Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU* 50


__ADS_3

Andra memarkirkan mobilnya di gedung di mana apartemen Zara berada.


Andra duduk di kursi lobi yang lengang, beberapa saat yang lalu pesannya sudah terkirim bahkan sudah centang biru dua.


Dengan gelisah matanya berkali-kali melirik layar ponselnya berharap muncul pesan dari gadis yang kini tengahmembuat hatinya tak menentu.


Sementara Zara tengah asik menikmati camilan yang di buat Dewi sebelum berangkat kerja tadi.


Waktu menunjukan pukul sembilan lebih tiga puluh menit, ia harus bersiap untuk menjemput Dewi dari tempatnya kerja.


Celana jeans tiga perempat dengan kaos putih berbalut cardigan hitam, Zara pun keluar dari apartemen dengan kunci mobil di saku celana belakangnya.


Topi hitam ciri khas yang tak pernah lupa ia pakai saat keluar ruangan, menjadi pelengkap OTD nya malam ini.


Langkahnya ia kayuh dengan cepat, berharap malam ini jalanan lancar hingga Dewi tak perlu harus menunggunya.


Andra yang baru menyadari kedatangan Zara tampak terkejut karena Zara terlihat tergesa-gesa ke luar dari gedung apartemen.


Di ikutinya mobil sejuta umat berwarna hitam milik Zara yang melaju membelah kota.


Tangannya tampak kencang memegang kemudi, kesal hati Andra saat Zara mengacuhkan pesannya.


Tak ingin terulang kejadian saat dirinya kehilangan jejak Zara, Andra pun melajukan kendaraannya dengan cepat dan tak membiarkan jarak mereka semakin jauh.


Zara yang tak menyadari ada mobil lain mengikutinya tetap saja tenang bahkan senandung kecil keluar dari mulut mungilnya.


Zara benar-benar lupa bahwa ada seseorang yang sedang menunggu balasan pesan darinya.


Kedua mobil yang berjalan saling berurutan dengan jarak tak lebih dari tiga meter menuju ke sebuah mall di pusat kota.


Zara keluar dari mobil hitamnya dan menunggu di parkiran mall.


Andra pun memarkirkan kuda besi nya tak jauh dari Zara.


Tok tok.


"Ra" Zara menoleh ke sisi dimana seseorang mengetuk kaca mobilnya.

__ADS_1


"Kak Andra, ngapain di sini?" gondok hati Andra tak terkira, tak pernah ia merasa se kesal ini di kacangin oleh seorang gadis.


"Kita harus bicara."


Zara keluar dari mobilnya dan mengikuti Andra.


Di sebuah tembok pembatas parkiran keduanya kini saling berdiri berhadapan.


"Kenapa kau tak balas pesanku?" tanya Andra dengan nada dingin.


"Maaf kak, aku lupa."


"Hah" mata Andra membulat tak percaya.


Baru kali ini ia merasa di pandang sebelah mata oleh seorang gadis.


Bukan hal baru bagi Andra jika banyak para gadis yang histeris saat melihat dirinya.


Bahkan dengan berani mereka mengutarakan rasa suka padanya.


Dan Andra yang memang tak memiliki rasa ketertarikan pada para gadis yang tampak genit itu pun tak pernah merespon mereka.


Apakah ini karma untuknya, setelah mengecewakan banyak gadis kini hatinya merasa begitu kesal dan kecewa karena merasa di acuhkan.


"Maaf kak, tadinya aku mau balas pesan kakak, tapi Dewi minta untuk segera di jemput" terang Zara dengan wajah tertunduk penuh rasa sesal, sungguh tak ada maksud hatinya untuk tak menjawab pesan dari Andra.


Kini Andra tahu apa yang menyebabkan Zara me nomor duakannya.


Untung saja Dewi cewek, kalau dia ....


"Haiss" Andra menggelengkan kepalanya berharap pikiran yang membuatnya kalut menghilang.


Bagaimana bisa ia begitu posesif pada gadis yang bukan apa-apanya.


"Ra aku mau kita pacaran beneran."


Kalimat yang meluncur dari mulut Andra dengan cepat membuat Zara membeku.

__ADS_1


"Apa maksudnya kak?"


"Aku mau hubungan setingan kita selama ini di rubah menjadi hubungan sesungguhnya."


Ucap Andra dengan netra tajam menatap Zara.


Andra merasa sudah cukup penderitaannya selama ini, penderitaan karena menahan rasa yang selalu menyesakan dadany, selalu membuat detak jantungnya tak menentu dan membuat rasa cemburu yang membabi buta jika melihat kedekatan Zara dengan lelaki lain bahkan meski itu adalah para penggemarnya.


Andra ingin Zara seutuhnya menjadi miliknya.


"Tapi kenapa kak Andra tiba-tiba ingin merubah perjanjian yang sudah kita buat."


Zara bertanya dengan mata tajam menatap Andra.


"Karena kini aku sadar, hatiku sudah terpatri untukmu aku hanya ingin kau menjadi miliku satu-satunya, aku tak ingin kau pergi dariku aku tak sanggup jika melihat kau bersama dengan pria lain, Ra ijinkan aku menempati hatimu."


Andra meraih kedua tangan Zara, dan menggenggamnya erat.


Zara tamoak ragu mengurai genggaman Andra, sungguh ia sama sekali tak menduga jika sosok Andra yang tampak cuek dan dingin kini berubah begitu mendambanya.


Bahkan tatapan penuh harap akan balasan isi hatinya.


Zara belum siap akan hal ini, ia sama sekali tak mengharap hubungan setingannya selama ini akan berubah menjadi hubungan yang sebenarnya, dan hati Zara belum siap untuk di miliki oleh seorang pria, ia masih ingin meneruskan kuliahnya, melanjutkan cita-citanya dan mengembangkan profesinya.


"Ra, aku tahu ini pasti membuatmu terkejut tapi aku sungguh-sungguh tentang perasaanku padamu Ra, aku bukan terbawa perasaan, rasa ini sungguh berasal dari hatiku paling dalam."


Meski ini bukan ungkapan cinta yang di terimanya pertama kali, tapi jantung Zara tetap saja merasa berdebar, netra bening Andra yang begitu menghiba seakan menghipnotisnya.


"Kau tak perlu menjawabnya sekarang, aku ingin kau memikirkannya baik-baik, aku akan sabar menunggumu."


Andra melangkah meninggalkan Zara yang masih berdiri dengan menatap punggungnya dengan tatapan kosong.


"Ra.."


Zara membalikan tubuhnya dan melihat Dewi tengah menatapnya tajam.


"Wi.." ujar Zara dengan senyum masam melihat tatapan Dewi yang tak biasa.

__ADS_1


"Sejak kapan kau berdiri di situ?" tanya Zara.


"Sejak ku dengar bahwa hubungan kalian selama ini ternyata hanya sebuah hubungan palsu."


__ADS_2