
Revan dengan hati-hati menekan tuas pintu ruang kerja sang ibu, hari ini ia sengaja pulang kembali ke rumah dan meninggalkan tugas kantor pada asistennya.
Revan ingin mencari titik terang dan petunjuk yang mungkin ibunya sembunyikan di ruang kerjanya.
Dengan sangat hati-hati majalah yang di bukanya ia susun dan di kembalikan ke tempat semula agar jejaknya tak dapat tercium oleh sang ibu.
Lebih dari satu jam Revan mencari sesuatu yang mencurigakan sebagai petunjuk yang berhubungan dengan jati dirinya, namun ternyata nihil.
Dengan langkah lesu ia keluar ruangan dan kembali ke mobilnya yang terparkir di mansion.
Kemana lagi harus di carinya bukti itu, sedangkan ia sama sekali tak menemui setitik pun petunjuk untuk mempermudah langkahnya.
Sungguh Revan masih tak rela menerima suratan takdir yang sangat kejam baginya.
Zara telah mengambil separuh dari nyawa, juga seluruh tempat di hatinya.
Bagaimana mungkin kenyataan pahit kini harus ia terima, bahwa mereka memiliki hubungan darah yang tentu saja akan menghapus keinginnya untuk memiliki Zara seutuhnya.
Dengan gontai Revan memasuki lobi perusahaannya.
Sampai kapanpun ia akan terus mencari bukti apakah perkataan Zara semuanya benar.
Di hati kecilnya, Revan masih ragu tentang kebenaran bahwa dirinya tenyata memiliki sosok ayah yang sama dengan Zara.
"Bagaimana bos?" Roy menyambut dengan pertanyaan yang sudah bisa di jawab hanya dengan melihat rona wajah Revan.
Pemuda itu menggeleng lesu, demikian juga Roy, iapun merasa prihatin dengan nasib percintan bosnya itu yang berakhir tragis.
"Apa anak buahmu sudah bisa menemukan di mana pria itu tinggal?" Revan balik tanya.
Kali ini Roy yang menggeleng lemas.
Anak buahnya tak bisa lagi menemukan jejak pria di foto tersebut, meski Roy sudah menyebar mata-mata untuk mencari orang yang di curigainya.
"Hanya ada satu yang bisa menjawab semuua teka-teki ini" ucap Revan sambil menatap asistennya.
"Nona Zara."
"Zara."
__ADS_1
Keduanya berucap secara bersamaan.
"Tapi dia sangat membenciku Roy, akulah penyebab hancur keluarganya, ibuku yang telah merebut ayahnya."
Roy menarik nafas panjang, kisah cinta bosnya memang sungguh pelik.
"Lalu apa yang harus kita lakukan bos?" tanya Roy.
"Lalu apakah bos tidak menemukan sedikitpun petunjuk di kamar ibu Bos?" sambungnya.
Revan hanya menggeleng lesu.
"Roy lu sebar anak buah lu, suruh mereka cari jejak pria itu sampai dapat, karena dialah kunci dari ini semua."
Roy mengangguk" Tentu bos, saya akan tetap mencari pria itu juga petunjuk lain tentang pria itu."
Jika Revan mati-matian ingin mrncari kebenaran tentang riwayat hidupnya namun berbeda dengan Zara.
Ia bertekad ingin mengubur semua kenangan pahit hidupnya, ia tak ingin lagi terus di bayang-bayangi dengan kebencian di hatinya.
Zara kini sudah sedikit merasa tenang, telah berhasil mewujudkan cita-cita sang ibunya yang meng inginkannya menjadi seorang sarjana.
Zara kini ingin menikmati hari-harinya dengan tenang, tanpa di hantui rasa kebencian yang sudah mendarah daging, ia ingin berdamai dengan luka hatinya.
Ia akan membuktikan bahwa tanpa campur tangan seorang ayah, ia pun akan bisa melalui hari-hari nya dengan bahagia.
"Babe, mau makan? Aku bawain ke sini ya?" tanya Andra saat istirahat siang.
"Ehm, nggak usah kak, biar aku ambil sendiri" jawab Zara dengan pandangan mengedar karena takut karyawan lain mendengar sebutan yang Andra sematkan.
"Kak Andra tunggu dulu di sini sebentar, aku akan mengambil makan.."
"Hm oke babe" Andra pun duduk di ruangan menggantikan Zara.
Beberapa menit kemudian Zara datang dengan se porsi salad buah dan sayur.
"Apa itu Babe?" tanya Andra menelisik makanan yang ada di piring Zara.
"Ehm, ini aku buat salad campuran, aku pakai buah dan sayur yang ada di dapur resto."
__ADS_1
"Kenapa hanya makan itu, apa kenyang?"
"Ini sudah cukup kak, semenjak kerja di resto ini, berat badanku naik banyak, baju ku pun sedikit sesak."
Andra memindai tubuh Zara sekilas, tak ada yang berubah, pikirnya.
Masih tetap ramping dan cantik seperti biasa.
Andra hanya menghela nafas panjang, hidup seorang model memang keras, satu ons saja perubahan berat badan, sudah membuat kelimpungan, batinnya.
Zara menghabiskan salad buah dan sayur dengan lahap, juga satu butir telur rebus, kiranya cukup untuk protein siang ini.
Wanto yang melihat hal itu memberanikan diri bertanya.
"Neng, eh mbak, itu makan karedok apa kenyang, tidak pakai ketupat apa nasi gitu?" tanya Wanto polos.
"Ah tidak bang, ini sudah cukup, perutku kenyang kok" jawab Zara dengan senyum ramah.
"Masa sii Neng?" Wanto tak percaya, ia yang terbiasa makan dengan nasi dua porsi melihat menu yang di makan Zara begitu heran.
Pantas saja perutnya rata, mirip jalan yang di aspal tanpa polisi tidur, batinnya.
Zara tersenyum ramah dan menaruh piring bekas makannya di dapur resto.
Bergegas ia kembali ke ruang kerja karena di lihatnya Andra tampak sedikit grogi melayani para pembeli yang hendak melakukan transaksi pembayaran.
"Huff, untung kamu cepat datang Ra" bisiknya lega.
Zara tersenyum gemas, Di balik sikap cueknya ternyata Andra juga bisa merasa grogi jika berhadapan dengan banyak orang.
Dengan cekatan Zara menyelesaikan transaksi pembayaran.
Tak terasa hari mulai sore, dan Zara sudah akan berganti sift.
Dengan hati berdebar dan senyum ceria, Andra bergegas menyiapkan mobilnya di parkiran resto.
Netra matanya menatap Zara yang berjalan ke arahnya dengan penuh semangat.
Yezz, kencan, kencan ..., pekiknya dalam hati girang.
__ADS_1