
Tak perlu menunggu waktu hingga esok, Zara bersikeras meminta pulang sore ini, dan pihak rumah sakit pun tak bisa berbuat banyak karena Gunawan sudah mewanti untuk menyanggupi apapun yang Zara pinta, selama kesehatannya sudah pulih.
Mereka pulang terlebih dahulu ke vila untuk membereskan barang bawaan untuk langsung berangkat ke bandara.
Begitu pun Andra yang terpaksa membatalkan ke rumah Amir karena ia pun ikut pulang bersama sang kekasih.
"Bang, jadi Elu nggak jadi ke rumah Gue nih?" tanyanya dengan wajah murung, ia berharap jika Andra ke rumahnya maka Zara pun akan ikut mampir.
"Sorry Mir, kita banyak banget urusan, tolong sampein salam Gue buat Ibu dan Bapak Elu di rumah, juga permintaan maaf Gue yang se besar-besarnya karena batal pergi ke rumah Elu."
"Heum, nggak apa-apa deh Bang" jawab Amir pasrah.
"Lu belajar yang rajin biar cepat lulus, ntar Lu kuliah di xx dan kita bisa ketemu lagi."
"Bener Bang?" semangat amir kembali menyala.
Andra mengangguk, begitupun Zara.
"Iya nanti aku ajak jalan-jalan ke tempat wisata" timpal Zara.
"Beneran, Mbak Zara nanti ajak aku jalan-jalan?."
Andra mencebik kesal jika bersamanya memakai sebutan 'Elu dan Gue' sedangkan saat dengan Zara ' Aku'.
"Iya Mir, Mbak janji pokoknya."
Untuk mengobati rasa penyesalannya, Andra membiarkan Amir berpoto berdua dengan Zara, dan membiarkan sang kekasih berpose dengan tangan berpegang erat dengan remaja cuek tersebut.
Ketiganya pun memasuki pesawat carteran yang di sediakan Gunawan, para kru dan Amir melambai melepas kepergian mereka.
"Wah enak ya kerja sama bareng mereka, semua akomodasi di siapin, sampai peswat pun mereka carter buat Elu Ra" ujar dewi.
Zara mengangguk dengan senyum tipis sementara Andra hanya bisa diam dalam hati nya sudah menduga bahwa semua ini pastilah ada campur tangan Gunawan.
Setelah menempuh perjalanan dua jam lebih, pesawat pun mendarat sempurna.
Lega rasanya memijak tanah kelahiran kembali.
Tiga hari di luar pulau dan tidur di vila dengan cuaca yang dingin, membuat Zara begitu tersiksa karena tubuhnya kurang begitu menyukai cuaca dingin itu.
Sebuah taxi sudah terparkir yang mereka siapkan di bandara untuk mengantarkan Zara sampai di apartemen.
"Istirahatlah, dan jangan lupa minum vitamin dan tidur teratur" pesan Andra lembut, sementara Dewi sudah lebih dulu naik, ia tak mau menjadi nyamuk yang mengganggu kedua insan yang di landa rindu itu.
Zara mengangguk lembut lalu melangkah menuju lift.
"Sayang" panggil Andra lalu berlari menyusul Zara.
__ADS_1
Andra meraih kedua tangan Zara dengan erat.
"Percaya lah, jangan pernah dengarkan berita yang beredar di luar sana, cinta dan hatiku sepenuhnya hanya untuk mu dan aku tak akan pernah mendua, aku akan membuat klarifikasi tentang semuanya bahwa berita itu tak benar" ucap Andra tulus.
Netra keduanya saling memandang, mencoba menyelami hati masing-masing.
Zara mengangguk tulus, dari ucapan Andra tak ada kebohongan yang ia sembunyikan, dan ia percaya sang kekasih adalah pria sejati yang dapat di percaya.
Cupp.
Kecupan lembut mendarat di puncak kepala Zara.
"Naiklah."
Zara mengangguk lalu melambai ke Andra.
Langkah panjang Andra menuju parkiran di mana anak buahnya sudah menyiapkan motor kesayangannya di sana.
Kali ini ia tak melajukan motor ke aparetement, ia ingin ke cafe Juned dulu.
Di tengah kesibukannya melayani Juned menyadari kedatangan Andra, lalu mengedikan dagunya isyarat agar Andra menunggunya di ruang biasa mereka berkumpul.
"Baru dateng Lu?" tanya Juned.
Andra mengangguk ringan, suasana resto tampak ramai seperti biasa.
Andra merasa kagum dengan satu sahabatnya itu, dia bekerja dengan ulet dan disiplin, tak seperti dirinya yang jarang melihat situasi restoran ataupun butik miliknya.
"Gue beda sama Elu bro, Elu lahir udah tajir, lha Gue... harus banting tulang dulu baru bisa bertahan hidup, kalau Gue nggak kerja mana bisa Gue dapat makan" jawab Juned jujur.
Andra hanya tersenyum masam.
"Tapi Gue juga bangga punya temen kayak Elu, Lu meski lahir tajir tapi masih mau berteman sama Gue yang dari rakyat jelata ini" sambung Juned.
"Ck ini nih...yang Gue nggak suka, orang yang selalu menyama rata kan semua orang berharta selalu sombong dan angkuh, Gue nggak se picik itu memilih sahabat, Gue hanya butuh orang yang tulus menerima Gue apa adanya dengan segala kekurangan Gue."
"Elu mah kagak ada kurangnya kali, yang ada ...Lu lebih segalanya dari Gue dan Diego."
Tatapan Andra menerawang jauh ke hiruk pikuknya kendaraan yang lalu lalang.
Ia memang patut bersyukur dengan apa yang telah ia punya.
Wajah tamlan di atas rata-rata, harta pun ia tak kekurangan, hanya satu yang menjadi ganjalan hatinya, ia breum bisa membahagiakan sang Mommy, bahkan ia masih bergantung padanya, padahal usia mommynya sudah tak muda lagi untuk terus bekerja.
"Heh malah bengong aja Lu, gimana kabar Zara, Gue ditelpon Amir sampe lima belas kali."
"Ngapain ?"
__ADS_1
"Dia nanyain apa Elu bener pacaran sama Zara, dasar bocah gila ngapain dia ngurusin hidup orang lain, ngurusin sekolahnya aja nggak becus."
Andra tersenyum masam.
"Lalu gimana keadaan Zara sekarang?"
"Heum sudah membaik."
"Lalu bagaimana sebenarnya hubungan Elu sama dia, apa kalian putus."
"Hei siapa bilang gue putus?."
"Ya Gue lah, banyak berita viral tentang pertunangan Elu sama putri Pak Menteri."
"Dan Elu percaya itu semua?"
"Ya gimana Gue nggak percaya, ada vidionya juga" sahut Juned sinis, sebenarnya ia pun ragu tentang kebenarannya, yang ia tahu Andra tulus mencintai Zara.
" Gue akan buktikan kalau semua itu bohong, Gue masih dengan Zara dan kami tak akan pernah berpisah apapun yang terjadi" Andra berucap lantang.
"Lalu kenapa nggak Lu nikahin aja Zara, kalian sudah cukup dewasa untuk melangkah ke jenjang lebih serius, kalian sama-sama mandiri, lalu apa lagi ?"
"Ada satu tugas besar yang harus Gue selesaikan."
"Boleh Gue tahu apa itu?"
"Gue harus mempertemukan Zara dengan Ayah kandungnya."
"Apa Lu sudah menemukan Ayahnya?"
Andra mengangguk.
"Mereka sebenarnya saling merindukan, Ayah Zara diam-diam memperhatian gerak dan langkahnya selama ini, bahkan dia selalu melindungi dari tempat persembunyiannya, dan Zara pun meski mulutnya terkadang ia mengatakan bahwa ia membenci Ayahnya tapi dalam hati ia sangat merindukannya."
Juned menghela nafas panjang.
"Apa yang bisa Gue bantu?" tanya Juned.
Andra menggeleng pelan.
"Kau percaya semua perkataanku pun aku sudah sangat berterima kasih."
"Gue percaya Elu, Lu bukan lelaki pengecut yang tega mempermainkan hati para wanita, semangatlah" Juned menepuk bahu Andra.
Drrt drrt.
Wajah Andra cerah seketika saat satu pesan ia baca.
__ADS_1
"Gue pamit dulu bro, bidadari Gue ngajak dinner gue harus berdandan setampan mungkin" ucapnya penuh semangat.
"Cih dasar bucin."