Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*88


__ADS_3

Sementara itu, Revan yang sedang dalam perjalanan memegang kemudi dengan kencang.


"Akan meeting dengan klien di sebuah cafe."


Itulah alasan yang ia gunakan agar bisa keluar dari mansion, setelah kejadian dirinya yang pingsan karena serangan jantung tiba-tiba, membuat Reni semakin posesif dan membuat Revan mengalami kesulitan jika hendak pergi keluar.


Untunglah kali ini sang ibu mengijinkan setelah Revan mengatakan bahwa meeting kali ini sangatlah penting karena kliennya yang akan kembali pulang ke negaranya esok pagi.


Roy sang asisten tersenyum melihat kedatangan atasannya.


"Bagaimana Roy? Apa yang kau dapatkan?" tanya Revan tak sabar.


"Tenang bos, minum dulu" ujar Roy.


Revan menghela nafas berat, sungguh beberapa hari ini nafsu makannya sangat buruk, entah perutnya sedang berdemo apa hingga tak pernah Revan merasa lapar.


Roy mengeluarkan map besar berwarna coklat, dan langsung di sambar oleh Revan.


Di amatinya berkas yang berisi peta dan luas tanah, membuat dahi Revan mengerut.


"Data apaan ini? siapa yang mau jual tanah?" tanyanya sinis ke sang asisten, hatinya saat ini sedang tak ingin bercanda.


Roy pun dengan sabar menceritakan bahwa peta tanah tersebut adalah sebidang tanah milik Zara yang di belinya dari seseorang dengan harga yang sangat murah.


"Lalu apa salahnya jika memang Zara membeli dengan harga murah, mungkin saja orang itu memang sedang sangat membutuhkan uang secepatnya maka di jual lah tanah itu dengan harga murah" ujar Revan dengan alasan logisnya.


Ingin rasanya Roy men jitak kepala bosnya itu yang tak bisa berfikir jernih.


"Dengerin dulu penjelasan saya bos" ujar Roy dengan sabar.


"Ya Elu jelasin sekalian makanya, jangan buat gue mikir dong ah" hardik Revan kesal.


Roy menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Beberapa kali Revan tampak termenung mendengar penuturan asistennya itu, memang sungguh tak masuk akal jika harga sebidang tanah tersebut bernilai jual yang sangat rendah, sedangkan lokasinya yang sangat strategis tentu saja bisa mendapat pembeli yang akan rela mengeluarkan harga berkali-kali lipat.


"Lalu apa kau sudah menyelidiki siapa pemilik tanah tersebut" tanya Revan.


"Sudah bos, ternyata tanah itu sebelumnya sudah di beli dengan harga tiga kali lipat dari yang nona Zara beli, dan di jual kembali oleh pembeli pertama dengan harga rendah saat nona Zara menawarnya" ucap Roy.


Revan makin penasaran dengan cerita asistennya itu.

__ADS_1


"Kau selidiki siapa sebenarnya penjual bodoh itu" ujar Revan sarkas.


"Sudah kami selidiki bos, dan penjual bodoh tersebut adalah seorang pengusaha eksportir barang antik, yang bisnisnya sudah go internasional" terang Roy dengan sedikit menekan saat kata 'bodoh'.


"Siapa dia, apa aku mengenalnya?"


"Pengusaha tersebut bernama Gunawan, namun yang membuat kami bertanya-tanya adalah tak ada data diri lengkap tentangnya, seakan kehidupan pribadinya sengaja ia sembunyikan" sambung Roy.


"Di mana perusahaanya?."


"Ada di kota S, tapi anak buah kita belum bisa menemuinya karena Tuan Gunawan sangat jarang terlihat di negara ini."


"Oke, Lu cari semua yang berhubungan dengan penjual bo....ah Tuan Gunawan itu, lalu langsung laporkan ke gue" Revan tak lagi menyematkan panggilan 'penjual bodoh'lagi karena ternyata penjual itu adalah seorang pengusaha besar.


Mana mungkin orang bodoh menjadi pengusaha ekpostir, pikir Revan.


Revan pun meninggalkan cafe setelah mendapat penjelasan dari sang asisten.


Kini ia pun harus mendapat informasi tentang siapa sebenarnya ayah kandungnya.


Karena kemacetan yang cukup padat membuat laju mobil Revan berjalan lambat, kepalanya mulai pusing dan tubuh yang teramat penat.


"Bagaimana meetingnya nak?" tanya sang ibu yang menyambut di ruang tamu.


"Heum, bagus bu."


Revan pun melangkah ke kamarnya, ia ingin segera mandi dan tidur melupakan sejenak kisah hidupnya yang tragis.


Sementara itu zara yang sudah berada di lobi apartement, melepas Andra dengan lambian tangan, dan ia pun melangkah ke lift menuju apartementnya.


"Ciee ciee ciee yang baru pulang, gimana nih kencannya?" tanya Dewi antusias menyambut sang sahabat.


Zara mengedikan bahunya, karena memang kencanya tak ada yang istimewa.


"Ehm Ra, tadi ada yang cariin Elu."


"Siapa?."


"Mantan temen kita."


"Mantan teman? ngapain dia nyari gue?" Zara sudah paham jika yang di maksud Dewi adalah Ismi, sahabat mereka yang kini sudah tak pernah saling sapa karena Ismi merasa Zara telah merebut kekasihnya.

__ADS_1


"Tau, males gue nanya."


"Lu ketemu di mana?"


"Di mall, lagi jalan sama cowok barunya" jawab Dewi dengan bibir mencibir.


Dewi masih sangat kesal pada mantan sahabatnya itu, setelah Zara hampir saja terenggut mahkotanya karena Irfan tapi Ismi tak pernah sekalipun menjenguknya, seakan dendamnya pada Zara tak berujung.


Tidak ada ruginya di tinggalakan satu sahabat yang tak tahu terima kasih, batin Dewi geram.


"Wi, Ismi rupanya beberapa kali menelfon Gue, tapi nggak ke angkat, pasti waktu di bioskop tadi, ponsel gue dalam mode silent makanya suaranya nggak terdengar" Zara menatap layar ponsel dan ada lima panggilan tak terjawab dari Ismi.


"Udah biarin aja, kalau dia butuh juga nanti hubungin elu lagi."


"Apa gue bell balik aja ya Wi?" tanya Zara polos.


"Aaww isshh" pekik Zara saat Dewi mentoyor keningnya.


"Elu napa jadi bego bange si Ra, kan yang butuh dia, ngapain Elu yang repot."


Zara akhirnya mengurungkan niatnya untuk menghubungi Ismi balik, ia tak ingin Dewi kembali mendiamkannya.


"Gue tidur Wi, ngantuk."


"Awas kalau sampai Elu hubungi dia, gue bakal pergi dari sini" ancam Dewi, membuat Zara tersenyum kecut.


Zara paling takut jika Dewi sampai meninggalkannya pergi dari apartement.


"Iya Wii, gue nggak bakal hubungi Ismi kok" ucap Zara sungguh-sungguh.


Kini Dewi yang terkekeh pelan, terang aja ia bilang pergi dari apartement hanya ancaman belaka, mana mungkin ia sanggup hidup di luar yang harus mengeluarkan biaya kontrakan dan makan, ia sudah menjadi orang paling beruntung yang bisa tinggal gratis di sebuah apartement, bagaimana mungkin ia pergi hanya karena alasan bodoh.


Ternyata di balik semua kelebihanmu ada satu kekurangan yang tak dimiliki orang lain Ra, kau o'on, ucap Dewi namun hanya dalam hatinya.


Wajah cantik, mandiri, baik hati ternyata o'on, Dewi mengulang lagi dalam hati sambil tersenyum gemas.


Hatinya begitu lembut dan hangat, hingga banyak orang yang dengan mudah jatuh hati padanya, namun justru itulah kelemahan teebesar Zara, ia tak akan pernah tega menyakiti hati orang lain, apalagi ia adalah sahabatnya sendiri, meski kini mereka tak pernah saling sapa.


Sementara Zara sudah membersihkan tubuhnya dan berganti baju tidur.


Beberapa kali ia melhat layar ponsel, takut Ismi kembali menghubunginya atau berkirim pesan, namun ternyata tak ada notifikasi satupun.

__ADS_1


__ADS_2