Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*96


__ADS_3

Suasana apartemen masih sepi, karena Dewi baru akan pulang nanti malam, karena ia masuk sift dua.


Kruuukk kruuukk.


Bunyi suara perutnya nyaring, ia melewatkan makan siang saat di resto dan sekarang perutnya berdemo minta di isi.


Di lihatnya kulkas, hanya ada beberapa buah dan minuman sari buah.


Mau ke luar cari bubur ayam, tapi ia sangat malas, lalu tak pikir panjang lagi, ia potong-potong beberapa buah menjadi dadu, lalu dua botol minuman yang bersemboyan agar mencintai usus ia tuangkan di atas potongan buah tersebut.


Senyumnya terbit salad buah buatannya cukup untuk mengganjal perutnya dan kini sudah tak meronta lagi.


Dan tiba-tiba debaran jantung Zara berdetak dengan kencang saat ponselnya berdering, Andra menghubunginya.


"Halo Ra, kamu sudah sampai?maaf aku tak bisa mengantarkanmu pulang" ucap Andra dari ujung telepon.


"Ah tidak apa-apa Kak, sekarang aku sudah di apartemen."


"Ya udah sukurlah kalau kau sudah sampai, aku tutup ya Ra."


Tuuut.


Bagai lemas tak bertulang tubuh Zara saat ini, rupanya Andra menghubunginya hanya untuk menyampaikan permintaan maaf karena tak sempat mengantarnya pulang.


Mungkinkah ia saat ini ada janji dengan gadis cantik anak Pak Menteri tadi, pikir Zara.


Jam dinding menunjukan angka sepuluh lebih lebih tiga puluh menit saat terdengar pintu apartemen di buka.


Rupanya Dewi baru pulang dari tempatnya kerja.


"Belom tidur Lu Ra?" tanya Dewi yang masih mendapati Zara muncul dari kamarnya.


"Heum, gue lapar" jawab Zara polos.


Dewi tersenyum lalu membuka bungkusan nasi goreng yang di belinya di pinggir jalan tadi.


Zara memakannya dengan lahap, Dewi tersenyum tipis, beruntung Zara yang memiliki tubuh proporsional dan tak rewel.


Makan seberapa banyak pun tak akan berpengaruh banyak pada bobot tubuhnya, tak seperti dirinya, makan satu permen timbangan akan naik cepat.


"Emang tadi belum makan Ra?"


"Aku tadi naik taxi,nggak bisa berhenti buat belu makanan dulu" jawab Zara dengan pipi mengembung bak kelinci yang sedang mengunyah makanan.


"Naik taxi? Apa Kak Andra tak mengantarkanmu pulang?."


Zara menggeleng cepat dengan wajah cemberut.


Dewi mengerutkan alisnya, tak biasanya pria tampan itu tak mengantar Zara pulang, biasanya ia akan semangat pergi berdua dengan Zara.

__ADS_1


"Kenapa?."


"Dia sibuk dengan putri Pak Menteri" jawab Zara ketus.


"Anak Pak Menteri? Siapa maksud Lu?"


"Ishh anak Menteri ya anak Menteri, tauk ah nggak tahu namanya gue" jawab Zara lalu menyudahi makannya yang belum selesai, dan berjalan ke kamarnya.


"Lho Ra, nggak di habisin nasgor nya?"


"Nggak, kenyang."


Zara hilang selera makannya saat teringat kembali kejadian siang tadi di taman resto.


Hanya Dewi yang kini dengan sabar membereskan makanan Zara.


Tak biasanya Zara bersikap ketus padanya, apalagi setelah ia belikan nasgor, biasanya akan bersikap sangat manis, jika sudah di belikan makanan, sebagai ucaoan terima kasih.


Dewi pun melangkah ke kamarnya, sebenarnya ada sesuatu yang akan ia bicarakan dengan Zara, tapi waktu dan suasana hatinya mungkin kurang tepat, pikir Dewi.


Juga ada satu produk makanan ringan yang meminta di review oleh Zara, mungkin besok pagi baru ia akan mengabarkan pada sahabatnya itu.


Sementara itu, Revan masih termenung di meja sudut kamarnya yang menghadap jendela.


Sang asisten baru saja berpamitan, dengan alasan meminta tanda tangan Revan untuk beberapa berkas, ia pun memberanikan diri datang ke mansion dengan mempertaruhkan diri mendapat tatapan sinis dari Reni nantinya.


Flash back on.


"Tapi saya masih sungkan masa Ibu bos" jawab Roy jujur.


"Lu bawa berkas, dan bilang mau minta tanda tangan gue, titik, nyari alasan gitu aja nggak becus" hardik Revan lalu menutup panggilan.


Karena waktu pulang memang sudah beberapa menit yang lalu, Roy pun langsung mengemudikan mobil menuju mansion Revan.


Sebenarnya ia akan lebih nyaman jika berkunjung ke apartemen Revan saja, karena jika di mansion masih ada Nyonya besar yang siap menyambutnya dengan tatapan bak srigala yang siap menerkam.


Roy mengedarkan pandangan ke seluruh mansion, ia tak ingin salah langkah yang akhirnya membuat srigala lapar itu akan memakannya hidup-hidup.


"Langsung masuk ke ruang kerja Gue, Ibu lagi nggak ada, Lu aman" pesan Revan lewat ponsel.


Roy baru melangkah dengan perasaan lega.


Ceklek.


Beberapa detik tubuh Roy membeku di depan pintu, ternyata bukan hanya Reni lawannya, karena kini Revan tengah menatap tajam ke arahnya.


Glek.


Lepas dari mulut harimau, masuk ke lubang buaya

__ADS_1


Itulah pepatah yang pas untuk Roy saat ini, tak ada Reni di mansion tak dapat membuatnya terlepas dari bahaya, karena kini bahayanya adalah Revan.


"B bos, a anu." Roy salah tingkah.


"Kenapa Lu nggak jawab panggilan Gue heum, apa mau, Lu gue pecat?" ancam Revan dingin.


"M maaf Bos, waktu itu saya sudah t tidur, jadi tidak tahu kalau bos menelpon."


"Lalu apa maksud Lu kalau gue dan Zara bukan saudara satu ayah?" tanya Revan tanpa basa basi.


Roy menghela nafas panjang.


Memang begini nasib seorang bawahan, penuh dengan tekanan, pulang kerja perut masih kosong, sudah di serang dengan pertanyaan dari sang Bos.


Roy pun akhirnya menjelaskan apa yang ada dalam pikirannya.


Tentang Nyonya Reni yang bersikukuh dengan pernyataannya bahwa ayah kandung Revan telah tiada, sedangkan Zara berpendapat bahwa Revan dan dia adalah saudara satu Ayah, yang sampai saat ini ternyata Ayah Zara di ketahui masih hidup.


Maka bisa di pastikan, Zara telah salah paham dan menganggap bahwa ia dan Revan adalah satu Ayah.


Revan membulatkan mulutnya, kenapa otaknya selama ini tak berfikir dengan jernih.


Dengan senyum haru ia memeluk sang asisten dengan erat.


"Terima kasih, kau memang terbaik" ucapnya haru.


Roy hanya membuang pandangannya jengah.


Dan sang asisten pun dengan wajah masam harus langsung segera pulang karena sebentar lagi sang Nyonya srigala akan pulang.


Flash back off.


Kini Revan merasa begitu lega, dengan penuh semangat ia pun akan menanyakan langsung pada sang Ibu, tentang kebenaran ayah kandungnya yang telah tiada.


Dengan semangat empat lima, Revan melangkah menyongsong kedatangan sang Ibu.


Ia bergegas keluar dari kamar setelah mendengar deru suara mesin mobil memasuki parkiran mansion.


Tak tok tak.


"Bu, aku mau..."kalimat Revan menggantung, di lihatnya sang Ibu yang berwajah sembab, kedua matanya pun merah.


Reni berjalan dengan pandangan tampak kosong, bahkan keberadaan Revan yang berada di depannya seakan tak terlihat olehnya.


Dengan heran Revan pun diam membeku di tempatnya, membiarkan Reni memasuki kamar.


Ibu kenapa, dan apa yang membuatnya menangis?, batin revan bertanya lirih.


Ia tak berani lagi mengusik Ibu nya.

__ADS_1


Wajahnya terlihat penuh kesedihan, tak pernah ia melihat ibunya se murung dan se sedih itu.


__ADS_2