Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*170


__ADS_3

Manu melajukan mobil menuju hotel milik Sandy.


Ia meremat kemudi dengan keras, bayangan saat Andra membisikkan kalimat vulgar terus terngiang di telinganya.


"Sialan..brengsek..." umpatnya keras sambil memukul kemudi.


Kenapa ia bisa se bodoh itu melupakan kalau Zara dan Andra sudah sah menikah, bahkan ngamuk membabi buta menuduh pria tak bersalah telah menjamah tubuh Zara.


Manu memandang lurus ke depan, ada denyut nyeri di dadanya, Zara sudah menjadi milik orang lain, tapi hatinya masih saja berhadap ada kesempatan.


Tuhan lupakanlah jika dia memang bukan untuku, ikhlaskan lah hatiku untuk menerima wanita lain, aku rela jika memang itu akan membuatnya tersenyum bahagia, batin Manu berucap lirih.


Baru pertama kali ia jatuh cinta namun ternyata harus berakhir luka.


Jalanan yang bukan jam sibuk hingga tak banyak waktu yang di tempuh Manu.


Mobilnya ia parkirkan di sebuah hotel megah milik Sandy.


Anggukan satpam dan pelayan ia acuhkan, hati dan fikirannya masih terfokus pada gadis yang telah membuat masalah besar itu timbul.


Dua orang pelayan yang rupanya sudah Sandy hubungi menunjukan kamar hotel di mana Fitri tinggal.


"Maaf Tuan, kami sudah memeriksa kamar dan ternyata Nona Fitri sudah mengosongkannya satu jam yang lalu tanpa sepengetahuan kami" ujar salah satu pelayan dengan wajah penuh penyesalan.


"Apa kalian tak bisa mencegahnya heum?"


"Maafkan kami Tuan, Nona Fitri pergi sebelum Tuan Sandy menghubungi kami."


"Lalu apakah kamera CCTV masih berfungsi?"


"Masih Tuan, silahkan Tuan memeriksanya ke ruang atas agar bisa melihatnya langsung."


Manu menghela nafas gusar, lalu mengikuti pelayan tersebut ke ruang kamera pengawas.


Gunawan mencengkeram benda tipis persegi panjang miliknya, kali ini ia berfikir beberapa kali jika akan membantingnya, Zara sudah me wanti agar ia mulai menghargai suatu benda dan merawatnya dengan baik.


Anak buah Gunawan meng informasikan bahwa Fitri sudah melarikan diri dari hotel Sandy sebelum mereka berhasil menangkapnya.


Kali ini Gunawan memang harus membuat perhitungan dengan anak Menteri itu.


Ia tak akan lagi perduli jika semua bisnis Menteri akan hancur karenanya dan ia sudah meminta tim untuk menarik semua saham di perusahaan milik Menteri tersebut.


"Bagaimana keadaan putriku?" tanya Gunawan dari ujung telepon.


"Dia sudah sadar Ayah, sekarang ada di apartementku, dan sedang tidur, apa Ayah ingin bicara dengannya?"


"Ah tidak, biarkan saja ia istirahat."


Gunawan merasa lega setelah Andra mengatakan Zara baik-baik saja.


Akan ku lakukan apapun untukmu sayang, nyawa pun akan ku korbankan untuk keselamatanmu, tak boleh ada yang mengganggumu, ucap Gunawan dalam hati lalu melangkah pergi dari apartementnya.


Manu yang merasa geram setelah melihat kamera pengawas pun melajukan mobilnya menuju rumah Nardi karena Gunawan memanggil agar ia cepat datang.


Fitri pergi dengan menyamar sebagai pria, dengan jaket kulit dan celana milik Sandy yang ada di kamarnya.


"Bos kita kehilangan jejak wanita itu" ucap Manu begitu sampai di rumah Nardi.

__ADS_1


"Biarkan dia lolos, aku sudah menyuruh tim kita untuk menarik kembali semua saham kita di perusahaan Menteri itu, dan mungkin tak lama lagi pria tua itu akan merangkak memohon padaku."


"Lalu apa yang akan kita lakuakan Bos?"


"Aku akan membuat seluruh keluarganya berada dalam ke bangkrutan yang tak tertolong."


Manu mengusap tengkuknya yang terasa meremang, sungguh tak-tik Gunawan tak pernah ia duga.


"Dan kau Nu, suruh anak buah untuk berjaga mengawasi putriku, dan ganti pengawal yang tak becus dengan tugasnya" titah Gunawan sadis.


"Baik Bos."


Hari yang mulai beranjak senja, tubuh Zara sudah mulai sadar dan menggeliat.


Desisan lirih keluar dari mulutnya.


"Sayang kau sudah bangun ...apa kepalamu pusing?"


Zara mengangguk sambil memijit pelipisnya.


"Minumlah obat ini" Andra menyodorkan obat dari dokter yang tadi memeriksa Zara.


"Babe, kenapa aku ada di sini?" tanya Zara lemah.


"Istirahatlah nanti akan ku jelaskan kalau kau sudah tak pusing lagi, ini makanlah bubur ini, entah sejak kapan perutmu kosong."


Dengan pelan Andra menyuapkan bubur ke mulut Zara, memang benar dugaannya, sang istri merasa lapar hingga se mangkuk bubur dengan singkat sudah masuk ke perutnya.


"Mau nambah kagi?."


"Hah aku harus jemput Dewi Babe."


"Dia sudah pulang, aku sudah mengabari dia tadi, jangan cemas."


"Ah sayang padahal aku ingin mengabarkan berita bahagia ini padanya..."


Andra mengusap puncak kepala sang istri lembut, Dewi adalah satu-satunya sahabat baiknya, sedih dan bahagia mereka selalu berbagi.


"Aku sudah mengabarkan padanya bahwa kita sudah menikah."


"Benarkah..?"


Andra mengangguk pasti.


"Lalu bagaimana dia, apa dia marah, apa dia akan memarahiku nanti karena tidak memberi kabar padanya?.."


Andra menggeleng pelan.


"Dia tidak marah bahkan dia bahagia, Dewi juga mengucapkan selamat pada kita, dan ada satu permintaannya..."


"Apa itu..?"


"Dia ingin cepat-cepat punya keponakan..."


"Ish..."Zara mencubit pinggang Andra gemas.


"Babe ..aku mau mandi."

__ADS_1


"Hmm ayo kita mandi bareng."


"Tapi ku lihat rambutmu masih basah...kau pasti sudah mandi" Zara memandang Andra penuh selidik.


"Nggak apa-apa kok, lebih sering mandi kita akan semakin wangi"


Zara mencebik kesal lalu bergegas ia melangkah ke kamar mandi, menghadapi otak mesum suaminya tak akan habis, pikirnya.


Tok tok tok.


"Sayang...kenapa kau kunci pintunya, aku mau mandi juga sayang.."


"Nggak usah Babe, nanti kau masuk angin kalau sering mandi."


Andra meremas rambutnya kesal, menyesal tadi ia tak mengeringkan rambutnya.


Malam yang mulai larut namun ke gaduhan masih terasa di kamar sebuah vila di pinggir kota.


Sandy yang sudah mengetahui di mana Fitri berada pun langsung menuju vila miliknya yang memang tempat di mana ia sering singgah untuk menenangkan diri.


"Sudahlah honey, lupakan dia ..mereka sudah bahagia."


"Tidak, wanita itu tak pantas untuknya ..hanya aku yang pantas bersanding dengannya" ucap Fitri tak rela.


"Tapi mereka sekarang sudah sah menjadi suami istri honey..., kau harus bisa menerimanya."


Fitri tetap menggelengkan kepalanya bahkan kini ia meremas rambutnya.


Sandy bergegas merengkuh tubuh Fitri, jika sampai emosinya tak terkendali maka akan berbahaya untuknya, Fitri selalu tak sadar dan melakukan tindakan yang hampir merenggut nyawanya.


Andra memeluk erat sambil mengusap punggung gadis itu lembut, perlahan Fitri mulai tenang.


"Sayang tatap lah aku, apa kau tak tahu aku selalu ada di sampingmu, apakah cintaku belum cukup untukmu."


Fitri memandang netra Sandy, wajah tampan yang selalu mencintainya dengan tulus, bahkan ia rela melakukan apapun untuknya.


Apa kurangnya dia Fit, masih kah kau akan menolaknya, batin fitri mulai berperang.


"Honey..i love you."


Sandy berucap dengan lirih nada suaranya bahkan terdengar bergetar.


"Apakah cintaku tak cukup untuk membuatmu berpaling darinya?"


Fitri menggeleng pelan.


"Tapi ..aku.."


"Jika memamg cinta itu belum datang, aku akan menunggunya, aku akan tetap menunggu sampai cintamu datang menghampiriku, percayalah...aku hanya mencintaimu."


Zara menatap Sandy ragu, apakah ini saatnya ia harus mulai menghapus cintanya untuk Andra, apakah ia akan mampu melupakan pria yang amat di cintainya itu.


Fitri menghela nafas panjang, kedua orang tua nya marah besar dan tak lagi mau menerimanya, Pengusaha yang mengaku Ayah Zara telah menarik semua sahamnya membuat Ayahnya kini di ambang ke bangkrutan, tak ada lagi yang mau menerimanya, bahkan sang ibu yang selalu mendukunya pun kini berpaling dan menolaknya.


Hanya Sandy yang selalu menerimanya, pria itu selalu bersamanya meski ia telah berkali-kali memghancurkan hatinya.


Apakah kau memang takdirku?, ucapnya dalam hati sambil menatap Sandy.

__ADS_1


__ADS_2