Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*136


__ADS_3

Setelah menyelesaikan tugasnya di butik, Andra menuju ke restoran miliknya setelah jam makan siang.


Suasana restoran yang kebetulan ramai membuatnya tak bisa menjumpai Zara.


Hanya bisa memandang dari jarak beberpaa langkah dari ruangan kerja Zara.


Zara sesekali melambaikan tangan ke arahnya dengan senyum manisnya.


Andra hanya bisa mengelus dada, berharap agar kesabaran masih cukup untuk menghadapi kegundahan hatinya.


Rasanya ia ingin segera menculik Zara dari tempatnya dan membawa kabur ke apartement miliknya.


Banyaknya pengunjung membuat Zara begitu sibuk, bahkan untuk sekedar menyapa Andra pun ia tak sempat, dan hal tersebut membuat pria tampan itu uring-uringan, apalagi sang mommy meminta untuk menjemputnya sore ini.


"To, tolong bilangin sama Zara nanti, Gue pulang dulu jemput mommy, suruh dia tunggu Gue, " titah Andra pada anak buahnya.


Wanto hanya mengangguk setengah paham karena ucapan Andra begitu cepat hingga telinganya hanya mendengar samar.


Tak terasa waktupun cepat berlalu, Zara segera membereskan pekerjaannya karena ia harus segera pergi bersama Dewi ke perusahaan klien terbarunya.


"Mbak, tunggu.." teriak Wanto sambil berlari menyurul Zara yang akan pergi.


"Ada apa bang?."


"Ehm a anu Mbak, kata si Bos, Mbak Zara jangan dulu pulang, di suruh tunggu Bos dulu bentar."


Zara melihat jam di pergelangan tangannya.


"Yaa aku harus segera pulang nih To, ada urusan darurat" jawab Zara dengan penuh sesal.


"Tapi Mbak, nanti si Bos marah sama saya."


"Ya udah nanti aku yang akan hubungi dia langsung Bang, nggak usah takut di pecat oke.."


Zara melambai ke Wanto dengan senyum manis.


Wanto mengusap dadanya yang berdebar kencang tak karuan.


"Wahai hati, sadar dirilah kau" ucapnya bermonolog lirih.


Zara melaju kendaraannya menjemput Dewi, untung saja dia sudah keluar dari gedung mall sehingga Zara tak perlu masuk.


"Kita langsung saja Wi, mereka sudah menunggu di tempat kemarin."

__ADS_1


Dewi mengangguk lalu menambah kecepatan motor maticnya dan tak sampai satu jam mereka pun sampai.


Tim yang bertugas me make up Zara langsung dengan cekatan memoles wajah cantiknya.


Rupanya mereka sudah banyak mendapat informasi tentang Zara hingga semua baju dan penata rias me make over Zara dengan cepat dan singkat.


Bahkan pemotretan di lakukan dengan pembagian waktu yang sangat efisien.


Zara dan Dewi memandang dengan takjub hasil jepretan fotografer profesional yang mereka siapkan.


Decakan kagum tak henti keluar dari bibir Dewi.


Jiak biasanya ia mengambil gambar dengan peralatan sederhana tentu saja hasilnya tidak maksimal, beda dengan fotografer itu, yang dengan menggunakan peralatan canggih dan kamera super mahal, hasilpun tidak akan pernah mengecewakan, pikirnya.


Keduanya pulang dengan senyum puas, perusahaan furniture tersebut menyambut dan memperlakukan keduanya dengan sangat istimewa, banyak makanan dan kue-kue lezat mereka sediakan, bahkan kini dua bungkusan besar mereka berikan untuk di bawa pulang dua sahabat itu.


"Wah, sering-sering aja kita dapat kerja sama dengan orang-orang baik seperti mereka ya Wi" ucap Zara di belakang Dewi.


"Iya udah bayaran gede, kerja singkat dapet makanan enak lagi beuh" timpal Dewi dengan senyum lebar.


Suasana hati yang bahagia membuat perjalanan terasa singkat.


"Gue mau langsung mandi Wi, mau tidur ..capek gue" ujar Zara yang langsung melangkah ke kamarnya.


"Heum oke" ucap Dewi yang juga langsung ke kamar.


"Heum ada apa Wi" tanya Zara dengan suara berat.


"Kita dapat job lagi besok Ra, gimana?" tanya Dewi antusias.


"Heum udah terima aja" jawab Zara cepat karena memang matanya terasa sangat berat dan ingin segera mengakhiri panggilan.


Dewi mencibir kesal namun ia langsung tersenyum.


Tentu saja sebagai manager, Dewi menerima tawaran langsung dari para klien dan di tangan Zara lah keputusan mutlak.


Jika Zara sudah mengatakan 'ambil' maka ia bisa membayangkan pundi rupiah akan masuk ke tabungannya.


Tok tok tok.


"Ra lu udah bangun belom?" tanya Dewi dari balik pintu.


Ceklek Zara keluar dengan setelan baju tidur masih dengan wajah bantalnya.

__ADS_1


"Lu semalam bilang apa si Wi?" tanya Zara bingung.


"Aaawwk" pekik Zara yang kena toyoran sahabatnya.


"Lu dapat order lagi, siang ini Lu ada pemotretan di sebuah taman rekreasi di daerah puncak."


Mata Zara membeliak lebar.


"Tapi kan Gue kerja Wi" elaknya, ia masih tak menyadari bahwa ia sudah menyetujui kontrak kerja tadi malam.


"Ya Elu kan sudah bilang 'ambil' ya Gue ambil lah" ucap Dewi jujur.


Zara menghela nafas berat, kini ia harus ijin pada pihak restoran karena pengambilan gambar di lakukan sebelum pukul dua belas siang.


Untunglah pihak restoran menyetujui ijinnya karena kebetulan mereka mengajarkan beberapa karyawan untuk di tugaskan bagian kasir jika terjadi sesuatu yang mendesak.


Dan tentu saja Andra yang baru mendapat berita ini setelah ia sampai di restoran melampiaskan kekesalan pada mereka yang menerima ijin Zara.


Setelah kemarin ia gagal meminta Zara menunggunya, kini bahkan ia tidak akan berjumpa dengan sang kekasih lagi, hal itu membuat moodnya sungguh sangat buruk.


Tak ada selera makan, tak mau bicara, bahkan wajahnya sungguh menyeramkan karena tak ada sama sekali sapaan ramah dan senyum manis seperti biasa.


Dewi yang bisa di hubunginya hanya bisa memberi informasi singkat, hari ini Zara ada pemotretan di sebuah tempat rekreasi di daerah puncak dan akan membutuhkan waktu sampai malam.


Andra meremat kepalanya frustasi, apalagi malam ini Pak Menteri resmi mengundangnya untuk makan malam.


Dengan langkah gontai Andra memasuki mansion, penampilan lusuh sang putra membuat Maharani terheran-heran.


Andra terus melangkah ke kamarnya dengan langkah lunglai, sama sekali tak ada semangat untuk pergi ke kediaman Fitri.


Dewi yang hari ini pun ikut ijin selalu berada di samping Zara, memastikan semua keperluan sahabatnya itu tersedia dengan rapi.


Suasana puncak yang sejuk dengan pemandangan begitu indah dan asri membuat keduanya merasa betah dan nyaman.


Wahana baru yang di miliki seorang pengusaha muda kaya itu menyediakan bermacam-macam wahana, Zara hanya di minta untuk berfoto di area wahana tersebut.


Kegiatan yang baru selesai malam hari membuat Zara dan Dewi langsung terkapar di vila yang sudah di sediakan, untung saja motor matic Dewi ia parkir di rumah salah satu sahabatnya karena tim yang bekerja sama dengan Zara di haruskan untuk naik kendaran yang sudah di sediakan.


Bahkan selama di perjalanan pulang keduanya lelap dalam tidur mereka.


"Ra Gue cape, motor titipin di sini aja gimana?" tanya Dewi yang tubuhnya begitu lelah, seharian mengikuti Zara membuat kedua betisnya berubah kencang bagai betis kang becak.


"Iya Gue juga cape Wi, kita naik taxi aja."

__ADS_1


Manu yang mengamati keduanya dari jauh pun tersenyum lega.


Dengan naik taxi mereka tak perlu lagi harus kedinginan terkena angin malam mengendarai motor matic mereka.


__ADS_2