Zara bangun dari tempatnya duduk , di usapnya air bening yang mengalir dari sudut mata indahnya.
Andra mengusap punggung gadis manis tersebut dengan lembut.
Zara diam masih dengan kesedihan menyelimuti hatinya, Andra pun fokus pada kemudi dan sesekali melirik gadis manis di sampingnya.
Di sebuah rumah besar Andra menghentikan mobilnya.
Rumah bergaya modern dengan tanaman hias berjejer rapi di teras depan membuat suasana asri dan sejuk.
Perpaduan yang sungguh indah untuk di nikmati.
Zara menyisir rumah megah yang di sampingnya berdiri beberapa pohon rindang.
Teet.
Ceklek.
Andra tersenyum pada wanita paruh baya seumuran sang mommy.
__ADS_1
"Selamat siang tante."
"Ahhh Joyy, sungguh tampan kau sekarang nak, bagaimana kabarmu, tante dengar dari mommymu bahwa kamu sekarang sudah punya kekasih?" pertanyaan bertubi membuat Joy menggatuk kepalanya yang tak gatal.
Wanita paruh baya bernama Mely adalah sahabat Maharani, ia adalah penjahit prifesional yang di percaya Maharani untuk mengerjakan baju rancangannya.
Mereka bersahabat sejak Maharani masih gadis hingga sekarang, keduanya saling bekerja sama, jika Maharani menguasai desain baju maka Mely memiliki ke ahlian menjahit .
Maharani begitu percaya jika baju yang di desainnya Mely yang menjahit.
Usia yang kian menua membuat Maharani tak lagi kuat untuk mengurusi butiknya seorang diri.
Andra duduk di samping Zara, keduanya tersenyum kikuk, tak henti Mely menatap Zara dengan intens.
Wajah yang sering ia lihat di berbagai majalah kini sedang duduk manis di kursi rumahnya, seakan tak percaya Mely menatap Zara.
"Kau, bukannya Zara?" tanyanya memastikan.
Zara mengangguk ringan.
"Iya saya Zara tante."
Mely menerima uluran tangan Zara yang hendak menyalaminya.
"Kamu ternyata lebih cantik dari foto di majalah" sanjung Mely.
"Ah benarkah? Terima kasih tante."
Seorang pelayan membawa dua gelas orange juice.
"Maaf tante, boleh minta jeruk hangatnya satu, Zara tidak biasa minum dingin tan."
Zara melotot ke Andra dan menyikut lengannya membuat pemuda itu meringis ringan.
"Waah kau sungguh perhatian Joy, Bi tolong ambilin minuman jeruk hangat buat nona cantik ini" titah Mely pada sang pelayan.
"Kak ih, nggak apa-apa air dingin juga, bikin orang repot aja" ucap Zara yang merasa jengah pada sikap Andra.
"Nggak apa-apa Ra, tante malah senang Joy sangat perhatian sama kamu."
Zara hanya tersenyum masam.
"Tante, aku ke sini di suruh mommy tan."
"Iya tante tahu, mommy kamu tadi malam kirim pesan ke tante."
"Oke kita langsung saja."
"Langsung apanya tante?" tanya Zara tak mengerti.
"Joy minta Tante buatin seragam khusus ukuran tubuh kamu Ra, katanya ia nggak mau kamu pakai seragam yang sudah di sediain mommynya karena terlalu pendek, tapi..." ucapan Mely tertahan saat melihat ke arah tubuh Zara.
"Ternyata kaki kamu yang jenjang Ra makanya rok itu terlihat mini jika kau yang pakai," Mely tersenyum gemas.
__ADS_1
Belum apa-apa, sudah posesifnya minta ampun kamu Joy.