
Beberapa detik Zara menahan nafasnya, tubuhnya pun terasa kaku untuk di balikan ke arah Reni, wanita yang telah menghancurkan keluarganya.
Andra yang menyadari situasi mencekam, mencoba mengalihkan perhatian Reni dan menuntunnya ke sudut ruangan lain agar menjauh dari Zara berada.
"Ah tante terima kasih atas perhatian tante, mommy sudah membaik tante, sekarang tinggal masa pemulihan dan harus banyak istirahat."
"Syukurlah, kalau begitu besok saja tante jenguk mommy kamu."
"Ehm lusa aja tante, soalnya besok mommy harus kontrol lagi."
Andra menolak halus karena besok ia sudah ber rencana untuk menghadiri acara wisuda Zara dengan sang mommy.
Zara yang berada tak jauh dari mereka mendengarkan dengan dada sesak.
Kenapa wanita itu selalu pergi sendiri tanpa suaminya, batin Zara penuh tanya.
Di sudut yang sedikit tertutup dengan deretan manekin Zara bersembunyi, tubuhnya yang ramping mempermudah baginya untuk berdiri di sela patung plastik tersebut.
"Baiklah Joy, tante pergi dulu tolong sampein salam tante buat mommy ya."
"Past tante, akan aku sampein pada mommy."
Andra mengangguk lega memandang kepergian wanita sosialita tersebut.
"Ra, kamu di mana?" Andra mengelilingi ruangan butik mencari di mana Zara bersembunyi.
Langkahnya terhenti di tempat manekin berjejer, isak tangis lirih terdengar, Andra membungkukan tubuhnya dan menggeser beberapa manekin untuk mencari sumber suara.
"Ra, dimana kamu Ra, tante Reni sudah tak ada lagi, keluar lah." Andra berucap dengan nada lembut.
"Ra..." tatapan Andra terpaku pada sosok tubuh yang duduk dengan memeluk erat kedua lututnya, tubuhnya berguncang hebat, menandakan ia sedang berusaha keras untuk menahan tangisnya.
Greep.
Andra merengkuh tubuh ramping itu masuk ke dalam pelukannya.
Di usapnya pundak Zara dengan lembut.
"Menangislah Ra, bebaskan tangismu, lepaskan sesak dadamu, aku di sini" bisiknya lembut.
Entah kisah hidup seperti apa yang membuat Zara begitu trauma, yang Andra inginkan saat ini adalah memeluknya erat, agar gadis itu tahu, bahunya akan selalu siap saat Zara membutuhkan sandaran.
Tangis Zara kian kencang namun ia masih sembunyikan wajahnya di dada bidang Andra.
Zara tak lagi perduli jika saat ini baju Andra telah lepek karena air mata dan ingusnya yang menempel.
"Ra, ini lap dulu ingusmu dengan tisu" ucap Andra yang menyuruh karyawannya mengambil tisu.
"Hiks ssrrrrtttt" Zara dengan santai mengeluarkan seluruh cairan dari hidungnya.
Ish jorok, tapi sayang....cakep, batin Andra.
Zara mengurai pelukan Andra setelah membersihkan hidungnya.
"Kak..."
"Heum"
"Maaf hiks"
__ADS_1
"Kenapa"
"Bajumu" Andra hanya bisa menghela nafas berat saat bajunya basah.
"Nggak apa-apa, masih banyak stoknya" ucapnya santai.
"Ck sombong."
"Biarin, asal ganteng"
"Ish kak" Zara kesal lalu memukul bahu Andra yang begitu narsis.
Andra menatap wajah Zara yang tampak sembab kedua matanya, hidungnya pun me merah karena terlalu banyak mengeluarkan ingus.
Di rapikannya rambut halus yang tersulur di dahi Zara.
"Kita pulang yuk."
"Tapi kan kakak lagi di suruh jaga butik"
"Nggak apa-apa, nggak bakalan ilang di gotong semut, lagian sudah sore"
Zara mengangguk lalu bersiap diri.
Andra menghentikan mobilnya di sebuah taman kota, jika weekend taman kota itu akan ramai oleh para pengunjung, namun jika weekday, tempat itu sepi.
"Kak ngapain kita ke sini"
"Ngadem dulu Ra"
Keduanya mengambil tempat di sebuah kursi taman yang berada di pinggir danau.
"Acara di mulai pukul sembilan kak." Zara menjawab singkat dengan wajah datar.
"Lalu keluarga angkatmu apa akan datang?"
Zara menggeleng, ia tentu saja akan senang jika mereka hadir di acara istimewa besok, namun paman tak dapat meninggalkan pekerjaannya karena ia pasti akan di pecat, tak ingin memberatkan beban keluarga angkatnya, Zara lebih baik tidak meminta mereka untuk datang, tak berperasaan rasanya jika kebahagiannya akan berakibat penderitaan pada orang lain.
Biarlan nanti mereka akan di kabari setelah acara wisuda, pikir Zara.
Andra menghela nafas panjang.
"Ehm kalau begitu besok aku pasti datang."
Zara membulat dengan mata berbinar, bahagia rasanya ada orang lain yang hadir dalam acara istimewanya.
"Beneran kak?"
Andra mengangguk pasti.
"Kita pulang sekarang?" ajak Andra.
Sesampainya di apartemen Zara segera membersihkan diri, di dalam kulkas ada stok sayuran, baso dan sosis, makan malam dengan capcay rasanya akan lezat, batin Zara.
Beberapa menit berkutat dengan pisau dan minyak, akhirnya perjuangan Zara selesai, semerbak wangi masakan memenuhi ruang dapur apartemen.
Teettt.
Dewi memasuki ruangan, cuping hidungnya kembang-kempis, ia menajamkan indra penciumannya, memastikan jika hidungnya tak bermasalah.
__ADS_1
"Ra"
"Heum"
"Lu masak"
"He eum"
Pletakk.
"Auuhhh" teriak Zara keras saat keningnya kena sentilan Dewi.
"Lu ke sambet apa Ra?"
Zara masih mengusap keningnya yang kini terasa panas akibat ulah Dewi.
"Gue laper, trus di kulkas cuma ada ini, daripada gue mati kelaparan ya mending gue bikin ini, lu coba deh masakan gue, mantuul beneerr" Zara berucap dengan penuh percaya diri.
Dewi manggut-manggut sambil memandang capcay di piring Zara.
Kata si mbah Don"t jugde book by it's cover, Dewi membatin lirih lalu mengambil sepucuk sendok capcay lalu memasukan ke mulutnya.
Dewi cukup tersenyum masam, masakan Zara jika di nilai pasti di bawah standar, meski tampilan menarik dan menggugah selera namun memiliki rasa yang cukup unik di banding capcay yang lain, yaitu beraroma cinnamon alias kayu manis.
Entah dari sekte mana yang Zara anut hingga masakan capcay di bubuhi bubuk kayu manis.
"Gimana Wi, enak kan kreasi masakanku?" Zara bertanya dengan wajah polos.
"Enak Ra, beneran ...tapi gue bilangin ya, beneran lu mending nggak usah masak deh."
Glekk.
Seketika senyum Zara hilang.
"Kenapa Wi, apa yang salah?"
"Elu nggak salah cuma daya kreatif elu terlalu tinggi Ra, jadi masak capcay nggak ozahh pake kayu manis dodoool"
Dewi melangkah pergi ke kamarnya dan bergegas untuk mandi.
Zara terlihat ragu-ragu untuk mencoba masakan yang di klaimnya bercita rasa nusantara.
"Kriuukk ghooekkh" Zara sontak memuntahkan suapannya ke dalam tong sampah.
Sumpah, apa bener ini masakan gue, perasaan tadi bumbunya komplit kok, apa yang kurang yakk, Zara membatin penuh tanda tanya.
Dewi keluar dengan wajah sudah segar dengan baju rumahan.
"Ra gimana besok keluarga om Ikhsan datang nggak?" tanya Dewi.
Zara menggeleng lesu.
"Gue nggak kasih kabar Wi, kasihan mereka repot kalau ke sini, dan juga kerjaan paman sangat ketat, tak masuk saja harus ada alasan kuat, jika tidak pasti di pecat, kasihan kalau sampai di pecat, biarlah nggak apa-apa nggak ada mereka juga."
"Tapi kan besok hari paling bersejarah bagi elu Ra"
"Nggak apa-apa Wi, gue biasa sendiri."
Dewi pun tak melanjutkan pembicaraan, wajah Zara yang murung membuatnya sungkan.
__ADS_1