
Pagi ini Revan begitu terkejut saat mendapati Reni sudah rapi menunggunya di ruang makan.
"Pagi Bu, apa sepagi ini Ibu ada acara?" tanya Revan sambil memeluk sang Ibu dan mencium kedua pipinya.
"Tidak, ibu sengaja menunggumu di sini, ada yang harus kita bicarakan."
Revan menarik kursinya, bukan hal yang biasa jika Reni bicara serius seperti itu.
"Sudah saatnya Ibu menceritakan tentang kisah mantan suami Ibu, pria yang ada di poto yang kau bawa tempo hari, memang dialah suami Ibu yang kedua, dialah Ayah Zara, tapi bukan Ayahmu..."
Revan memandang sang Ibu tajam, jadi benar dugaannya selama ini, bahwa ia dan Zara bukan saudara satu Ayah.
Senyum Revan terbit.
Reni pun meneruskan kembali ceritanya, semua ia katakan pada sang putra, tentang kesalahannya, ke egoisannya juga masa lalu yang sangat di sesalinya seumur hidup.
"Dan Ibu juga akan menerima jika Zara sangat membenci Ibu, karena memang Ibu lah yang membuat hidupnya hancur" Reni kini berucap dengan nada suara bergetar.
"Jadi kejadian Zara kembali Drop waktu di Rumah Sakit..."
Reni mengangguk dan air mata lolos dari sudut matanya.
"Memang Ibu datang menjenguknya, Ibu sungguh tak akan bisa merasa tenang jika belum mendapat maaf darinya, Ibu sangat berdosa padanya Van hiks" Revan beranjak dari kursinya dan segera memenuk sang Ibu.
Hatinya pun ikut merasa sedih dan prihatin melihat wajah sang Ibu yang selalu murung.
"Sabarlah Bu, mungkin Zara belum bisa menerimanya hari ini, tapi aku yakin ia akan memaafkan ibu" ujar Revan menenangkan Reni.
"Apa yang harus Ibu lakukan nak, dia sangat membenci Ibu huu huu .." Revan terus mengusap punggung Reni agar tenang.
Lebih dari setengah jam ia berdiri dengan Ibu yang bersandar di dadanya hingga pegal rasa betisnya.
"Minumlah Bu, agar Ibu tenang" Revan mengurai pelukan Ibunya dan mengambil segelas air minum.
Jam di pergelangan tangannya sudah pukul delapan lebih lima belas menit, dan Roy pun sudah beberapa kali memanggilnya lewat ponsel.
"Bu aku berangkat dulu, ada meeting satu jam lagi."
Reni terhenyak dari tangisnya, karena mendengar kisahnya terpaksa Revan melewatkan sarapan.
"Makan dulu nak"ujarnya dengan rasa sesal di dadanya.
"Maaf Bu, aku sudah telat, nanti aku makan di kantor."
Revan bergegas ke kantor, rapat kali ini ia harus berangkat karena kliennya merupakan salah satu pemegang saham terbesar di perusahannya.
Sesampainya di perusahaan, Roy sudah menyambut dengan beberapa file di tangannya.
Tak biasanya Revan terlambat masuk, ia tipe bos yang sangat disiplin waktu.
__ADS_1
"Apa klien sudah datang?" tanya Revan begitu sampai di kantor.
"Belum Bos."
"Tolong pesenin Gue sarapan Roy, GePeeL ya" titah Revan.
Ia tak mau saat sedang meeting nanti kliennya mendengar nyanyian perutnya yang belum di isi.
"Mau sarapan apa Bos?" tanya Roy.
"Apa aja asal cepat" jawabnya singkat.
Roy pun bergegas mencari pengganjal perut sang bos.
Tak lebih dari tiga puluh menit, Roy kembali dengan satu bungkus nasi uduk di tangannya.
Waktu yang tersisa tak lama, membuat Revan segera menghabiskan sarapan, dan benar saja, klien pun datang setelah Revan membersihkan tangannya.
Revan dan Roy pun bergegas ke ruang meeting di mana klien sudah menunggu di sana.
Ceklek.
Setelah saling memperkenalkan diri akhirnya meeting pun di mulai.
Revan dengan fokus mengikuti jalannya meeting, perusahaan klien mengirim tiga wakil mereka dan semua tampak antusias mengikuti jalannya meeting.Dan dengan penuh semangat, beberapa saran serta masukan mereka kemukakan dengan percaya diri, Revan pun menerima saran kritik mereka, semua akan Revan evaluasi dua hari mendatang dan hasil final akan ia kirimkan lewat mail.
"Apa jadwal berikutnya Roy?"
"Sehabis makan siang akan ada jadwal audit internal Bos" jawab Roy.
"Apa Tim sudah siap?"
"Sudah Bos, bahkan jika audit di majukan pun mereka sanggup."
"Kalau begitu bilang pada mereka, audit setengah jam lagi di laksanakan, lebih cepat lebih baik."
Roy hanya bisa membulatkan mulut dan meremas rambutnya, bibirnya pun ia tampar sendiri karena telah lepas ucap.
Dasar sialaan, batinnya.
Jika tiga puluh menit lagi audit di mulai maka jam makan siang terpaksa rolling, dan mereka pasti akan protes, dan yang akan menjadi sasaran pastilah dirinya, mana ada karyawan yang berani protes pada CEO nya sendiri.
Revan memajukan jadwal audit karena ia memang ingin segera menyelesaikan urusan kantor secepatnya.
Pesan dari Zara pagi tadi membuat semangatnya berkobar, Zara memintanya untuk bertemu setelah pulang dari kantor.
Roy yang merasa heran pun terpaksa mengubah jadwal darurat.
Beberapa kali sang Bos ia pergoki melihat jarum jam di tangannya.
__ADS_1
Tiga puluh menit lagi waktu kerja usai, dan raut wajah Revan sudah tak sabar.
"Bos, agenda hari ini sudah selesai semua, mungkin Bos ada acara di luar?" Roy merasa iba pada sang Bos.
Revan memandang asisten tak percaya, apakah dirinya memiliki indra ke enam hingga mengetahui isi hatinya saat ini, pikir Revan.
"Ya, kau benar. Aku ada acara yang sangat penting dan ini menyangkut hidup masa depanku."
Kedua alis Roy terangkat, urusan penting apa yang bosnya maksud itu.
Revan bergegas membereskan berkas di atas mejanya lalu pulang setelah berpamitan pada Roy.
Langkahnya cepat menuju cafe bertema modern minimalis yang terletak tak jauh dari gedung perusahaan miliknya.
Pria tampan itu masuk ke dalam cafe, langkahnya tenang, matanya menyapu ruangan cafe, masih belum banyak pengunjung yang datang, matanya tertuju di satu sosok yang duduk di sebuah meja di sudut ruangan.
Senyumnya terbit saat Zara melambai ke arahnya.
"Sorry sudah nunggu lama" ujarnya sambil menarik kursi di depan Zara.
"Nggak apa-apa, aku pun belum lama" jawab Zara.
Revan pun percaya pada ucapan Zara karena minuman di gelasnya tampak masih penuh.
"Bagaimana kabarmu Ra? Apa lukamu sudah sembuh?"
"Baik, dan lukaku pun sudah mengering" ucap Zara sambil membuka anak rambut yang menutupi keningnya.
Revan memandang kening Zara dengan cermat lalu mengusapnya dengan lembut.
"Apa nantinya tidak meninggalkan bekas Ra?" Revan cukup khawatir karena wajah Zara adalah asetnya.
"Kukira tidak, lukanya tidak terlalu dalam, mungkin dua minggu sudah kembali seperti semula."
"Syukurlah, kalau tidak, kau bisa berkonsultasi pada Dokter spesialis kulit agar wajahmu kembali mulus tanpa noda, dan nanti aku minta temanku untuk menghubungimu, dia spesialis kulit yang handal, banyak para artis yang berlangganan pada nya" terang revan.
"Terima kasih, mungkin tidak perlu toh bukan masalah besar bagiku."
"Tapi sayang Ra, kan wajah putihmu jadi ada noda nya" ujar Revan jujur.
"Sudahlah Van, aku memintamu datang ke sini bukan untuk membicarakan lukaku" Zara merasa jengah karena perhatian Revan masih sama seperti dahulu.
"Baiklah, katakan apa yang membuatmu ingin menemuiku."
"Kau hanya ingin mengucapkan terima kasih atas apa yang sudah kau berikan pada saat aku di Rumah sakit, dan aku ingin membayar ganti rugi padamu, perbaikan mobil dan biaya Rumah sakit, aku akan menggantinya."
Revan memandang netra bening Zara.
Andai kau tahu, apapun akan ku lakukan untukmu Ra, jiwa dan raga pun akan ku serahkan, demi kamu.
__ADS_1