
"Haduuh Raaa, Elu mah emang sahabat durhaka" umpat Dewi lirih sambil melangkah menuju area parkir sedangkan Manu jalan di belakang mereka.
"Sahabat durhaka gimana sii maksud Lu Wi?"
"Lu punya teman se ganteng ini, di anggurin aja, kabar-kabari kek, nggak paham amat sii, Gue udah bosen hidup ngejomblo tauuk, ampe ramaten ini tangan nggak pernah di gunain buat gandengan ama pacar."
Zara hanya tersenyum gemas sambil mentoyor Dewi.
"Ya elahh, usaha sendiri napa, mandiri lah, udah gede, masa musti gue comblangin."
Waktu bagai berjalan secepat kilat bagi Dewi, mereka sudah sampai di dekat mobil Zara.
"Iya, tapi apa dulu kartunya?"
"Maksud Lu apa?"
"Ya, gue udah tahu namanya Manu, trus kerjanya apa, rumahnya di mana, masih single nggak.Nggak lucu kan, kalau Gue naksir bini orang."
"Kalau itu si Gue belum tahu, yang Gue tahu dia itu asisten bosnya yang bernama Pak Awan, untuk selebihnya lu cari sendiri deh."
Manu masih berjalan mengikuti keduanya sampai di depan mobil Zara.
"Nu apa kamu juga mau pulang sekarang,mobilmu mana?"
"Saya mungkin sebentar lagi Non, ada pesanan bos yang belum saja dapatkan, mobil saya ada di ujung sebelah sana Non."
Manu menunjuk ke deretan mobil paling ujung yang letaknya cukup jauh dari mobil Zara.
Zara saling pandang dengan Dewi.
"Saya mengantar Nona-nona berdua agar memastikan sampai mobil dengan aman" ujarnya menjawab ke heranan mereka.
"Terima kasih Nu."
"Sama-sama Non."
Dewi menyikut lengan Zara pelan.
"Sshh apa sii Wi?"
"Minta no kontaknya" bisik Dewi.
Meski jengah Zara pun menuruti apa yang Dewi minta.
"Manu, Nu...boleh minta nomor ponselmu, siapa tahu kita suatu saat ada perlu" ujar Zara, karena memang dirinya pun belum mengenal Manu, setelah tiba-tiba datang ke rumah sakit untuk menjemputnya dengan alasan ia adalah anak buah Andra, sementara Andra tak mengenalnya.
Manu pun mengetik nomornya di ponsel Zara.
"Sudah Non."
"Oke Nu, ehm Nu, tolong jangan panggil aku Nona dong, kaya aku Tuan Putri aja, panggil Zara aja."
"Baik Non ehm Ra" ucap Manu ragu.
"Oiya Nu sebenarnya kamu siapa? Kau bilang dulu anak buah Andra tapi ternyata asisten Pak Awan, dan Kak Andra pun tak mengenalimu" tanya Zara.
__ADS_1
Manu tergagap, pertanyaan yang belum ia rancang jawabannya membuat otaknya blang.
"Eh maaf Ra, bos manggil nih" ucapnya gugup.
"Ehm baik Nu hati-hati ya."
"Iya Ra ..., terima kasih"
"Makasih apa Nu?"
"Eh makasih sudah perhatiannya, kalian juga hati-hati di jalan."
Zara tersenyum lalu pergi kembali ke mobilnya.
Manu hanya tersenyum kecut.
Kau memang baru mengenalku, tapi aku jauh mengenalmu sebelum kita bertemu, gumam Manu dalam hati.
Kontak Zara tentu saja sudah ia simpan dalam ponselnya beberapa tahun yang lalu, saat Gunawan menyuruhnya untuk mencari sebidang tanah untuk di jual padanya dengan nama orang lain.
Sementara di sebuah rumah megah nan luas, Andra memandang ponselnya tajam.
Beberapa pesan dari nomor yang tak di kenalnya telah mengirim poto kedekatan Zara dengan seorang pria yang tak di kenalnya, bahkan bukan hanya satu poto, karena satu lagi Zara tengah duduk berhadapan dengan Revan.
Darah Andra serasa mendidih, ia memang benar ia kemarin meninggalkan Zara di taman dan membiarkannya pulang sendiri, tapi apakah ini alasan kenapa dia sekarang mulai dekat dengan pria lain.
Dan seharian ini pun Fitri seakan tak mau melepasnya sedetikpun, gadis itu selalu menempel padanya, kemana pun dirinya berada, Fitri akan ada di sisinya.
Andra hanya bisa menghela nafas kasar, janjinya pada Pak Menteri bagaikan bumerang yang akhirnya menyerangnya sendiri.
Pesan Andra lewas aplikasi hijau kesukaanya.
Sepuluh menit baru ada balasan dari Zara.
"Kabarku baik Kak, aku tadi sama Dewi beli jajanan, aku suntuk sendiri di apartement."
"Apa cuma berdua Ra?"
"Iya, kami hanya berdua, karena aku yang menjemputnya dari kerjaan."
Lalu sipaa lelaki bertampang bule itu, sedangkan mereka bagai saling mengenal, pikir Andra.
"Besok kau sudah boleh mulai bekerja, apa mau aku jemput?"
"Tidak perlu Kak, aku akan berangkat sekalian dengan Dewi."
"Oke, aku tunggu besok di resto."
"Baik Kak."
"Ra.."
"Iya ada apa Kak?"
"Aku kangen."
__ADS_1
Zara hanya membalas dengan emot cium cinta.
Andra tersenyum gemas dan mengalihkan ke panggilan vidio.
Zara yang tak sadar pun langsung menggeser tombol vidio di ponselnya.
Untuk sepersekian detik Andra diam membeku, jantungnya tiba-tiba berdetak sangat cepat dan mukanya teras panas.
Bagaimana mungkin Zara dengan santai menerima panggilan vidionya saat dirinya hanya berbalut handuk putih.
Bahkan tatapan Andra nanar menatap layar ponsel.
Handuk yang membalut sebatas dadanya membuat leher jenjang putihnya terekspose sempurna.
Glek.
"Kak ada apa Kakak memanggilku?" tanya Zara masih belum sadar itu bukanlah panggilan biasa namun panggilan vidio.
"Ra, kamu habis mandi?" tanya Andra gugup.
Rupanya Zara sedang duduk di meja rias dengan ponsel ia hadapkan padanya.
"Iya Kak, kok Kakak tahu?" tanya Zara sambil mengeringkan rambutnya.
"Lihat ponsel dulu Ra, ini panggilan vidio" Andra tak mau jika nanti ada adegan delapan belas plus-plus yang bisa membuat juniornya mengeras.
Zara sontak menatap ponselnya dan.
"Astagaaa."
Dan untuk selanjutnya Andra hanya bisa tersenyum kecut saat Zara mematikan panggilannya.
Ia menggaruk kepalanya yang terasa gatal, hampir saja ia mendapatkan jackpot.
"Kakak jahat, kenapa nggak bilang kalau Kita sedang dalam panggilan vidio" pesan Zara yang di akhiri emot wajah marah.
"Lha masa kamu nggak lihat, timbol kamera yang kamu geser?" Andra membela diri.
"Aku nggak lihat Kak"kali ini emot nya berganti menjadi emot nangis.
"Udahlah Ra, makannya tadi aku langsung nyuruh kamu periksa layar ponsel, kalau enggak ya aku lah yang untung he hee."
"Ih Kakak, mesum."
"Ya bukan mesum juga Ra, toh nanti juga yang ada di kamu pasti menjadi miliku."
Untung saja Zara sudah menutup panggilan Andra, kalau tidak wajahnya yang bak kepiting rebus itu terlihat jelas oleh Andra.
"Udah dulu Kak, aku mau tidur, ngantuk" pesan Zara yang tangannya masih bergetar karena shock.
"Iya Ra, selama tidur, tapi jangan lupa pakai baju dulu ya, takut masuk angin, bye cinta."
Zara teriak menutup mukanya, pesan terakhir Andra membuatnya ingin sekali menghapus ingatan pemuda yang tadi menelpon nya.
Di ujung telepon, Andra tersenyum gemas sambil membayangkan leher jenjang putih mulus Zara, ingin rasanya ia membuat jejak kiss mark di sana.
__ADS_1
Ahh, apa aku harus mandi lagi, Andra bermonolog sendiri saat juniornya sudah sangat mengeras di bawah sana dan butuh pelepasan.