
Andra mengerjapkan kedua matanya seakan tak percaya, gadis idamannya sudah berada tepat di depan matanya.
Senyum manis Zara mengembang.
"Jadi nggak kita jalan?"
"J jadi dong, tapi..jalannya ke ..butik."
Zara menganggukan kepalanya senang, dari pada gabut di apartemen sendirian, batinnya.
"Ayo..."
Andra mengelus dadanya yang kini berdebar kencang, outfit yang di pakai Zara begitu pas di tubuhnya, apalagi dengan rambut kuncir kuda, menambah imut wajahnya.
Jantung, baik-baik kau di sana, aku masih membutuhkanmu, batin Andra.
Langkah Zara yang begitu ceria membuat hati Andra bertanya-tanya, apakah gerangan yang membuat gadis itu tampak bahagia.
Hari ini ku lihat kau begitu ceria, semoga akan selalu seperti ini, guman Andra dalam hati.
Senandung kecil bahkan keluar dari bibir mungilnya, sesekali Andra melirik di tengah fokus kemudinya.
Rupanya cuaca gerimis hari ini tak membuat Zara muram.
"Kak gimana kabar tante?"
"Ehm, sudah lebih baik, cuma harus tetap banyak istirahat, maka itu butik sama resto aku yang handle."
"O ya, super sibuk dong sekarang?"
"Nggak juga, pagi aku ke resto, lalu siang baru ke butik"
"Ehm, butuh asisten nggak?"
"Buat siapa?"
"Ya aku lah, kan sekarang aku pengangguran, sayang ijazah ku kalau nggak di gunain."
"Bener kamu mau jadi asistenku?" tanya balik Andra.
Zara mengangguk pasti.
Kau seharusnya menjadi asisten abadiku Ra.
"Oke, aku akan tanyakan dulu ke mommy, butik mana yang kau bisa pegang."
"Kenapa aku yang pegang, kan aku ngelamar buat jadi asisten kakak."
"Kamu harusnya tuh di lamar." Andra berucap dengan mata tajam menatap Zara.
"Ish, aku serius kak" ucap Zara dengan nada melas.
Jika saja kemarin ia masih memikirkan kuliahnya maka sekarang ia sudah benar-benar memiliki hari bebas, mengandalkan uang dari endorse an dan kegiatan dari modeling yang tidak menentu tentu saja Zara pasti keteter, dan ia harus mengantisipasinya dengan memiliki pekerjaan tetap, meski hanya paruh waktu.
Demi kelangsungan hidup dan cita-citanya untuk membangun sebuah sekolah modeling,batinnya.
__ADS_1
"Sudah makan Ra?" tanya Andra dengan tatapan tetap lurus ke jalan di depannya.
"He um" jawab Zara singkat, meski sekarang perutnya sudah mulai berdemo karena memang jam makan siang sudah mulai.
Kruuuukkk.
Zara tertegun, benarkah suara itu berasal dari dalam perutnya, sungguh penghianat yang tak berperasaan, batin Zara geram.
"Kita makan dulu."
Andra berucap dengan sudut bibirnya tersungging, mulut dan perut terkadang memang saling bermusuhan, mulut ber ucap sudah makan, tapi ternyata perut berbunyi lantang bahwa cacing di dalamnya sedang kelaparan.
Di sebuah rumah makan sederhana Andra menghentikan mobilnya, karena itulah warung terdekat yang ia temui.
"Ra, pakai ini."
Andra menyodorkan sebuah topi untuk Zara gunakan agar menutupi sebagian wajahnya.
Tertegun Zara menerima uluran topi dari Andra, begitu perhatian pria di depannya itu.
"Terima kasih."
Keduanya memasuki rumah makan yang tak begitu banyak pengunjung tersebut, karena jam makan siang memang sudah berakhir, Andra memesan beberapa makanan.
"Ra, gue ke belakang dulu."
Zara mengangguk.
Letak kamar kecil yang cukup jauh dari ruang tempat makan membuat Andra sedikit memutar.
Andra menoleh ke asal suara yang cukup di kenalnya.
Cih, dunia memang cukup sempit, bahkan di rumah makan sederhana itu mereka bertemu dan saling tatap muka.
Revan memandang Andra yang tampak terkejut dengan kehadirannya.
"Lu makan di sini Ndra?"
"Heum."
"Sendirian lu?."
"Sama Zara."
Revan tersenyum masam, sekeras apa pun Zara menghindar darinya, jika Tuhan mengijinkan pasti akan tetap bertemu, batin Revan.
"Ohh, eh gue duluan Ndra, oiya salam buat Zara."
"Ehm apa maksud lu?"
Revan menatap Andra yang kini tampak emosi.
"Ya tolong sampein salam gue buat dia, itu aja, apa tidak boleh?" tanya Revan tenang.
"Lu tahu kan Zara sekarang sudah menjadi milik gue, jadi lu udah nggak ada hak lagi buat salam-salaman sama dia."
__ADS_1
"Ck, santai aja kali Ndra, cuma salam doang, lu posesif amat."
"Bukan gitu Van, itu namanya lu ngelunjak, lu nggak ngehargai gue sebagai cowoknya."
Revan menyeringai lebar,sampai kapan lu akan terus bersandiwara di depan gue bro, batinnya geram.
"Sorry bukan maksud gue nggak ngehargai elu Ndra, gue cuma mau bilang kalau lu nggak harus nutupi sandiwara kalian di depan gue karena gue sudah tahu semua."
"Apa maksud lu?"
"Kalian sebenarnya tidak sedang benar-benar menjalin suatu hubungan, gue tahu bahwa kalian selama ini sandiwara, dan gue akan tunggu sampai kapan kalian tuntaskan peran itu, gue akan tunggu hingga Zara sadar, tak ada yang mencintainya dengan tulus selain gue."
Kalimat Revan membuat jantung Andra berdetak kencang, dari mana pria itu mengetahui semuanya.
Andra menatap kepergian Revan, rupanya di balik sikap penuh percaya dirinya, lelaki itu tahu akan sandiwaranya dengan Zara.
"Kak, lama banget?" Zara berucap kesal karena menunggu Andra hingga makanan sudah mulai dingin.
"Ehm sorry antri Ra."
Zara melihat sekeliling, tampak sepi, masa kamar kecilnya antri, batinnya.
Keduanya menyantap makanan tanpa suara, Andra masih berkecamuk dengan kalimat yang Revan ucapkan.
Sementara itu Revan melaju mobilnya menuju perusahaan, lokasi yang di tinjau tak terlalu jauh, hingga kali ini ia berangkat tanpa Roy sang asisten, dan istirahat siang terpaksa ia isi perutnya di rumah makan sederhana tersebut yang akhirnya membuatnya bertemu dengan Andra.
Dari tempat yang tidak terlalu jauh dari mereka, Revan bisa dengan puas melihat Zara tanpa ia sadari.
Gadis manis dengan rambut kuncir kuda, sungguh manis dan mempesona, ingin rasanya Revan memeluk dan mendekap di dadanya.
Untuk saat ini ku biarkan kau lepas dari sisiku, hingga suatu saat nanti ku dapatkan dirimu kembali dan tak akan pernah ku lepaskan, batin Revan.
Hari yang sudah mulai sore dan gerimis masih belum usai, pengunjung di butik tak terlalu banyak.
Andra menyerahkan buku besar untuk Zara pelajari.
Dengan seksama Zara membaca dan menghapal beberapa item sekaligus harga yang di patok butik tersebut, juga rincian daftar belanja bahan-bahan juga di perhatikan dengan teliti.
Maharani adalah seorang desainer terkenal, sudah tentu bahan yang ia gunakan adalah bahan berkualitas premiun hingga ia berani bersaing di dunia pasar baik nasional maupun kancah manca negara sudah di rambahnya.
Nama besar Maharani membuat butik tersebut sering di kunjungi beberapa artis dan para ibu sosialita.
"Gimana Ra, bisa kau pahami isi buku itu?"
Zara mengangguk pasti.
"Untuk sebagian sudah sedikit aku paham, namun ada beberapa yang harus aku tanyakan lebih rinci pada tante."
"Oke, pulang nanti kita ke mansion dulu" Andra berucap dengan nada girang karena ada alasan kuat untuk berada lebih lama bersama gadisnya itu.
Keberadaan Zara di butik tersebut membuat sebagian pengunjung yang mengenal nya tampak bertanya-tanya, bahkan beberapa anak muda terlihat mampir hanya untuk sekedar melihat kecantikan Zara dari dekat.
Andra yang menyadari itu tampak kesal.
Dasar bocah ingusan, gue culek mata lu pada.
__ADS_1