Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*104


__ADS_3

Dewi bagai seekor nyamuk di ruangan itu, sepasang sejoli yang sedang di mabuk cinta selalu memperlihatkan kehangatan dan kemesraan yang membuat seorang Dewi harus berkali-kali menelan ludah kasar.


Sore ini cuaca terasa gerah, awan pun tampak menghitam pertanda hujan akan segera turun.


Andra menyunggingkan senyum smirknya, otaknya yang terus berputar kini telah menemukan jawaban.


"Ra, hujan.." ucap Andra dengan nada merengek.


"Iya" jawab Zara singkat.


"Aku nginep di sini ya" rajuk Andra lirih sambil sudut matanya melirik ke Dewi.


Sedangkan Dewi hanya mencebik kesal, sampai mati pun ia tak akan membiarakan kedua sejoli itu berdua dalam satu ruangan, ia membatin geram.


Tok tok tok.


Terdengar suara ketukan pintu, sekarang saatnya jam kunjungan dokter.


Dan seperti dugaannya, harapan Dewi kini menjadi nyata, Dokter tampan Wisnu datang dengan senyum manis penuh pesona.


"Selamat sore Nona Zara?" sapanya hangat, lalu mengangguk ke Dewi dan Andra yang tetap berada di sisi Zara.


"Selamat sore juga Dok, Dokter kalau besok kira-kira saya sudah bisa pulang belum Dok?" tanya Zara antusias, dirinya sudah sangat tidak kerasan berada di ruangan berbau obat itu, meski ruangan yang di tempatinya adalah ruang VIP yang cukup nyaman namun tetap saja tidurnya tak nyenyak.


"Baiklah , saya periksa dulu, kalau memang semua luka sudah membaik, mungkin Non Ara boleh pulang besok"


Andra membuang pandangannya jengah, kesal hatinya melihat Dokter pria itu sok akrab dengan gadisnya.


Setelah pemeriksaan selesai barulah Andra merasa lega karena tak ada lagi mahluk tampan yang membuat hatinya panas itu.


Baru besok pagi ia akan datang lagi ke rumah sakit sebelum mereka memeriksa Zara, ucapnya dalam hati, tak rela rasanya ada pria lain berada dalam ruangan di mana Zara di rawat.


"Ra, gue mau ke mini market di depan dulu, Lu mau niitip apa?" tanya Dewi.


"Ehm Gue mau es krim vanila" jawab zara antusias, Dewi pun mengangguk.


"Kak Andra mau minta apa?" Dewi memandang Andra.


"Tidak usah Wi, aku sudah kenyang" jawab andra.


Dewi pun segera menuju mini market yang terletak tak jauh dari rumah sakit, cuaca yang masih gerimis membuat langkahnya sedikit hati-hati karena jalan yang licin.


Sementara Andra kini merasa bahagia, ia lebih leluasa berdua dengan sang kekasih.


"Kak, aku sudah tak betah di sini, aku ingin pulang, lihatlah lukaku pun sudah mengering, jika di sini tidurku tak bisa nyenyak, dan nafsu makanku berkurang, ruangan ini sangat bau obat" celoteh Zara kesal sambil memperl8hatkan luka di keningnya.


"Kata Dokter pria tadi kau bisa pulang besok sayang, jika kondisimu sudah benar-benar pulih dan stabil pasti besok bisa pulang, bertahanlah dulu satu malam oke?" ujar Andra lembut sambil membenahi anak rambut Zara yang tersulur tak beraturan di keningnya.


Zara hanya bisa tertunduk malu, panggilan 'sayang ' yang Andra sematkan membuat dadanya berdebar kencang.

__ADS_1


Begini kah rasanya sedang di mabuk cinta, di panggil sayang pun sudah membuat hati berbunga, ucap batin Zara.


"Sayang kenapa kau tersenyum-senyum sendiri?" tanya Andra.


Zara menggeleng cepat.


"Ayolah katakan padaku apa kita harus periksakan lagi kepalamu, jangan-jangan terbentur sesuatu, aku nggak mau punya pacar yang suka cengar-cengir nggak jelas."


Zara menepuk lengan Andra dengan keras.


"Aauuwww, kenapa aku memukulku sayang?"


"Salah siapa, masa pacar sendiri di katain o'on" sungut Zara dengan memajukan bibir mungilnya.


"Lha siapa yang bilang kekasihku o'on, bukannya kau sendiri yang bilang."


"Ishh" kembali Zara memukul lengan Andra.


"Auww Ra, nanti aku laporin kamu ke polisi."


"Lapor apaan, sono lapor" ujar Zara kesal.


"Lapor ada yang melakukan KDRT."


Zara mencebikan bibirnya dan membuang muka ke luar jendela rumah sakit.


Andra tergelak, sungguh imut tingkah kekasihnya itu.


Keduanya saling menatap tajam.


Andra memajukan wajahnya hingga jarak mereka semakin tipis.


Cupp.


Andra mendaratkan ciuman ringan di bibir mungil Zara, benda kenyal nan lembut yang selalu Andra impikan.


Zara cepat menutup mulut dengan kedua tangan, matanya membulat.


"Astaga Kak, nanti ada Dewi datang ish" ucap Zara antara takut dan malu, wajah putihnya kini merona merah.


"Ha ha ha biarin, toh dia bukan anak kecil lagi, dan kita hanya sekedar ciuman lewat saja" jawab Andra santai.


"Hah, ciuman lewat? Apa maksudnya."


"Ciuman lewat itu ya hanya ciuman kecil Ra.."


"Ciuman lewat, ciuman kecil, memang ada banyak macam ciuman?" sambung Zara penasaran.


Tiba-tiba Andra merengkuh kembali wajah Zara dan mencium bibirnya lembut, tangannya menekan tengkuk gadis itu hingga memudahkannya memperdalam pagutannya.

__ADS_1


Ciuman yang kini semakin lama semakin panas karena entah sejak kapan Andra sudah mengabsen rongga mulut Zara dengan lidahnya.


Merasa sudah tak tanah lagi Zara pun menepuk pundak sang kekasih agar mengurai pagutannya.


"Empph, haaahh " dada Zara naik turun, ia mengambil oksigen sebanyak mungkin, serangan Andra begitu tiba-tiba dan cukup lama, membuat ia kehabisan nafas.


Andra tersenyum sambil jempolnya mengusap sisa salivanya sisi bibir Zara.


"Itu namanya baru ciuman berat."


Andra berucap santai, lalu bangkit dari duduknya.


Ceklek.


"Kebetukan kau datang Wi, aku mau pulang" ujar Andra.


"Aku pulang dulu sayang muaachh" Andra mencium puncak kepala Zara.


"Aku nitip Zara ya Wi, tolong jaga baik-baik, besok aku ke sini lagi bye" Andra pun melambaikan tangannya.


Sementara Zara yang masih diam duduk di ranjang menatap kepergian sang kekasih dengan tangan memegang bibirnya yang masih terasa kebas.


"Ra, Lu kenapa?" tanya Dewi, Zara bagai patung yang tetap diam tak bergeming.


Zara menggeleng pelan.


"Mana es krim Gue Wi" dia balik tanya.


"Nih" Dewi menyodorkan sebungkus es pesanan Zara, namun gerakannya tertahan saat di lihatnya bibir sahabatnya itu tampak membengkak dan merah.


"Bibir Lu kenapa Ra, kok jadi tebel gitu?" ucap Dewi polos.


"Tidak apa-apa tadi aku habis gosok gigi, mana es krimnya" Zara cepat meraih es yang ada di tangan Dewi lalu memakannya dengan cepat.


Dewi hanya bisa menghela nafas bingung, mana ada gosok gigi menyebabkan bibir bengkak, batinnya.


Tok tok tok.


Terdengar ketukan pintu, membuat kedua gadis saling pandang, siapa tamu malam-malam ke rumah sakit.


Dewi memandang Zara dengan bertanya lewat isyarat dagu nya, Zara pun menggeleng bingung.


Perlahan Dewi melangkah ke arah pintu lalu menarik tuas berbahan besi aluminium itu.


Ceklek.


Untuk sepersekian detik Dewi berdiri membeku di tempatnya, wanita paruh baya dengan dres hitam panjang, potongan lengan se bahu, terlihat anggun di tubuhnya.


Wajah yang putih terawat dengan polesan lifstick merah bata, menambah kesan berani.

__ADS_1


"Siapa Wi?" tanya Zara yang pandangannya terhalang tubuh Dewi.


__ADS_2