
Sebelum baca ingat yaaa like, vote dan koment nya, bunga dan kopi jangan lupa, biar author tambah semangat up nya happy reading 😘😘😘
💦💦💦💦💦
Zara memandang Dewi yang tampak gugup.
"Lu kenapa Wi?"
"Hah,aku tidak apa-apa, ini ada notifikasi transferan dari bu Ayu, katanya bonus tambahan, sekarang dagangannya laris manis sejak lu review kemarin"ucap Dewi.
"Syukurlah, lumayan buat nambah modal gue"Zara tersenyum senang.
Krucuukk
Dewi menoleh ke arah sumber suara, yang tak lain adalah perut Zara.
"Lu lapar Ra?".
Zara mengangguk pelan, terakhir makan siang tadi, karena saat di cafe ia hanya menghabiskan segelas jeruk hangat.
"Ayo kita cari bubur ayam"ajak Dewi lalu mengambil jaketnya di kamar.
"Apa tidak terlalu malam Wi?"Zara melihat dinding dan waktu menunjukan pukul setengah sepuluh.
"Ehm sudah malam tapi belum terlalu malam, semoga masih ada tukang bubur yang buka" Dewi mengambil kunci motornya.
"Apa nggak pake mobil aja Wi, kan dingin"ucap Zara.
Dewi melihat ke arah Zara, kondisi tubuhnya yang masih lemah jika di tambah angin malam, akan memperburuk kesehatannya, pikir Dewi.
"Baiklah kita pake mobil tapi gue yang bawa"ucap Dewi pasti.
"Tapi kan lu belum punya sim Wi"
"Halaahhh, malem-malem mana ada razia"ucap Dewi santai.
Zara akhirnya duduk dengan wajah sedikit tegang di samping Dewi yang mulai mengemudikan mobilnya.
"Lu tegang amat Ra, tenaang gue nggak bakal ngebut kok"ujar Dewi melirik Zara.
"Ehhmmm"Zara hanya menjawab singkat sambil berdo'a memohon Yang Kuasa agar jangan dulu memerintahkan Izrail untuk menemuinya.
"Lu mau bubur ayam apa sate apa nasi goreng Ra?"Dewi mencoba mencairkan suasana agar mengurangi ketegangan Zara.
"Bubur ayam".jawab Zara singkat.
"Kalau tukang buburnya tutup?"sambung Dewi lagi.
"Sate".
__ADS_1
"Kalau..."
"Ishh lu udah jangan ngomong mulu bawel, nyetir ya nyetir aja nggak usah sambil ngobrol"jawab Zara tak dapat lagi menahan kekesalannya.
Zara merasa Dewi belum terlalu lancar mengemudikan mobil hingga membuat dirinya senam jantung.
Lima belas menit akhirnya mereka berhenti di salah satu tukang bubur ayam dengan konsep lesehan.
Zara menarik nafas lega.
Cuaca cerah membuat warung itu masih banyak pengunjung yang menikmati bubur ayamnya, baik yang makan di tempat atau pun di bawa pulang.
Zara dan Dewi mengambil tempat di sudut tenda.
Ada beberapa pasangan muda-mudi yang tengah asik menyantap bubur bahkan ada yang menyantap seporsi berdua, entah karena ingin menikmati suasana romantis atau memang nggak ada duit.
"Wi ngapain lu liatin mereka terus"bisik Zara sambil mengunyah.
"Hmm liat tuh, cowok nggak bermodal ya gitu, alesannya beli satu porsi dan makan berdua, biar di kira romantis padahal mah hmm, paling bawa duit pas-pas an"cibir Dewi membuat Zara tersenyum.
"Makannya Wi lu cari pasangan biar ngerasain sensasi makan sepiring berdua"senyum Zara mengembang.
"Halahhh, kalau gue mah ogah, mending jomblo tapi bahagia, daripada punya pacar tapi makan ati"Dewi berucap sambil mencebikan bibirnya.
"Eh lu bilang romantis makan sepiring berdua, apa lu dari sekian pacar lu, pernah makan romantis"Zara mencelos mendengar pertanyaan Dewi.
Zara dalam menjalin hubungan dengan seorang pria, tak pernah melebihi batas, apalagi memang ia tak pernah menyukai semua mantannya itu.
"Eh gimana si Revan, apa sekarang dia sudah menerima bahwa lu sekarang udah punya pengganti?"tanya Dewi.
"Entahlah".
"Apa lu nggak nyesel Ra, Revan itu beda dari para mantan lu, yang gue tahu dia lelaki setia dan mencintai lu tulus".
"Kemarin dia begitu cemas saat mendengar lu lagi sakit"jelas Dewi.
Zara menghela nafas panjang.
Bagaimana mungkin kami bersatu jika kami adalah saudara satu ayah, Zara membatin lirih.
Masih jelas dalam memorinya, saat ia tak sengaja melihat ayahnya bersama seorang wanita sedang bergandengan mesra di sebuah mall, di saat ibunya menahan sakit, tanpa rasa berdosa sedikitpun, ayah malah pergi dengan wanita lain.
Dan beberapa bulan lalu Zara melihat kembali wanita itu sedang bersama dengan Revan.
Saat di mana Revan ingin memperkenalkannya pada sang ibu, yang tak lain adalah selingkuhan ayahnya yang telah membuat Zara dan ibunya hidup menderita.
Karena rasa sakit di hatinya yang begitu dalam, Zara kini begitu membenci seorang pria yang tak pernah menghargai wanitanya, apalagi jika lelaki itu tukang selingkuh.
Dalam kamus Zara, tak ada cinta yang tulus di dunia ini selain cinta seorang ibu pada anaknya.
__ADS_1
Meski zara terkenal dengan model dengan julukan playgirl namun sebenarnya di hati Zara tak pernah ada cinta untuk para mantannya.
"Sudahlah ayo kita pulang"Zara tak ingin kembali mengenang masa sedih yang selalu membuat luka hatinya bagai tercacah sembilu.
"Hmm ayo"Dewi menggandeng Zara setelah membayar makanan.
Zara beranjak dari tempat duduknya setelah membenahi masker yang menutup sebagian wajahnya.
Beberapa pengunjung sempat melirik ke arah kedua gadis itu.
"Biar gue yang bawa Wi"bisik Zara cepat, tak ingin pengunjung lain mengenali identitasnya.
"Lu sanggup Ra?"tanya Dewi ragu.
"Hmm tenaga gue udah pulih"jawab Zara pasti lalu melajukan mobilnya.
Sementara di tempat lain, di sebuah butik ternama.
Andra tampak asik meng utak-atik ponselnya, Maharani juga sibuk dengan para karyawan butik, acara fashion show rutin yang di adakan sebulan sekali di butik ini tinggal dua hari lagi.
Dan esok adalah GR jadi mereka harus mempersiapkan baju dan gaun yang akan di peragakan nanti.
Maharani sesekali melirik ke arah Joy alias Andra, senyuman sang putra membuatnya begitu bahagia, wajah Joy akhir-akhir ini terlihat lebih ceria bahkan tampak lebih bersemangat.
Maharani yakin jika keberadaan Zara lah yang membuat hari-hari Joy kembali berwarna.
Karena malam telah larut, Maharani pun menyuruh para karyawan butik untuk pulang.
"Joy kita pulang sekarang sayang?".
Joy mengngguk lalu melangkah menuju ke mobilnya.
Sepanjang perjalanan Joy sama sekali tak mengajak sang mommy berbicara, lebih tepatnya Joy mengacuhkan Maharani karena seluruh perhatiannya masih tertuju pada akun milik Zara yang baru di lihatnya tadi.
Tak heran jika Zara di gilai oleh banyak lelaki , selain cantik ia pun ramah karena masih menyempatkan diri untuk membalas komentar dari para penggemarnya satu-satu, bahkan jika ada kalimat yang bernada merayu, zara tetap membalasnya dengan ramah.
Andra sempat geram saat membaca salah satu penggemar yang sangat tergila-gila bahkan nekad ingin melamarnya, namun Zara meladeninya dengan tenang dan penuh keramahan hingga penggemar fanatik itu tak tersinggung dengan penolakan halusnya.
Kau membuatku semakin ingin mengenalmu lebih jauh, gumam Andra dengan menarik gari lengkung di bibir membentuk senyum manis.
"Ehm hmm"
"E buset moomm, bikin kaget aja"Andra tersenyum masam dan melihat kaca spion, karena baru menyadari bahwa kini ia tidak sendiri di dalam mobil, ada sang mommy yang memperhatikannya sejak tadi.
"Apa hmm, jadi kamu lupa kalau ada mommy di belakangmu heh"tanya Maharani kesal, bisa-bisanya sang putra melupakannya.
"Dari tadi mommy perhatiin senyam-senyum sendiri mirip orang si*****, mikirin apa si Joy"tanya Maharani gemas.
Mikirin calon menantumu mom, batin Andra.
__ADS_1