
"Ada apa Lu, gelisah amat" tanya Juned saat Andra beberapa kali melihat jam di pergelangan tangannya.
"Gue kangen istri Gue.."jawab Andra jujur.
"Heh gemblong gosong...mentang-mentang udah sah suami istri, baru beberapa jam nggak ketemu udah kangen aja Lu....sialan!" hardik Juned ketus.
Andra tersenyum masam, memang begitulah keadaan hatinya saat ini, baru dua jam ia meninggalkan Zara tapi rasa rindunya sudah tak tertahan.
"Gue balik sekarang, Lu jangan lupa bilangin si Diego juga" Andra bergegas meninggalkan ruangan Cafe.
Namun keberuntungan rupanya sedang menjauh dari pria tampan itu, mobilnya terjebak kemacetan kota, ia meremat kemudi berkali-kali, jika biasanya ia santai menyikapi macetnya kota, tapi berbeda dengan kali ini, hati dan pikirannya selalu terfokus pada Zara istrinya yang ia tinggal di mansion.
Ahh kenapa aku bisa segila ini merindukanmu sayang, bahkan sehari pun aku tak bisa menahannya, ucap batinnya.
Matanya memandang kendaraan di sekelilingnya yang juga diam tanpa gerak.
Beberapa kendaraan roda dua dengan pengemudi berjaket hijau melewati mobilnya dengan santai, gerak zig-zag lincah sang pengendara saat melewati sela-sela mobil membuat Andra tampak gusar, terbersit pikirannya untuk meninggalkan mobilnya dan memesan ojek online.
Namun akhirnya keinginanya pupus saat perlahan mobilnya mulai bergerak maju.
Dua jam akhirnya waktu yang di perlukan Andra dari cafe juned ke mansionnya, tiga kali lipat dari waktu tempuh biasanya.
Dengan gerak cepat ia memarkirkan mobilnya lalu bergegas keluar menuju mansion, langkahnya panjang saat membuka pintu.
"Sayang ...di mana kau?" panggilnya pada Zara.
"Sayang , aku pulang..." Andra berlari ke kamarnya di lantai atas.
Ceklek.
Beberapa detik Andra memindai ruang kamar dan tampak sepi lalu ia menuju ke ruang home teater dan ternyata di sana pun sudah kosong.
"Bi...Bi mana istriku Bi" teriaknya lagi.
Hari mulai gelap, dan Dewi sudah pulang satu jam yang lalu dari mansion, saat ia menanyakan lewat pesan singkat pada Zara.
"Bibi....mana Zara istriku" Andra meninggikan suaranya menuju ruang dapur.
"Iya Den, Non Zara ada di kamarnya tadi Den."
"Tidak ada Bi...."Andra mulai panik.
"Tapi baru bilang, katanya mau mandi."
Andra dengan langkah panjang kembali melangkah ke kamarnya.
__ADS_1
Ceklek.
Kecemasan yang menyelimuti hati Andra seketika sirna.
Dengan wajah polos dan bathrobe yang melekat di tubuhnya, Zara memandang Andra yang tengah kebingungan.
"Babe sudah pulang?" tanya nya sambil membetulkan handuk kecil di kepala yang membalut rambutnya.
Greepp.
Andra berlari merengkuh tubuh Zara ke dalam pelukannya, sungguh detak jantungnya seakan berhenti saat tak menemukan Zara di beberapa tempat.
"Kenapa kau tidak menyahut panggilanku heum? Apa kau ingin suamimu ini mati muda..." cerca Andra.
"A aku di kamar mandi, dan tak mendengar kau datang, maaf..." Zara berucap lirih dengan wajah penuh sesal.
"Kau sudah mandi? kenapa tidak menungguku heum?" Andra melembutkan suaranya, tak tega melihat wajah Zara tertunduk murung.
"Aku sebenarnya belum selesai mandi, aku mau mengambil shampo miliku, tadi Dewi yang membawakan dari apartement."
Blusss.
Bagai kemarau panjang yang di siram air hujan, hati Andra begitu sejuk mendengar kalimat sang istri.
Andra membopong Zara ala bride style ke kamar mandi lalu perlahan menurunkannya di dekat bathub.
Dan Zara pun tak bisa menolak saat Andra mulai melucuti handuk dan bathrobe yang melekat di tubuhnya.
Meski sudah beberapa kali melakukan penyatuan tapi Zara masih belum terbiasa membiarkan tubuh polosnya terpampang di hadapan Andra.
Tangannya menyilang menutupi dada dan bagian inti tubuhnya, wajahnya pun sudah me merah bak kepiting rebus.
Andra tersenyum gemas sambil melepas baju di tubuhnya satu persatu, ia terkekeh saat Zara memalingkan wajahnya ke arah lain kala kain di tubuhnya telah ia lepas semua.
"Kenapa kau menutup matamu sayang, apa kau tak ingin melihat wajah tampan dan tubuh kekar suamimu ini?"
Zara menggeleng cepat, bisikan Andra di telingannya membuat bulu halus di tengkuknya meremang sempurna.
Dan perlahan Andra mengangkat tubuh Zara untuk masuk ke bathub yang memang sudah terisi air hangat.
Zara masih memejamkan matanya dengan debaran jantung yang kian tak beraturan, ia duduk di atas tubuh Andra yang mulai mengusap seluruh permukaan kulitnya dengan busa.
"Babe biar aku saja ..."suara Zara terbata lirih.
Andra tersenyum gemas, tubuh putih mulus Zara kini duduk di atasnya yang tentu saja ia bisa leluasa mengakses tangannya ke seluruh tubuh sang istri.
__ADS_1
"Babe sshh aahh.." ******* Zara akhirnya lolos saat jangan jahil Andra mulai menjamah, meremas dan memilin tubuh sensitifnya, membuat Andra semakin bersemangat melakukan aksinya.
Sensasi bermesraan di dalam air sangat nikmat, bahkan belalainya yang sudah menjulang tegak di bawah sana membuat Zara bergidik ngeri.
Namun kelembutan dan sensasi yang Andra buat membuat Zara terbang melayang, bahkan saat Andra perlahan mengangkat tubuhnya lalu mendudukan di atas tubuhnya menghujam tepat di bagian inti tubuhnya.
Pekikan tertahan yang bercampur kenikmatan tiada tara di rasakan oleh keduanya.
Andra mendesah perlahan, dengan naluri alami Zara menggoyangkan tubuhnya perlahan di atas tubuh suaminya.
"Good girl...ahhh..."ucap Andra lirih.
Dan kamar mandi yang tadi hening kini di penuhi suara gemericiknya irama air dan ******* saling bersahutan menyatu dengan kenikmatan yang tengah di rasa keduanya.
Jika menikmatan Andra dan Zara mereka nikmati karena memang keduanya sudah ada ikatan sah suami istri, berbeda dengan di sebuah kamar apartement lain.
Sandy memacu tubuhnya dengan gerakan cepat saat Fitri memintanya untuk mempercepat irama karena ia hampir mencapai puncak.
"Oh San...cepat lah ..ahhh."
"Tahan sebentar honey...sebentar..seben...aahh"
Lenguhan panjang keluar dari mulut Sandy, begitupun Fitri yang mencengkeram punggung Sandy erat.
Keduanya menikmati pelepasan untuk kedua kalinya malam ini.
"Honey i love you ..." bisik Sandy lalu mengurai tubuhnya dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
Sandy terkapar tak berdaya, dengan mata rapat terpejam menikmati lelahnya kegiatan mencapai surga dunia.
Fitri memandang wajah Sandy intens, pria yang mencintainya begitu besar, apa pun kesalahan yang telah ia lakukan, tak membuat Sandy membencinya.
Pantaskan aku menjadi milikmu, batin Fitri lirih.
Setelah apa yang telah di lakukan pada Sandy, melukai perasannya, menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping tapi pria itu masih saja selalu menerimanya kembali dengan ikhlas dan cinta yang tak pernah berkurang.
Pagi hari seperti biasa, Sandy membangunkan dengan kecupan lembut penuh kasih sayang.
Dua hari di apartement dan di ratu kan oleh Sandy membuat Fitri begitu terharu, selama ini tak ada yang tulus menyayanginya, ia di sayang dan di perhatikan hanya karena harta yang ia miliki.
"Honey...apa kita akan tetap di apartement saja?"tanya Sandy penuh selidik.
"Kenapa memangnya San?" tanya balik Fitri.
"Tiga hari lagi Andra akan melaksanakan pesta pernikahan..." ucapan Sandy menggantung, ia ingin melihat reaksi di wajah Fitri.
__ADS_1