Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*126


__ADS_3

Andra bangun setelah mendengar getaran ponselnya.


Dan berita bagus membuatnya tersenyum puas.


Tak percuma aku membayar kalian dengan jumlah tinggi, ia membatin.


Lalu Andra bergegas ke kamar mandi, meski sekarang weekend, ada hal penting yang harus ia lakukan segera.


"Pagi mom" sapa nya pada sang mommy yang sudah menunggu di ruang makan.


"Pagi sayang muach"


"Mau kemana kau pagi ini?."


"Aku ada urusan dikit mom"ujarnya sambil berlalu.


"Hei apa kau akan pergi dengan calon mantu mommy?."


"Ehm untuk saat ini, bukan mom."


"Lalu, apa sama putri abal-abal yang cengeng itu?" tanya Maharani sinis dan merasa sedikit cemas jika putranya akan pergi dengan anak Menteri itu.


Andra menggeleng pasti "Ini urusan cowok mom."


Maharani hanya menghela nafas panjang, ia tak bisa mencampuri semua urusan sang putra.


Andra melajukan kereta besinya mrnuju apartement miliknya,seperti biasa jika akan mengadakan pertemuan pribadi yang cukup penting selalu di apartementnya.


Ketiga anak buah yang sudah menunggunya di lobi langsung mengikuti langkahnya menuju lantai apartement.


Ceklek.


Tak ingin berlama-lama Andra meminta ketiganya untuk menyerahkan hasil yang mereka dapat.


"Apa yang Lu dapat Do?" tanya Andra.


Pria yang di sapa 'Do' tampak melirik tajam ke bosnya, namanya Jefry tapi sang Bos selalu memanggilnya 'Do' namun dengan cepat ia memasang muka tersenyum untuk menyembunyikan kekesalannya.


"Namanya Emanuel Bos, ia putra dari pengusaha kaya yang mempunyai bisnis di bidang perhiasan emas dan permata, juga batu-batu berharga lainnya."


Do menyerahkan berkas data diri identitas Emanuel juga termasuk silsilah keluarganya beserta foto lengkap keluarganya.


Andra manggut-manggut.


"Rupanya Emanuel kini menyembunyikan identitasnya dengan menyamar menjadi Manu dan bekerja sebagai asisten Tuan Awan" sambung Do.

__ADS_1


"Kenapa ia menyembunyikan identitasnya?"


"Entahlah Bos, yang kami Tahu, ia di nyatakan hilang setelah terjadi tawuran pelajar beberapa tahun yang lalu, dan hingga kini seluruh keluarganya tak mengetahui keberadaan Emanuel."


"Jadi namanya Emanueln dan ia berasal dari keluarga kaya, lalu menyamar menjadi Manu dan bekerja di Tuan Awan?" rangkum Andra.


Do mengangguk pasti.


"Tak akan mudah menyembunyukan jati diri dari keluarganya yang kaya raya, jika tak ada campur tangan orang yang melindunginya" gumam Andra.


Do kembali mengambil selembar kertas di mana tertulis data perusahaan yang saat ini Manu bekerja.


Perusahaan ekspor import yang di miliki Tuan Awan, dan besar kemungkinan Manu berada di belakang kemudi Tuan Awan itu sendiri, ucap batin Andra.


"Apa kau sudah menyelidiki tentang siapa Tuan Awan itu?" tanya Andra pada Do.


Do menyikut lengan pria di sebelahnya.


"I ini Bos" ucapnya tergagap sambil menyerahkan map berisi gambar perusahaan Tuan Awan beserta profil pengusaha itu yang bukan memakai foto dirinya.


"Tuan Awan tak pernah menunjukan wajahnya di media manapun, begitupun keberadaanya selalu tidak terduga, dan beliau banyak menghabiskan waktu di luar negri, kami tak bisa mendapat foto dirinya satu pun, bahkan data perusahaan sangat minim, saya kira Tuan Awan orang yang intovert" ucap Do.


"Mencurigakan, apakah ia sengaja menyembunyikan jati dirinya pada seseorang, dan tak ingin ada orang lain yang tahu akan dirinya" ucap Andra.


"Baiklah terima kasih atas kerja sama kalian, untuk perintah selanjutnya aku akan menghubungi kalian secepatnya" ujar Andra.


Andra memandang foto Emanuel alias Manu .


"Apa maksudmu bersembunyi di belakang Tuan Awan Nu?" Andra bermonolog sendiri.


Andra bergegas mengambil laptopnya dan mulai melakukan pencarian dengan tangannya sendiri.


"Tuan Awan, seberapa dalam lubang yang kau gali untuk bersembunyi heum?" ucapnya lalu mulai menggerakan jarinya yang terampil di atas keyboard, dan memulai pencariannya.


Sementara di apartement berbeda.


"Ra hari ini kita masak apa enaknya?" tanya Dewi pada Zara yang asik menonton drama korea kesukaannya.


"Pa aja deh pasti aku makan, asal bukan racun" jawab Zara juiur, ia masih asik mengamati cincin pemberian Suzana dan di temani drakor di kala waktu senggang.


"Eh Wi, enak ya jadi orang kaya, mau apa aja tinggal minta, makanan enak, perhiasan mahal, mobil bagus, jalan-jalan ke luar negri ah ...andai saja aku di lahirkan di keluarga kaya..."


"Mau ngapain emang kalau Lu jadi orang kaya, apa masih kurang selama ini yang Tuhan kasih ke Elu, seharusnya Elu tuh bersyukur Ra, masih banyak di luar sana yang hidup serba kekurangan, makan sehari sekali, atau bahkan makan hanya nasi sisa orang, Lu tuh ya..nggak ada rasa bersyukurnya sama sekali heran Gue" Dewi menghardik Zara dengan kesal membuat semua angan dan impian indah Zara hilang dari otaknya.


"Ck Elu sensi amat, iye...iyee bukanya Gue nggak bersyukur, Gue hanya membayangkan aja kok Wi seandainya sajaa..gitu ish."

__ADS_1


Zara mencebik sahabatnya.


"Kalau Gue jadi orang kaya pasti Gue juga akan rajin membantu orang yang kesusahan seneng rasanya membuat orang lain bahagia, kayak kita sekarang ni ..bahagia karena pemberian hadiah dari Nyonya Suzana kan Wi."


Dewi mengangguk malas.


"Coba kalau anaknya pulang ya, pasti kebahagiaan mereka tambah sempurna."


Tatapan Zara menerawang kosong ke luar jendela apartement, alangkah bahagianya jika Ayah mencarinya selama ini.


Zara tiba-tiba menggelengkan kepalanya cepat.


Membayangkan hal yang tak mungkin baginya, Ayah yang dulu tega meninggalkannya, mana mungkin akan mencarinya, Zara membatin lirih, ada rasa nyeri di dadanya mengingat bagaimana tega Ayah padanya.


Drrt drrt.


"Ra, aku bawa ini, buat kalian, sekarang aku di lobi" satu pesan membuat Zara membulatkan matanya bahagia.


"Mau kemana Ra?."


"Ke bawah, Manu bawa coklat kesukaan Gue"jawab Zara cepat sambil memakai topi khasnya.


"Gue nggak di ajak ni?" tanya Dewi penuh harap.


"Nggak usah, katanya cuma sebentar kok, dia mampir dari kunjungan dengan Bos nya."


Dewi mencebik kesal melihat Zara menghilang dari balik pintu.


Manu tersenyum gemas melihat outfit Zara pagi ini.


Clana tranning dengan kaos putih polos dan topi hitam yang menutupi rambutnya yang hitam tergerai, simple namun tetap terlihat mempesona.


Sshhh anak gadis orang memang menggemaskan, ingin rasanya Manu membopongnya dan membawa pulang ke apartementnya.


"Pagi Ra" sapa nya.


"Pagi Nu" jawab Zara cepat namun matanya tertuju pada bungkusan yang di bawa pria setengah bule itu.


Manu terkekeh kecil, rona wajah bahagia sangat terlihat jelas di mata Zara.


"Apa kau sebegitunya menyukai makanan manis ini Ra?" tanyanya.


Zara mengangguk polos.


"Ini dari Bos ku, dia habis jalan-jalan dari B dan bawa banyak coklat, kebetulan aku nggak begitu suka coklat, jadi ku pikir kau akan menyukainya" jelas Manu yang hanya alasannya saja, karena kenyataan sebenarnya adalah Gunawan lah yang menyuruhnya anak buahnya mengirimkan coklat premium pilihan dari negara B khusus untuk putrinya, ia masih ingat dulu Zara sangat menyukai makanan lembut dan manis itu.

__ADS_1


"Terima kasih banyak Nu, oh muaachh muaacchh" Zara mencium berkali-kali bungkusan coklat di pelukannya.


Manu hanya bisa menelan saliva kasar, dia yang membawa hadiah seharusnya ia yang mendapat hadiah ciuman itu, tapi kenapa malah bungkusan plastik tak berguna itu hiks, geramnya dalam hati.


__ADS_2