
Revan pulang dari rumah sakit dengan muka masam, ia terpaksa meninggalkan Zara dan Andra berdua karena anak buahnya mengabarkan berita penting.
Di sebuah cafe yang terletak di pinggiran kota kini Revan berada, di depannya duduk anak buah yang baru saja mendapatkan informasi berharganya.
"Apa yang Lu dapat?" tanya Revan datar.
Pria bertubuh tegap memberikan sebuah map berisi, foto yang di dapatnya selama pencarian informasi yang Revan inginkan
Revan membuka map dan mengamati beberapa lembar foto.
Pria yang pernah mereka lihat di pemakaman ibu Zara.
Pria yang tak lain adalahTuan Gunawan.
Tak seperti biasanya pria gagah itu menunjukan dirinya, apa yang membuat pria itu kini membiarkan dunia luar melihatnya.
"Kami mendapatkan informasi bahwa Tuan Gunawan pernah menikah dua kali namun pernikahan keduanya hanya berlangsung selama satu tahun, dan ..."kalimat anak buah Revan terhenti.
Pria itu menunduk ragu.
"Dan apa? katakan sejujurnya Jo, apapun itu, aku akan menerimanya" ucap Revan tegas.
"Wanita kedua yang Tuan Gunawan nikahi adalah Nyonya Reni" jawab Tejo lirih.
"Jadi benar ibu pernah menikah dengannya?" Suara Revan lirih dan bergetar.
Benarkah ia satu Ayah dengan Zara, batin Revan ingin menjerit, dadanya terasa sesak.
"B bos,.." panggil Tejo dengan wajah panik, Revan tampak pucat.
"Jadi benar kami satu Ayah?" tanya Revan lirih.
Tejo Revan menutup mulut dengan kedua tangannya, rupanya sang Bos berfikir mereka memiliki ayah yang sama.
"Bos, tolong dengarkan cerita saya sampai selesai" ujar Tejo panik melihat Revan wajahnya memucat.
"Apa lagi yang harus kuketahui? hanya satu yang ingin aku tahu kebenarannya, apakah aku dan Zara memang memiliki hubungan darah, selebihnya tak penting."
"Tapi memang kalian tidak satu Ayah" ucap sang anak buah dengan pasti.
"Bos, Tuan Gunawan menikah dengan nyonya Reni saat anda berumur sembilan tahun, jadi Tuan Gunawan bukan Ayah anda Bos" sambung Tejo.
Revan menatap netra anak buahnya dengan tatapan penuh sejuta makna, jika benar cerita itu maka ia akan sangat bahagia.
__ADS_1
"Benarkah?"
Tejo mengangguk pasti.
"Jika Bos masih ragu, bos bisa melakukan tes DNA, dan sekarang lah kesempatan bagus, saat nona Zara sedang di rumah sakit, anda akan mempunyai banyak kesempatan untuk mengambil sample rambut untuk di kirim ke laboratorium, dan anda akan tahu dengan jelas dan akurat."
Revan menatap Tejo penuh harap, rencana yang cukup bagus, pikirnya.
Dengan begitu ia bisa memiliki senjata ampuh jika nantinya berhadapan dengan Andra, pria yang menjadi kekasih settingan Zara.
Karena sampai kapan pun Revan tak akan pernah rela melepas Zara dari sisinya.
Ia harus secepatnya menyelesaikan kesalah pahaman ini, Zara masih saja menganggap mereka satu Ayah dan itulah alasan yang ia katakan untuk berpisah darinya.
Namum masih ada ganjalan yang ada di dada pria tampan itu, apa yang menyebabkan ibunya beberapa hari ini tampak begitu bersedih.
Waktu yang kian beranjak siang, Revan pun menuju ke kantor, tak enak rasanya pada Roy yang selalu kerepotan karena tugasnya menumpuk karena seringnya ia keluar kantor.
Revan berniat untuk kembali ke rumah sakit sore nanti sepulangnya dari kantor.
Ia sudah berpesan pada Wisnu, sahabatnya yang ia minta untuk memantau kondisi kesehatan Zara.
Ia pun hanya tersenyum masam saat Wisnu protes karena Zara telah memiliki kekasih baru, Wisnu tak ingin di jadikan sebagai biang kerok jika hubungan antara Zara dan Andra putus karenanya.
"Awas Lu ya, kagak mau Gue jadi perusak hubungan orang gara-gara Elu, udah Lu relain aja Zara, cari gadis lain, masih banyak di luar sana gadis cantik model atau pun artis yang pasti mau sama Elu" ucapan enteng Wisnu membuat Revan menghela nafas panjang.
"Gue hanya mau dia, dan ingat, status mereka masih sepasang kekasih, belum menjadi pasutri, jadi Gue masih berhak untuk memperjuangkan cinta Gue, ngerti?" hardik Revan kesal pada sahabatnya itu.
"Serah Lu deh" Wisnu lalu menutup telepon dan melangkah menuju ruangan Zara.
Memang seminggu ini kebetulan jadwal sift siang.
Tok tok tok.
"Selamat pagi Nona Zara, bagaimana kabarnya pagi ini?" sapa Wisnu ramah.
Zara mengangguk dengan senyum ramah, meski Andra di samping Zara namun Wisnu bersikap cuek, seakan pria tampan yang selalu posesif pada Zara tak ada di ruangan ini.
Andra hanya bisa menghela nafas kasar, apalagi saat Zara selalu menatap lekat ke Dokter tampan itu saat ia memeriksanya.
Panas rasanya darah Andra, Dokter itu tak hentinya tebar pesona dengan memamerkan senyum manis, ingin ia mentoyor Dokter itu kalau bisa mengajaknya duel one by one, hatinya sungguh tak rela jika dokter itu terus berdekatan dengan Zara.
Setelah pamit Wisnu pun bersorak girang dalam hati, ia berhasil mengambil satu helai rambut Zara yang jatuh di atas ranjang.
__ADS_1
Senyumnya mengembang sempurna, Revan mau membayarnya dengan harga tinggi jika ia berhasil mendapatkan sample rambut Zara.
Karena Dewi sedang sift pagi, tentu saja ini adalah kesempatan Andra untuk bisa menjaga Zara, meski sudah ada perawat yang akan selalu siap di perintah selama dua puluh empat jam.
Seorang perawat datang membawakan makan siang.
"Makan Ra, aku suapin ya" ucap Andra lembut.
"Aku bisa sendiri Kak."
Meski menolak namun Andra bersikeras untuk tetap menyuapinya makan.
"Sudah Kak, cukup" ujar Zara karena makanan rumah sakit sangat lah tak enak,dan nafsu makannya pun tak ada.
Keduanya masih terasa canggung, Zara masih membatasi bicaranya saat dengan Andra.
"Ra, aku mau bicara" ujar Andra dengan wajah serius, ia sudah tak sabar terus di diamkan oleh gadis di depannya.
"Bukannya dari tadi Kakak sudah bicara."
"Tapi ini serius, kenapa kau berubah Ra?"
"Apa maksud Kakak, aku berubah?" Zara membela diri, karena ia merasa Andra lah yang berubah, pria itu seakan menghidarinya.
"Kenapa beberapa hari ini kau seakan menjaga jarak dariku Ra, kau menghindar dariku, kau bahkan mendiamkan aku, apa salahku Ra?" pertanyaan bertubi keluar dari mulut Andra.
Seakan ia ingin mengeluarkan seluruh isi hatinya.
Zara menghela nafas panjang.
"Aku tidak menghindari Kakak, dan aku tidak mendiamkan Kakak, buktinya sekarang kita sedang bicara" elak Zara.
Andra menyugar rambutnya kasar, lalu meraih tangan Zara.
"Ra, kamu tahu, itu sangat menyiksaku Ra, katakan apa salahku, apa yang harus aku lakukan agar kau tak lagi bersikap seperti ini?" tatapan Andra tajam ke netra bening Zara.
Zara menarik tangannya berusaha mengurai genggaman pria tampan itu namun Andra tetap tak melepasnya.
"Ra, biarkan aku menggenggam tanganmu, tatap mataku dan katakan sejujurnya apa salahku Ra, biar aku akan memperbaikinya."
Zara tampak gugup, tatapan Andra sungguh menghujam jantungnya membuat dadanya berdebar kencang.
"Kak lepas Kak, nanti teman mu datang kesini" kalimat yang lolos, dari mulut Zara sontak membuat Andra tertegun.
__ADS_1