Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
Thu*97


__ADS_3

Reni sungguh merasa sangat berdosa, jika dulu ia masih dengan keras kepala dan hatinya yang egois, menginginkan Gunawan untuk kembali padanya, sedangkan pria itu sudah memiliki seorang istri dan putri kecil yang cantik.


Sebuah keluarga kecil yang bahagia.


Namun itu semua hancur karena keserakahannya, ia kembali memikat Gunawan setelah kematian mantan suaminya.


Reni ingin kembali merajut benang kasih cinta pertamanya, ia tak perduli dengan kebahagiaan orang lain yang hancur karena kekejaman hatinya.


Gunawan yang ia ketahui menikah dengan seorang gadis karena paksaan kedua orang tuanya, menganggap mereka hidup bersama tanpa ada rasa saling cinta.


Memang awal mula pernikahan Gunawan dan ibu Zara, adalah perjodohan orang tua mereka namun ternyata dalam hati sepasang pengantin baru itu, tumbuh benih-benih cinta yang kian lama kian subur.


Nita yang berwajah cantik dan alami, mempunyai hati yang begitu baik dan lembut, kelembutannya memikat Gunawan hingga akhirnya pernikahan mereka membuahkan seorang putri cantik bernama Zara Zenita.


Putri cantik yang akhirnya tumbuh dalam hidup penuh derita dan kesedihan karena ulah keserakahan Reni, kini telah beranjak dewasa.


Hidup sebatang kara karena ibu dan neneknya telah meninggal, sedangkan sang Ayah pergi entah di mana, ia yang hidup berjuang sendiri tanpa sanak saudara, di tengah kejamnya dunia, akhirnya berhasil menjadi seorang model terkenal.


Reni begitu terpukul, mendengar berita dari salah satu sahabatnya yang mengatakan bahwa mantan istri Gunawan sudah meninggal, dan putri satu-satunya hidup sebatang kara, sedangkan Gunawan sendiri seakan menghilang di telan bumi, tak ada kabar berita apapun.


Dan yang membuat hancur hati Reni, putri Gunawan ternyata tak lain adalah gadis yang amat di cintai Revan sang putra.


Semakin ia merasa sangat bersalah pada kedua anak itu.


Zara yang telah hidup sebatang kara setelah ibu nya meninggal, sedangkan sang Ayah tak tahu rimbanya.


Dalam hal ini, ia lah orang paling berdosa selama ini, telah menghancurkan keluarga kecil yang bahagia.


Tok tok tok.


Reni terbangun saat suara ketukan pintu kamar terdengar nyaring.


"Nyonya makan dulu Nonya.." ucap Bibi dengan membawakan nampan berisi sarapan pagi.


"Masuk Bi."


Dengan ragu Bibi melangkah ke kamar Reni, waktu sudah menunjukan pukul sebelas siang, Reni sudah melewatkan beberapa jam sarapan paginya.


Bibi yang merasa cemas akhirnya memberanikan diri membawa sarapan yang sudah terlalu lambat untuk Reni.


Dengan lemah Reni bangun dari tidurnya.


"Maaf Nyonya, terpaksa saya bawa sarapan ke kamar, Nyonya belum sarapan dari pagi, saya takut Nyonya sakit" terang Bibi.


Reni hanya tersenyum hangat, entah jam berapa ia bisa memejamkan matanya tadi malam.

__ADS_1


"Ini sudah saya buatkan teh madu hangat untuk Nyonya, juga sop ayam agar tubuh Nyonya segar."


"Terima kasih Bi."


Perlahan Reni menyeruput teh madu hangat kesukannya, rasa pahit mulutnya sedikit berkurang.


"Makan sop nya Nyonya" ujar Bibi.


Reni menggelengkan kepalanya, ia sama sekali tak bernafsu makan pagi ini.


"Apa Revan sudah berangkat Bi?."


"Sudah Nyonya, tadi pagi Den Revan ke kamar ini, tapi Nyonya masih tidur, hanya pamit sama Bibi."


Reni mengangguk pelan.


"Bi, tolong ambilkan obatku di laci meja rias" titah Reni lirih.


Bibi pun menghela nafas panjang, sudah cukup lama Reni mengkonsumsi obat penenang itu.


Reni menutup tubuhnya dengan selimut lalu kembali merebahkan tubuhnya di kasur.


"Bi, aku mau tidur dulu, jangan bangunkan aku kalau tidak terlalu penting."


Setelah minum obat dan istirahat, mungkin rasa pusing di kepalanya akan berkurang, dan ia akan segera menghubungi anak buah kepercayannya untuk menyelidiki secara menyeluruh tentang Zara, mantan kekasih Revan, yang yang tak lain putri dari Gunawan.


Reni tak ingin terus di bayangi rasa bersalah, dosanya begitu besar pada gadis itu, namun Reni tetap akan berusaha untuk mendapatkan maaf darinya, meski ia harus melewati perjuangan yang panjang, pikir Reni.


Di waktu yang sama dan di tempat berbeda, Zara sesekali melirik ke arah Andra yang tampak asik dengan ponsel di tangannya.


Bibirnya sesekali tersenyum tipis, entah berbalas pesan dengan siapa yang membuat pria tampan itu sangat asik tanpa terganggu dengan banyaknya pengunjung resto.


Zara menghela nafas panjang, hari ini ia berangkat membawa mobilnya, setelah beberapa hari ini Andra acuh padanya, bahkan saat ia pulang naik taxi pun tak membuatnya risau.


Kini Zara merasa sepi, tak ada lagi yang selalu memberikan perhatian padanya, mengajaknya makan di warung tenda, atau pun sekedar menikmati malam yang cerah berdua.


Meski Andra masih selalu menyuruh Wanto untuk memberinya sari buah kesukannya setiap pagi.


Beberapa kali Zara mengerjapkan kedua matanya, bangun pukul empat pagi membuat matanya terasa sepat.


Dewi membangunkannya lebih pagi karena ada langganan endorse nya yang meminta Zara untuk me review produk barunya yang akan di launching hari ini.


Apalah aku ini, jika di bandungkan dengan gadis cantik anak Menteri itu, aku hanyalah remahan sisa kue jipang yang tak termakan, ucap batin Zara lirih.


Bagaimana mungkin aku bisa bersaing dengan gadis itu, sambung nya dalam hati.

__ADS_1


Sore pun menjelang dan waktu kerja telah usai, Zara segera membereska pekerjannya karena ingin segera pulang dan tidur, rasa kantuknya seakan tak bisa di bendung lagi.


Tanpa di sadarinya, sepasang mata selalu mengamati gerak langkahnya dari sudut resto, yang kini juga mengikutinya keluar.


"Kak, aku pulang dulu" pamit Zara pada Andra yang sedang berada di taman.


"Oh oke Ra, hati-hati" jawab Andra singkat lalu melambaikan tangan padanya.


"Ck" Zara berdecak kesal, bahkan Andra tak mengantarkannya ke luar parkiran sekalipun.


Gadis cantik itu tak bisa menutupi rasa kesal di hatinya.


Langkahnya panjang menuju parkiran resto.


"Pulang sekarang Non?" tanya Wanto ramah.


"Iya To."


Jawaban singkat padat dan jelas.


Ia merasa tak bersemangat lagi di resto, meski berada satu atap dengan Andra tapi hati dan pikiran pria itu ada di tempat lain, batin Zara.


Perlahan Zara melajukan mobilnya, rasa kantuk sungguh sangat menyiksanya, ingin ia naik taxi dan meninggalkan mobil di parkiran resto, namun ingat jika pagi ia agak kesusahan mencari taxi dengan cepat.


Pikiran dan rasa kantuk yang membuat kepalanya berat membuat otak dan tangan Zara tak fokus.


Di perempatan jalan, di mana lampu merah beberapa detik sudah menyala namun Zara yang lengah pun tetap menerobos dan.


Ciiittt brakk.


Tiiiiiiitttt...


Revan tersentak dari lamunan saat dering panggilan telepon menyadarkannya.


Ia tak perdulikan sang office boy yang hanya bisa diam dengan mulut membuka saat Revan berlari kencang ke luar dari ruangannya.


Tak pernah ia melihat wajah atasannya begitu cemas.


Dengan kecepatan tinggi Revan melajukan mobil menuju ke sebuah Rumah sakit ternama di pusat kota.


"Roy, bagaimana keadaannya?" tanyanya panik di ujung panggilan.


"Belum juga sadar bos" jawab Roy lirih.


Sesampainya di parkiran Rumah sakit, Roy memarkirkan mobilnya dengan cepat, lalu berlari menuju ruang IGD.

__ADS_1


__ADS_2