
Dewi masih tak percaya dengan apa yang sudah Andra lakukan untuk Zara.
"Aku tak bisa membayangkan wajahnya saat sedang di depan meja kasir untuk membayar apa yang kau pesan" ucapnya sambil menggelengkan kepala.
"Tapi memang dia lakukan untukku Wi."
"Iya..iya, aku percaya denganmu, dan aku sangat kagum dengan pengorbanannya untukmu, jangan pernah kau lepaskan dia karena tak akan lagi kau jumpai pria seperti Kak Andra" terang Dewi dengan wajah serius.
Zara tersenyum tipis, dia memang begitu bersyukur telah di cintai Andra begitu dalam, meski di luar sana ada seorang gadis cantik kaya raya begitu mengharapkan dirinya.
"Sudahlah Wi ayo kita tidur, besok aku harus masuk, soalnya lusa kan kita ada kerjaan baru" ucap Zara sambil melangkah ke kamarnya.
Zara lalu tersenyum bahagia saat pesan Andra yang begitu hangat dan romantis membuat hatinya berbunga.
"Sayang, cepatlah tidur jangan sampai besok kau masih sakit, aku tak akan sanggup lewati hariku tanpa bertemu denganmu sehari saja."
"Gombal" jawabam singkat Zara membuat Andra terhenyak dari sofa.
"Astagaa, kau masih meragukan hatiku padamu sayang? Setelah apa yang telah ku lakukan untukmu selama ini??" kalimat Andra yang di akhiri dengan derai air mata yang begitu deras.
Zara tertawa kecil.
"Iya..aku percaya kok" Zara mengakhiri kalimat dengan emot ciuman jauh.
"Sayang selamat tidur, mimpikan aku dalam tidurmu bye muaachhh."
Andra terpaksa mengakhiri percakapan lewat pesannya setelah Do, re, dan mi datang.
Tiga anak buah kepercayannya datang membawa informasi yang telah mereka dapat.
"Katakan apa yang sudah kalian dapat" titah Andra tanpa basa basi.
Ketiga anak buahnya hanya bisa menelan saliva kasar, mereka sama sekali tak di beri waktu untuk mengambil nafas.
Ketiganya saling pandang jengah.
__ADS_1
"Maaf bos, kami belum dapat gambar wajahnya" Do mengatakan dengan kalimat lirih dan wajah tertunduk lesu.
Ia tak mau lagi terkecoh setelah kejadian beberapa hari lalu, saat ia dengan penuh percaya diri mengikuti pria berpakaian setelan jas rapi dengan masker rapat di wajahnya, pria yang ia yakini adalah Tuan Awan alias Gunawan ternyata adalah salah satu karyawannya yang berdandan penuh misterius agar Do terkecoh dengan tampilannya.
Rona bahagia berubah menjadi umpatan panjang pendek bahkan seluruh penghuni kebun binatang ia sebut saat ternyata pria yang di duga Gunawan ternyata bukan.
Gunawan sangatlah licin dan cerdik, dengan berbagai cara ia bisa mengecoh orang-orang yang mengintainya dengan sangat lihai.
Andra hanya bisa menelan rasa kecewa untuk kesekian kali, anak buahnya saja tak bisa menyelesaikan tugasnya apalagi dia yang wajahnya sudah di kenal oleh Manu.
Satu-satunya cara untuk memancing kemunculan Gunawan adalah dengan umpan yang tepat, dan Zara lah yang menurut Andra bisa membuat Gunawan keluar dari persembunyiannya.
"Kalau begitu kalian pulanglah, dan tetap awasi pergerakannya, semakin cepat kalian dapat yang Gue minta, maka semakin besar pula bonus yang Gue siapkan" hanya itu yang andra lakukan untukmenambah semangat ketiga anak buahnya.
Setelah mereka pergi, Andra memulai pencariannya sendiri, ia kini harus mencari tahu pihak yang sudah bekerja sama dengan Zara, berharap ada sedikit celah untuknya mencari tahu tentang Gunawan.
"Kenapa kau begitu sulit ku dekati Ayah mertua" ucap Andra bermonolog lirih.
Pukul dua dini hari Andra baru menyudahi aktifitasnya, dan untuk kali ini juga ia harus menelan pil kecewa, tak banyak yang ia dapat tentang Gunawan.
Meski tubuh yang terasa penat, hati Zara cepat terobati setelah melihat notifikasi transferan yang tertera di ponselnya.
Meski beberapa kali Dewi memberi saran agar Zara keluar saja dari resto namun ia tolak.
Ia sangat berhutang budi pada Maharani dan Andra yang telah membantu di masa sulitnya, mana mungkin saat sudah bahagia akan ia tinggalkan orang-orang baik itu, ucap batinnya.
Meski gaji nya bekerja di restoran tak seberapa banyak jika di banding dengan hasil pemotretan tapi Zara sangatlah bersyukur mempunyai kesempatan bekerja dengan orang-orang di resto yang semuanya sangat membantu dan menerimanya dengan hangat.
Bonus dari iklan pemberian Nyonya Suzana sangatlah besar, di tambah lagi beberapa bonus tambahan di mana mereka memberikan perhiasan cantik.
Dewi pun merasa senang dengan uang dari kegiatan sampingan yang di dapatnya, ia bisa mengirimkan uang tambahan untuk sang ibu di kampung untuk membiayai sekolah adik-adiknya.
Dengan penuh semangat Zara menunggu kedatangan Andra di lobi, Andra bersikeras meminta Zara agar mau di jemputnya, ia ingin mengobati rasa rindunya yang rasanya belum terbayar.
"Pagi Ra, apa kau sedang menunggu seseorang?" sapa Diego yang kebetulan hendak berangkat kerja.
__ADS_1
"Ah iya Kak, aku sedang tunggu Kak Andra" jawab Zara dengan senyum manis.
Diego hanya bisa menelan ludah kasar, dari tatapan matanya Zara begitu bersinar saat memanggil nama Andra.
"Kalau begitu aku duluan Ra, waktunya sudah tipis" ujar Diego, ia tak ingin luka hatinya bertambah dalam jika melihat kedekatan Zara dengan Andra sahabatnya sendiri.
Mungkin kini saatnya ia harus melepasnya dengan ikhlas, dan membiarkan gadis yang ia cintai bahagia dengan Andra.
Diego membalas lambaian tangan Zara lalu melajukan motorsport miliknya.
Tak lebih dari sepuluh menit Zara duduk asik dengan ponselnya tiba-tiba dirinya di kagetkan dengan sentuhan tangan lembut yang bergerak perlahan menutupi kedua matanya.
"Kak Andra" ucap Zara pasti, meski ia tak begitu paham dengan tangan kekar itu namun aroma maskulin yang merupakan ciri khas Andra sudah begitu lekat di indra penciuman Zara.
"Wah kau begitu mengenalku sayang" ucap andra sambil berbisik di telinga Zara.
"Tak ada orang lain yang ku curigai karena hanya kau yang sedang aku tunggu sekarang" elak Zara.
Andra hanya berdecak kesal, Zara masih saja angkuh dengan harga dirinya.
"Di mana mobilmu Kak?" Zara menoleh ke arah parkiran dan tak melihat mobil Andra terparkir di sana.
Andra mengedikan dagunya ke arah parkiran motor.
"Kita naik motor pagi-pagi?" tanya Zara ragu karena udara pagi yang dingin di tambah naik motor, bagaimana kabarnya nanti ia yang tidak mengenakan jaket.
Andra mengangguk pasti karena ia sudah menyiapkan satu lagi jaket kulit untuk Zara kenakan.
"Udah ayo kita berangkat."
Andra berucap setelah mengancingkan helm ke kepala sang kekasih yang sudah terlebih dahulu memakai jaketnya.
"Peluk erat sayang" pinta Andra dengan suara agak keras.
Zara mengeratkan genggaman tangannya ke pinggang ramping Andra.
__ADS_1
Seringai lebar terbit dari balik kaca helm pria tampan itu, tanpa mereka sadari beberapa jepretan kamera berhasil menangkap moment kedua insan tersebut dari tempat tersembunyi.