
Andra terus melajukan kereta besinya mengikuti mobil yang Gunawan kendarai.
Benar apa kata hatinya, Manu memberikan job untuk Zara dan itu adalah campur tangan Gunawan dengan meng atas namakan asistennya Manu.
Dengan seksama Andra mengamati mobil Gunawan, beberapa anak buahnya ia sebar untuk berjaga dan mengamati calon mertuanya itu.
Bukan hal baru lagi, Gunawan terkenal dengan keahliannya menyembunyikan jati dirinya, hingga saat ini belum ada yang berhasil mengabadikan poto wajahnya secara utuh.
Dengan jarak aman, Andra mengikuti mobil di mana Gunawan berada, tapi rupanya pria itu sudah tak lagi membuntuti Zara.
Dengan penuh hati-hati Andra terus berada di jarak aman, banyaknya anak buah Gunawan membuat otaknya harus jeli dan berfikir cepat.
Begitu ketat pengawalan anak buahnya bahkan dengan penyamaran yang akan sulit orang awam menyadarinya.
Di sebuah rumah sederhana Gunawan menghentikan mobilnya, sosok bertubuh tegap keluar dari mobil dengan wajah tertutup masker.
Andai Andra lengah tentu ia tak akan mengetahui jika buruannya sudah turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah sederhana itu.
Karena rumah yang terletak lumayan jauh dari pemukiman, terpaksa Andra berhenti sedikit jauh dari tempat di mana Gunawan turun.
Setelah mengamati lebih dari satu jam dan tak ada pergerakan, Andra pun mengakhiri pengintaiannya.
Mungkin memang Gunawan hendak menghabiskan waktu dengan istirahat di rumah tua sederhana itu.
Andra pun melajukan mobilnya ke mansion.
"Baru pulang Ndra?" tanya Maharani yang tengah asik membaca majalah model nya.
"Ya mom" jawab Andra sambil berlalu ke kamarnya, lalu menghempasakn tubuhnya di atas ranjang besar miliknya.
Jika Gunawan merindukan Zara putri satu-satunya kenapa ia masih saja menahan keangkuhannya dengan tidak menemui putrinya secara langsung, batin andra.
Dari apa yang telah ia lakukan selama ini, Gunawan sangat perhatian pada Zara, meski secara sembunyi ia selalu membantu melancarkan urusan dan mewujudkan keinginan Zara.
Andra jatuh terlelap meski tubuhnya belum ia bersihkan.
Pagi hari ia terjaga karena suara alarm ponselnya berbunyi.
Karena sore hari akan melakukan pengambilan gambar maka Zara memintanya untuk tak menjemput karena ia akam berangkat dengan Dewi sahabatnya.
Andra melangkah dengan lesu tanpa semangat ke ruang makan di mana sudah ada Maharani sang mommy sudah menunggu dengan cantik.
"Pagi Joy, bagaimana tidurmu?"
__ADS_1
"Heum, hari ini aku nggak ada semangat mom, calon mantu mu menolak untuk ku jemput" jawab Andra lesu,membuat Maharani menaikan alisnya.
"Kenapa sayang, apa kalian marahan?"
"Bukan Mom, dia ada job nanti sore dengan Dewi" jawab Andra lesu.
"Job apa tuh?"
"Dia menjadi bintang iklan Mom" Andra berucap sambil mengunyah sandwich tak bersemangat.
Maharani tersenyum gemas lalu mengacak rambut sang putra.
"Makanya kalau ingin cepat miliki Zara, kamu harus cepat lamar dia" ucap Maharani.
"Belum saatnya Mom, sebelum aku berhasil mempersatukan Zara dengan Ayah kandungnya."
"Lalu apakah sudah kau temukan Ayahnya?" tanya Maharani antusias.
Andra mengangguk pelan.
"Tapi ada sesuatu yang membuat mereka belum bisa kembali bersama Mom, dan aku harus mencarinya, aku yakin mereka masih saling menyayangi, apalagi Ayah nya yang diam-diam selalu menjaga Zara dan mempermudah semua pekerjaannya meski selalu di lakukan secara sembunyi."
Maharani memandang Andra dengan tatapan melas, rupanya kisah hidup calon menantunya begitu rumit.
"Terima aksih Mom."
"Lalu apa yang bisa mommy lakukan untuk membantumu nak?"
Andra menghela nafas berat," untuk saat ini aku juga belum tahu mom, semoga saja Zara dan Ayahnya sesegera mungkin bersama lagi."
"Oke, sekarang kamu makanlah, mommy mau berangkat, ingat jaga selalu kesehatanmu oke?"
Andra mengangguk pasti.
"Be a good boy, mommy sedang buatin baju pernikahan buat kalian."
Mata Andra membulat.
"Tapi aku minta jangan yang terlalu sexy mom, aku nggak mau istriku jadi sasaran mata genit para tamu pria nantinya" protes Andra.
"Ish kau ini, tenanglah Mommy pasti buat yang se anggun dan se elegan mungkin khusus untuk menantu mommy" ucap Maharani sambil melambaikan tangan dan berlalu pergi.
Andra tersenyum puas lalu mempersiapkan diri untuk berangkat ke butik.
__ADS_1
Sementara di sebuah kamar apartement Gunawan bangun dengan mata membulat dan tangan mengepal kencang.
Pria yang di sedang dekat dengan putrinya ternyata menjalin hubungan dengan anak seorang Menteri bahkan hubungan mereka sudah mendapat lampu hijau dari kedua orang tuanya.
"Sialan berani-beraninya kau menghianati putriku" ucap Gunawan dengan suara geram.
Berita yang santer terdengar membuat darahnya mendidih, pria tampan putra Desainer yang ia tahu dari Manu bahwa saat ini pria tersebut juga sedang dekat dengan Zara putrinya.
Tak akan ku biarkan kau hidup dengan bebas , siapapun yang melukai hati putriku, maka akan berhadapan dengan Gunawan, ia membatin dengan dada bergemuruh.
"Nu jangan biarkan putriku kembali bertemu dengan si brengsek itu" ucapnya pada Manu di ujung telepon.
Manu yang baru terjaga dari tidurnya sontak mengerutkan alisnya, otaknya yang belum lengkap terjaga dan menerima panggilan Gunawan membuat Manu tak bisa mengeluarkan kata-kata.
"Nu, kenapa diam! pokoknya kau urus putra desainer itu, buat mereka jangan pernah lagi bertemu."
Manu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal, bagaimana memisakan mereka sedangkan Andra adalah pemilik restoran di mana Zara bekerja.
"T tapi Bos.."
"Tidak ada kata tapi...lakukan apapun agar putriku tak lagi bekerja di restoran itu" hardik Gunawan.
"B baik Bos."
Seringai lebar terbit dari bibir Manu.
Dengan sensng hati aku akan membuat mereka berpisah, karena memang akulah yang paling pantas memiliki putrimu, ucap suara hatinya.
Sementara Gunawan masih membaca headline berita online dengan geram, bagaimana mungkin putranya menyukai pria yang sudah memiliki kekasih, apa tak ada lelaki lain yang lebih pantas untuk ia cintai, ucap batinnya.
Gunawan sangat kesal karena ada yang menyakiti hati putrinya, Ayah mana yang rela putri yang amat di sayanginya di hianati oleh sang kekasih.
Sehari ini mood Gunawan sangat buruk di kantor.
Terpaksa membuat Manu membatalkan beberapa meeting dengan klien.
"Bos apa yang sedang kau lakukan, ku lihat kau sangat sibuk?" tanya Manu, tak biasanya Gunawan sangat fokus dengan laptopnya hingga mengabaikan meeting penting.
"Aku sedang mencari klien kita yang mau menggunakan putriku sebagai brand mereka, dan ternyata pesona putriku memiliki daya tarik tersendiri, mereka menerima dengan baik tawaranku" ucap Gunawan penuh percaya diri dengan seringai lebar di bibirnya.
Manu hanya menelan ludah kasar, untung saja Zara tidak memiliki sifat narsis seperti Ayahnya, yang selau penuh percaya diri di segala suasana.
"Untuk apa meminta Non Zara membintangi banyak iklan Bos?" tanya Manu heran.
__ADS_1
"Aku ingin menjauhkannya dengan putra desainer itu sejauh mungkin, dasar brengsek, enak saja dia mempermainkan putriku" ucap Gunawan dengan geram.