Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*73


__ADS_3

Bukan tak ada alasan Andra pagi ini penuh semangat, kembalinya sang mommy menjaga butik yang berarti kesehatannya sudah pulih, selain itu hari ini pula ia bisa bersama Zara ikut menjaga butik cabang.


"Aku senang hari ini mommy sudah mulai bekerja lagi, berarti mommyku sudah benar-benar sehat kan mom?"


Maharani mengangguk dengan senyum tulus.


"Tapi ingat mom, kau tidak boleh terlalu cape dan jangan banyak menguras tenaga dan pikiran, aku nggak mau lihat mommy ku yang cantik ini terbaring lagi dengan wajah pucat."


"Tidak sayang, mommy kali ini akan lebih hati-hati, mommy akan jaga kesehatan mommy dengan sungguh-sungguh."


"Aku pegang janjimu mom, kalau sampai kau pingsan lagi, maka lebih baik tutup saja restoran atau butiknya."


Maharani tersenyum lalu merangkul putra kesayangannya, keduanya pun menuju mobil yang sudah di siapkan satpam di depan mansion.


Sementara itu.


Revan yang sudah fokus dengan laptop tampak sedikit gelisah, anak buahnya mengirimkan foto kedekatan Zara dan Andra.


Melihat keduanya begitu menikmati kebersamaan, membuat rasa nyeri di dadanya makin terasa, jika Zara masih menganggap hubungan mereka adalah sebuah sandiwara namun berbeda dengan sorot mata Andra yang selalu menyiratkan ketulusan dari semua yang di lakukan untuk Zara.


Aku tak akan melepasmu untuknya Ra, batin Revan lirih.


Dari informasi yang di dapat anak buahnya, sekarang Zara bekerja di butik milik Andra tentu saja itu akan membuat keduanya semakin dekat.


Dan semakin ketar-ketir kini yang di rasa Revan, entah kesalahan apa yang di buat hingga Zara seakan tak memberikannya kesempatan lagi untuk kembali.


Sementara di butik cabang milik Maharani, Zara yang sedang membereskan baju-baju merasa kesal, kehadiran Andra di butik sungguh mengusik hari nya.


Tak pernah pria itu membiarkan Zara fokus pada kerjaannya, Andra selalu lengket pada Zara, membuat beberapa karyawan yang memandang tampak jengah.


Zara yang tak enak hati karena merasa sebagai karyawan baru dan di anak emaskan oleh Andra tentu saja berusaha mati-mati an menjauh dari pria posesif itu.


Saat melayani para pengunjung Andra dengan setia selalu memamerkan senyum penuh pesonannya di samping Zara.


Para pengunjung yang sebagian para wanita pun tersenyum senang, jika biasanya karyawan yang melayani mereka adalah para wanita kini suasana berbeda terlihat hari ini.


Seorang karyawan baru yang selalu di jaga oleh seorang pemuda tampan yang tak lain adalah putra pemilik butik tersebut.


Zara yang merupakan seorang model, tentu saja membuat daya tarik tersendiri bagi butik tersebut, wajah cantik dan senyum ramah saat melayani pengunjung membuat mereka betah berlama-lama di butik.

__ADS_1


Apalagi dengan Andra yang selalu di sampingnya membuat mereka terlihat sebagai pasangan yang serasi.


"Ish kak, sudahlah kau masuk, tunggu saja di dalam biar aku yang melayani para pembeli" bisik Zara ke Andra.


"Kenapa memangnya Ra, bukannya enak kerja di dampingi kekasih yang tampan rupawan ini" jawaban narsis Andra membuat Zara mencebik.


"Nggak enak sama karyawan lain, nanti pikiran mereka macam-macam ke aku nya."


"Macam-macam gimana maksudnya Ra?"


"Ya mereka pasti ngira aku deketin kamu biar jadi karyawan kesayangan tante" ujar Zara pelan, sambil melirik ke arah karyawan lain.


"Lha kan yang deketin aku Ra, bukan kamu, malah kamu yang selalu cuekin aku"


"Iya makanya jangan dekat-dekat lah, risih aku kalau kerja di peped terus, nanti nggak fokus"


Andra tersenyum gemas, muka cemberut Zara semakin terlihat imut.


"Ya udah, aku di dalam tapi awas ya jangan suka tebar pesona sama pengunjung cowok."


"Apaan si kak yang masuk ke butik tuh kebanyakan para wanita dan gadis cantik, yang ada tuh kak Andra yang tebar pesona pada mereka" hardik Zara kesal, sempat ia memergoki para gadis yang sedang memilih baju namun tak henti melirik ke arah Andra dengan penuh kagum.


Apakah itu namanya cemburu? ah bahagianya hatiku kalau kau merasa cemburu Ra.


Agar tak semakin membuat gadisnya terus di landa rasa kesal, Andra pun melangkah ke dalam butik dan menunggu di ruangan terpisah.


Cekrek.


Andra tersenyum puas, hasil tangkapan kamera ponselnya terlihat sempurna.


Dari ruangannya Andra sengaja memotret Zara saat sedang melayani pengunjung, senyum ramah yang tak pernah lepas dari bibirnya membuat pembeli merasa betah di layani Zara.


"Mba cantik tolong bisa saya lihat gaun itu?" tanya seorang ibu-ibu paruh baya dengan dandanan baju kebaya modern, wajah yang sudah mulai keriput namun jejak kecantikan masih terlihat jelas di wajahnya yang putih terawat.


"Oh yang ini nyonya, silahkan nyonya lihat, kalau anda ingin warna lain akan kami sediakan" ucap Zara ramah.


Wanita itu dengan seksama meneliti gaun yang di pilihnya.


Dengan cermat ia bolak- balikan gaun tersebut memeriksa kalau ada jahitan lepas atau kerusakan lain.

__ADS_1


"Mba boleh saya lihat yang warna nude nya?"


Zara pun mengangguk cepat lalu bergegas mencari gaun yang wanita itu pinta di gudang butik.


"Ah ini Nyonya, silahkan Nyonya coba."


Senyum puas terbit dari bibir wanita paruh baya tersebut, karena gaun yang ia ingin sudah ada di tangannya.


"Tolong bungkusin yang ini saja mba, saya cocok warna ini."


Zara tersenyum senang.


"Kulit Nyonya putih dan bersih tentu saja cocok dengan gaun warna apapun Nyonya."


Zara berucap sambil membungkus gaun.


"Benarkah, tapi saya cocok dengan gaun warna ini mba."


"Benar Nyonya, semoga Nyonya puas dengan layanan kami dan datanglah kemari lain kali, ada banyak koleksi terbaru di setiap akhir minggu Nyonya.'


"O ya, baiklah nanti saya akan ajak cucu ke sini, terima kasih mba."


Zara mengangguk dan menyerahkan totebad setelah wanita itu membayarnya.


"Eh mba, mba sudah punya pacar belum, kalau belum, sama anak saya aja mba, dia putra bungsu saya dan sudah bekerja sebagai dosen" Zara membulatkan matanya, tak percaya wanita paruh baya tersebut menjodohkannya dengan putra bungsunya.


"Ahh saya belum me mikirkan jodoh Nyonya, saya baru lulus kuliah, saya ingin bekerja dulu."


Wanita itu menganggukan kepalanya paham, ia berencana mengajak putranya lain kali ke butik tersebut.


Pasti gadis itu akan terpikat dengan ketampanan putranya, batinnya sambil tersenyum meninggalkan butik.


"Huff" Zara menghela nafas lega, begini rasanya jadi seorang pelayan butik, gumamnya.


"Ehmm hmm, bagaimana mba, apa mba mau terima tawaran Nyonya itu untuk jadi menantunya?"


Jederr.


Bagai kilat yang berbunyi di dekat telinganya, Zara tersentak saat tiba-tiba Andra sudah di belakang dengan menyilangkan kedua tangannya di dada sambil menatap Zara tajam.

__ADS_1


Baru di tinggal beberapa menit sudah ada yang meminta jadi menantunya, bagaimana kalau di tinggal sehatian.


__ADS_2