Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU* 147


__ADS_3

Andra menarik nafas panjang, menjelaskan berita yang tak benar tentang dirinya pada orang lain, tak penting sama sekali tak menguntungkan baginya.


Zara lah orang pertama yang akan mendengar semua kebenaran tentangnya.


Biarlah orang berfikir buruk tentangnya, namun hanya satu yang ia cemaskan, ia takut Zara akan ragu pada perasaan tulusnya.


"Mom, mungkin aku beberapa hari akan tidur di apartement" pesan yang di kirimnya ke sang Mommy.


"Iya sayang, selesaikan masalahmu dengan baik, jangan biarkan Zara kembali terluka, Mommy percaya sama kamu nak, jaga kesehatanmu, jangan lupa makan dan jangan terlalu larut kau tidur" pesan Maharani.


"Siap mom."


Andra berjalan ke luar dari Taman kota tanpa memperdulikan Manu yang masih bertanya-tanya, dari mana ia bisa mendapatkan semua informasi penting dirinya.


Bahkan Gunawan yang memiliki anak buah begitu banyak pun tak menyadari bahwa Manu adalah putra seorang pengusaha kaya raya di kota itu, tawuran hebat yang menyebabkan kepalanya luka parah membuat itu menjadi salah satu jalannya untuk mengatakan kebohongan bahwa sebagian ingatannya telah hilang.


Dengan amarah yang membuncah di dadanya, Andra melajukan motor menuju ke kediaman Fitri, sudah kepalamg basah, tak perduli dengan kemarahan dan kekecewaan yang akan ia dapat dari Pak Menteri nanti, Andra hanya ingin Fitri segera memberi klarifikasi tentang berita bohong itu pada awak media.


Anggukan kepala penjaga gerbang tak di hiraukan Andra, ia tak mengurangi kecepatan motornya saat memasuki gerbang.


Bahkan halauan salah satu penjaga ia acuhkan.


Di depan pintu rumah megah itu Andra memarkirkan motornya.


"Mas Andra tunggu" teriak salah satu penjaga saat Andra melangkah menuju pintu.


"Ada apa" tanya Andra sinis.


"Maaf Mas, Bapak sama Ibu juga Non Fitri sudah berangkat pagi tadi ke S, mungkin dua hari baru mereka akan pulang" terang penjaga dengan ramah.


"Brengsek..." umpat Andra lirih namun masih dapat di tangkap oleh telinga penjaga.


"Apa Mas?" ia seakan tak percaya pendengarannya.


"Ah tidak Pak, kalau begitu saya langsung pamit saja" ujar Andra lalu pergi.


Rupanya Fitri sengaja ingin menghancurkan hubungannya dengan Zara, dengan menyebar berita palsu bahkan rekaman vidio kamera pengawas pun ia edit sedemikian rupa, hingga terlihat ia tampak memeluk Fitri begitu mesra.


Andra menggelengkan kepalanya, tak percaya Fitri bisa berbuat selicik itu.


Perasaan gundah gulana Andra tak jauh beda dengan apa yang di rasa Dewi saat ini.

__ADS_1


Wajah murung Zara tampak jelas sejak pagi tadi, meski suasana hatinya sangat buruk, Zara tetap bersikap profesional, dengan terus mengikuti kegiatan pemotreran dengan wajah ceria.


"Ra.." panggil Dewi lirih saat istirahat.


"Heum."


"Mungkin jadwal pemotretan akan lebih panjang lagi" ujar Dewi ragu.


Suasana hati Zara kurang baik, mana mungkin ia mau memperpanjang waktunya menginap di vila itu, batin Dewi.


"Nggak apa-apa Wi, bukankah kita harus profesional, kita sudah di perlakukan sangat baik oleh mereka, jadi sepantasnya lah kita membalas kebaikan mereka juga kan?" tanya balik Zara.


Dewi menatap sahabatnya tak percaya.


"Sungguh kah, kau tidak keberatan kita menginap lagi di sini? Mereka ingin pengambilan gambar pada saat kabut pagi menyelimuti bukit di depan sana, dan di perkirakan besok pagi kabut akan tebal dan sesuai keinginan klien kita" jelasnya.


Zara mengangguk paham, separuh hatinya pun merasa bersyukur, saat ini ia sungguh sedang ingin sedikit memberi jarak pada Andra, sesak dadanya saat melihat sang kekasih memeluk mesra gadis lain.


Ia ingin menenangkan denyut hatinya, entah bagaimana nanti jika mereka kembali bertemu di saat berita panas yang kini luas beredar.


Zara dapat menyimpan baik perasaan gundahnya jika tidak bersitatap dengan Andra namun entah bagaimana saat mereka bertemu nanti.


Saat ini Zara sama sekali tak bisa melihat apakah berita itu benar ataupun hanya ulah para awak media.


Ia tahu Andra selalu jujur padanya, tapi berita yang beredar membuat separuh hatinya resah dan bingung.


Karena kepulangan di undur, Zara pun memasuki kamarnya, merebahkan diri di ranjang dan menenangkan hatinya.


Namun satu panggilan menahan langkahnya.


"Nona Zara" panggil suara tersebut.


"Iya.."


Seorang pria paruh baya dengan membungkukan badanya menyerahkan sebuah kotak bungkusan.


"Silahkan Nona berdua menikmati bingkisan istimewa, yang khusus kami pesan dari negara s untuk kalian" ujar pria tersebut.


"Oh terima kasih Pak."


Ucap Zara dan dewi, lalu keduanya saling pandang dan melihat ke bungkusan cantik di tangan Zara.

__ADS_1


"Lu buka Wi, gue takut."


Dewi mencebik lalu membukanya dengan pelan.


Matanya membulat sempurna.


"Dark chocolat ..ohh my.. muaacch muaach" Zara memeluk dan menciuminya bertubi-tubi makanan kesukaannya.


Pria pengantar bungkusan tersebut pun ikut tersenyum senang.


Sementara Dewi cemberut dan memajukan bibirnya, ia tak terlalu suka dengan coklat ber rasa pahit di lidahnya tersebut, ia menyukai coklat bercita rasa manis, meski memiliki ber ribu-ribu kali lipat kalori tapi Dewi sangat suka.


"Maaf, untuk Non Dewi, ada juga coklat manis di bungkusan lain" ucap pria itu ramah.


Dewi langsung merebut bungkusan di tangan Zara dan membuka keseluruhan kotak tersebut.


Seringai lebar terbit dari mulutnya saat beberapa batang coklat jatuh berhamburan.


Keduanya tertawa bahagia, malam ini mereka akan menikmati makanan pembangkit moodbooster itu.


Dewi dengan semangat menutup pintu setelah pria pengantar coklat tersebut pamit.


Dalam hati Dewi ada sedikit rasa heran, mereka begitu memperhatikan apa yang Zara butuhkan, bahkan juga menyediakan makanan dan minuman kesukaan Zara.


Sementara itu Gunawan sedang melihat rekaman kamera yang di pasang di baju pria pengantar coklat ke vila di mana Zara berada, di sampingnya Nardi duduk tenang ikut menyaksikan hasil vidio rekaman.


Matanya tampak berkaca-kaca, Zara terlihat begitu gembira saat melihat dark coklat yang ia berikan.


Pria dewasa itu menitikan air mata haru, kerinduan yang ia simpan selama ini begitu menyiksanya, dengan kecerdikan Manu lah akhirnya ia mempunyai jalan agar bisa melihat putrinya meski tak secara langsung.


Kau tumbuh dengan baik nak, ucapnya lirih.


Wajah Zara yang begitu mirip dengan Nita mendiang istrinya yang sangat ia cintai.


Seakan Gunawan melihat Nita di usia remaja.


"Maafkan aku yang telah menyakiti kalian hiks, maafkan Ayahmu nak, kita akan hidup bahagia bersama" suara Gunawan bergetar lirih.


"Ayah akan melindungimu dengan jiwa raga Ayah, kita akan bersama selamanya nak, Ayah sangat rindu padamu Zara...huu huu huu" tangis pilu terdengar menyayat hati, tubuhnya yang mulai renta dengan wajah yang mulai keriput, sungguh tragis Gunawan terlihat.


Badan tegapnya tak sanggup menahan pilu hatinya, keras hati akhirnya kalah oleh rasa rindunya seorang ayah pada putri yang amat di cintainya.

__ADS_1


Begitu pula dengan pria berbeda generasi yang sedang berada di kamarnya, Andra yang mendengar tangis Gunawan lewat rekaman yang di pasang di rumah Nardi tampak murung.


"Aku akan segera mempertemukan kalian kembali."


__ADS_2