Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*143


__ADS_3

Andra melajukan motor sport miliknya menuju rumah Nardi dengan membawa bahan makanan mentah yang akan ia masak bersama pria paruh baya itu.


Seperti permintannya kemarin bahwa ingin belajar memasak pada Nardi.


Dengan penuh semangat ia menepikan motor lalu memarkirkan si samping rumah sederhana nan nyaman milik Nardi.


Cuaca yang mulai terik tak membuat pria itu menyudahi kegiatannya di kebun, Andra tersenyum senang lalu melangkah ke arah di mana Nardi sedang mencangkul.


"Siang Pak" sapa nya ramah, membuat Nardi terkejut karena tak mendengar langkah mendekat kearah nya.


Ia tersenyum, rupanya niat pemuda tampan itu tempo hari bukanlah hanya bualan di bibirnya, ia serius ingin belajar darinya.


"Nak Andra kenapa ikut ke sini, nanti kotor celanamu" ujarnya melihat ujung celana Andra yang berwarna coklat terkena noda tanah yang basah.


"Ah tidak apa-apa Pak, nanti juga bisa di bersihkan, boleh saya pinjam cangkulnya Pak" pinta Andra, sungguh ironis ia yang di lahirkan di tanah subur ini, tak pernah sekalipun memegang peralatan tradisional tersebut, lucu rasanya jika ia mengaku cinta tanah air tetapi tangannya belum pernah memberi sentuhan kasih pada ibu pertiwinya.


"Apa Nak Andra bisa?" Nardi tampak ragu dengan permintaan pemuda tampan itu.


"Bagaimana saya bisa melakukannya kalau belum pernah mencoba" jawab andra santai lalu mengambil alih cangkul dari tangan Nardi.


Dengan semangat Andra mengayunkan cangkul seperti apa yang di lihatnya tadi.


"Jangan terlalu cepat Den, nanti tenagamu yang akan habis, ayunkan perlahan tapi kerahkan lebih besar tenagamu agar cangkul lebih dalam menancab di tanah, baru kau menariknya..." terang Nardi bijak.


Andra mengangguk lalu mulai melakukan apa yang di intruksi Nardi.


Sudah cukup lama Andra mencoba ke ahlian barunya itu, butiran keringat pun sudah mulai keluar dari pori-pori keningnya, dada bidang dan perut sixpack nya sudah basah oleh keringat.


Nardi hanya menggelengkan kepalanya, Andra yang tubuhnya tidak pernah terpapar sinar matahari tentu saja berubah menjadi merah muda, entah apa yang ada di benaknya saat mengikuti Nardi melepaskan kaos dan membiarkan tubuh nya terkena teriknya mentari.


"Sudah Nak, sudah cukup, kita istirahat dulu" teriak Nardi dari teras samping rumahnya.


Andra menegakan tubuhnya.


Memandang hasil cangkulan hatinya mencelos, baru beberapa meter saja dadanya terasa sesak, nafasnya memburu dengan buliran keringat membanjiri sekujur tubuhnya.


Pinggang pun rasanya mau copot, workoutnya selama ini tak seberapa jika di bandingkan dengan apa yang di lakukan oleh Nardi setiap hari, tak heran pria paruh baya itu masih tampak segar dan gesit.


"Minumlah dulu, dan ini ubi manis yang Bapak rebus tadi pagi" Nardi menyodorkan air dan sepiring ubi rebus.


"Glek glek, Huuuh haaahhh"

__ADS_1


Sungguh segar, air yang di simpan di sebuah teko dari tanah liat membuat Andra merasa sudah meminum air dari pegunungan.


"Pak, apa Bapak buat sendiri termos ini?"tanya Andra polos.


Nardi tersenyum mendengar kalimat polos Andra yang menyebut teko tanah liat tersebut 'termos'.


"Namanya kendi nak Andra, kendi ini Bapak sengaja beli di daerah perkampungan tanah kelahiran Bapak."


Andra manggut-manggut, bukan dari lemari pendingin tapi rasanya sudah sangat segar dan dingin, sangat pas di cuaca terik seperti ini, pikirnya.


Ia pun memakan sebuah ubi rebus manis, rasa lapar dan lelah membuatnya tak terasa sudah menghabiskan dua buah ubi rebus tersebut.


Nardi melihat bungkusan plastik besar teronggok di samping kursi.


"Nak bawa apa ini?" tanyanya penuh selidik.


"He he ...sesuai permintaanku, aku minta Bapak sudi mengajarkan sedikit keahlian tangan Bapak padaku, ajarilah aku memasak" jawabnya jujur.


Nardi menghela nafas panjang lalu membuka bungkusan, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya, bermacam sayuran daging dan bumbu lengkap ada di dalamnya.


"Kenapa kau bawa sebanyak ini Nak Andra, apa kau akan memasak untuk satu kelurahan? di rumah ku semua bahan sudah tersedia kau tak perlu lagi membawa sebanyak ini" ujarnya jujur.


"Baiklah, untuk sekarang apa yang akan Nak Andra masak?" tanya Nardi akhirnya, kemauan pemuda tampan itu sungguh keras.


"Ehhmm, bagaimana kalau nasi goreng Pak, dia sangat suka nasi goreng seafood" ucap Andra jujur, Zara memang sangat menyukai nasi goreng seafood pinggir jalan.


Nardi mengangguk pelan.


"Kau bersihkan dulu badanmu, baru kita masak" titahnya.


Andra dengan semangat empat lima menuju sebuah pancuran di samping rumah dan membersihkan tubuhnya, terbayang olehnya, wajah Zara yang terpesona karena menikmati masakannya yang lezat.


Aku akan membuatmu terkesima sayang, tunggulah aku akan membahagiakamu dengan keahlian baruku, kita akan menghabiskan waktu bersama dengan bahagia, akan ku manjakan lidahmu dengan hasil masakanku nanti.


Andra berucap dalam hati dengan mata berbinar.


Dan keriuhan pun terjadi di dapur sederhana Nardi.


Setelah melalui beberapa kali percobaan menggoreng nasi, baru porsi ke empat lah, rasanya sesuai dengan lidah Nardi.


Senyum puas terbit dari bibir Andra saat Nardi mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


"Terima kasih guru, akhirnya aku bisa membuat kekasihku bahagia nanti karena masakanku" ujar Andra sambil haru memeluk Nardi erat.


Nardi menepuk bahu Andra haru.


"Datanglah kapanpun kau mau, Bapak siap mengajarimu masakan yang kau ingin" ujarnya jujur.


Andra tersenyum haru, lalu menyalami pria paruh baya itu.


"Muridmu pamit dulu guru, jasamu tak akan aku lupakan."


"Ha ha ha , pergilah dan lain kali tak perlu kau membawa bahan makanan di sini sudah tersedia semua, kecuali daging" ucap Nardi.


Andra mengangguk semangat, lalu iapun bergegas pergi setelah dari sudut matanya sempat menangkap sosok bayangan memasuki kamar Nardi.


"Ehmm hmmm" Nardi terjingkat mendengar deheman suara berat keluar dari kamarnya sesaat setelah Andra menghilang dengan motornya.


"Sialan, ku kira rampok, sejak kapan kau datang?" tanya nya pada Gunawan.


"Sejak kalian asik berpelukan dan dia memanggilmu guru" ujar Gunawan sinis.


Nardi hanya senyum masam saat Gunawan menatapnya tajam.


"Duduklah dulu, akan ku jelaskan, jangan kau luapkan emosimu tanpa tahu duduk perkaranya" terang Nardi sabar.


Gunawan hanya mendengus kesal, susah payah ia berusaha memisahkan pria itu dari putrinya namun sahabatnya sendiri terang-terangan memberi dukungan semangat pada Andra tanpa sepengetahuannya.


"Sudah berapa kali pemuda sialan itu datang kesini?" cerca Gunawan sinis.


"Baru dua kali" jawab Nardi jujur.


"Tahu kan, siapa dia?."


Nardi mengangguk jujur, ia memang sudah mengetahui pemuda tersebut adalah pria yang sedang dekat dengan putri Gunawan, dan ia pun tahu jika Gunawan tidak menyetujuinya, karena berita santer terdengar bahwa Andra memiliki hubungan dengan putri seorang pejabat negri ini.


"Kalau kau tahu siapa pemuda itu, lalu kenapa kau malah bersekongkol dengannya heum?"


"Aku tidak bersekongkol, aku hanya membantu siapapun yang membutuhkanku, kulihat dia jujur, dia sangat mencintai putrimu, bahkan kalau kau tahu apa yang ada dalam benaknya maka kau pasti menyesal telah memusuhinya" terang Nardi tegas.


Gunawan memandang sahabatnya itu tajam, belum pernah ia melihat Nardi seyakin itu membela seseorang, apalagi ia belum lama mengenal Andra.


"Selama ini yang kau lihat bukanlah sesungguhnya, jangan percaya berita yang tidak jelas asal muaranya, yang aku tahu dia adalah seorang pria yang jujur dan tulus mencintai putrimu, bahkan ia bermaksud mempertemukanmu dengan Zara, juga kesungguhannya untuk me ratu kan Zara di sisa hidupnya, kau tahu kenapa ia ingin belajar memasak? Dia ingin memasak untuk calon istrinya kelak, dia ingin membahagiakan Zara di sisa umurnya nanti" jelas Nardi.

__ADS_1


__ADS_2