Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*144


__ADS_3

"Jika kau masih sangsi, kau harus bertemu dengannya secara langsung.Dan lihatlah dari sinar matanya, binar bahagia terlihat jelas saat ia menyebut nama putrimu, cintanya begitu tulus, kau akan bisa merasakannya suatu saat nanti" Nardi berucap dengan sungguh-sungguh.


Bahkan restunya pada Manu kini telah berpindah saat baru pertama kali bertemu Andra.


Dialah pria yang tepat untuk Zara, batin Nardi.


Gunawan diam termenung, memang selama ini ia hanya melihat dari berita saja tanpa menyelidiki lebih dalam tentang siapa pria yang putrinya sukai.


"Ahh sudahlah, aku tidak ingin pusing memikirkan pria brengsek itu, jika memang ia benar-benar mencintai putriku tak akan ia membiarkan dirinya di beritakan dekat dengan perempuan lain bahkan keluarganya pun sudah menyetujuinya, tak ada yang boleh menyakiti hati putriku, masih banyak pria tampan di luar sana, pria yang tentu saja lebih mempesona dari putra Desainer itu" Gunawan berucap lantang.


Nardi hanya bisa menggelengkan kepalanya, sifat posesif Gunawan memang sudah mendarah daging, apalagi ini tentang putri satu-satunya.


"Tapi bagaimana jika ternyata pria yang di cintai putrimu adalah dia, apakah kau juga akan tega memisahkan keduanya?" tanya Nardi sinis.


Gunawan menatap sahabatnya intens, baru bertemu ke dua kali tapi pemuda itu sudah membuat Nardi bersimpati dan sekuat tenaga membelanya.


Apa yang di miliki pria itu sebenarnya, Gunawan membatin.


"Sudahlah aku harus pulang untuk memastikan apakah putriku baik-baik saja di pulau itu" ucap Gubawan lalu pergi dari kediaman Nardi karena anak buahnya sudah menjemput di depan.


"Kita ke apartement langsung" titahnya tegas, hatinya masih dongkol, bagaimana mungkin sahabatnya bisa dengan mudah terperdaya bahkan dengan cerita yang mustahil baginya.


Bagaimana mungkin motor mahal bisa sampai kehabisan bahan bakar, itulah alasan pertama Andra datang ke rumah Nardi, sungguh alasan yang tidak logis, pikir Gunawan.


Sementara itu Andra sedang tersenyum masam dengan umpatan panjang pendek keluar dari mulutnya.


Alat perekam yang berhasil ia pasang di rumah Nardi membuatnya bisa menangkap dengan jelas semua umpatan Gunawan yang di tujukan padanya.


Ayah mertua tenanglah, akan ku buktikan aku bukanlah pria brengsek seperti yang kau katakan, aku pria sejati yang akan selalu setia pada satu wanita, akan ku buktikan akulah satu-satunya pria yang di cintai putrimu dan satu-satunya yang pantas bersanding dengannya, Andra bermonolog dengan geram.


Andai pria itu bukan calon Ayah mertuanya, sudah habis ia menjadi samsak tinjunya.


Namun ada juga rasa lega di hatinya, rupanya Gunawan selalu mengawasi Zara dan melindunginya diam-diam, bahkan memanjakan putrinya meski mengatas namakan klien yang bekerja bersamanya.

__ADS_1


Andra tak perlu takut dan risau saat Zara jauh darinya karena ada tangan yang penuh kuasa yang telah melindunginya.


Kini ia harus menyelesaikan kesalah pahaman kedua orang tua Fitri, agar mereka tak lagi berharap padanya.


Ia akan menjelaskan sebenarnya tentang perasaannya pada Fitri yang hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat dan tak lebih.


Sengaja Andra tidak memberitahukan kedatangannya pada Fitri, ia tak ingin gadis itu menghalangi untuk bertemu Ayahnya.


Ia memasuki gerbang rumah megah kediaman Fitri, anggukan para penjaga menyapanya dengan hangat, mereka akrab dengan wajah yang tengah di beritakan akan menjadi menantu sang pemilik rumah.


Andra hanya tersenyum masam, memang berita yang santer terdengar membuat orang yang tak mengenalnya pastilah beranggapan bahwa hal itu adalah benar.


"Selamat sore Mas" sapa pelayan.


"Sore .."sahut Andra singkat.


"Silahkan duduk Mas, akan kami panggilkan Non Fitri."


"T tidak ..." kalimat Andra menggantung karena Fitri lebih dulu muncul dari kamarnya.


Hati Andra mencelos saat Fitri dengan wajah ceria menyambut kedatangannya.


"Kenapa kau datang tanpa memberitahuku dulu Ndra, Ayah dan Ibu belum pulang, mereka sedang menghadiri acara makan malam di rumah teman Ayah" sapa Fitri lalu mencium kedua pipi Andra.


Meski jengah pemuda tampan itu tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa merutuki kebodohannya.


Kenapa ia tak lebih dulu memerintahkan anak buahnya untuk mengintai apakah Pak Menteri sedang berada di rumah atau tidak.


Menjelaskan pada Fitri sama saja percuma, gadis itu tentu akan menolak keras jika ia mengatakan bahwa hubungannya tidak akan bisa berlanjut sampai jenjang pernikahan.


Sudah kepalang basah, akhirnya Andra duduk mengikuti Fitri yang mengajaknya ke taman di samping rumahnya.


Temaramnya keadaan sekitar taman dengan bertabur bintang membuat suasana terlihat romantis.

__ADS_1


"Aku senang sekali kau mau datang sendiri tanpa harus ku minta Ndra" ucap Fitri yang tak henti menatap wajah Andra.


"Sebenarnya ada yang harus aku sampaikan pada Ayahmu" jawab andra jujur.


Mata Fitri sontak berbinar, pastilah pria itu akan mengutarakan isi hatinya meminang secara resmi, Fitri membatin senang.


"Ehm Ayahku mungkin baru pulang setelah selesai acara makan malamnya, biasanya Ayah akan mengobrol dulu dengan para sahabatnya, apa aku suruh Ayah pulang saja gimana?" tanya Fitri antusias.


"Ah j jangan Fit tidak usah, mungkin denganmu pun sudah cukup" ujar Andra dengan nafas berat.


Fitri menatap Andra intens, sebegitu tak sabar kah pria tampan di depannya hingga tak bisa menundanya lagi, batinnya.


"Fit, aku pikir kesalah pahaman ini harus di selesaikan, aku tak mau kedua orang tuamu berlarut-larut terus berharap padaku untuk meminangmu, namun bukankah kau tahu, dan sudah pernah aku katakan bahwa di antara kita tidak ada hubungan lain selain sebagai seorang sahabat."


Jleb.


Senyum Fitri sirna seketika, dadanya terasa sesak mendengar apa yang Andra ucapkan.


"Tapi Ndra, apakah ada yang salah denganku, apa kekuranganku hingga kau tak pernah memandang ketulusanku sedetikpun, aku sangat mengharapkanmu Ndra, aku sangat mencintaimu, tak ada lelaki lain yang ada di hatiku selain dirimu lihatlah aku sekali saja dengan hatimu Ndra lihatlah..." suara Fitri bergetar dengan mata yang mulai berkaca.


"Tapi sungguh Fit, aku tak bisa mengabulkan keinginanmu, maaf telah membuat hatimu luka, tapi kau harus menerima bahwa kita memang tak bisa bersatu, Fit..banyak lelaki lain yang lebih dariku."


"Tidak... Aku tidak butuh pria lain yang aku butuhkan hanya kau Andra, titik."


Kalimat bernada tinggi menarik perhatian salah satu pelayan yang kebetulan lewat, namun Andra dengan segera menahan tangannya di udara bertanda semua baik-baik saja.


"Tenang lah Fit..aku tahu ini berat tapi seiring berjalannya waktu, kau akan bisa menerimanya, kau pasti bisa melupakan aku, lihatlah..kau cantik, kau mempesona, ku pastikan banyak pria tergila-gila padamu di luar sana, lupakan aku Fit."


"Tidak Andra, tidak akan, aku tidak akan bisa melupakanmu dan aku tak akan membiarkanmu pergi dariku hiks" isak tangis Fitri terdengar lirih.


Andra menghela nafas kasar dan mendekat ke arah Fitri.


"Apa karena dia hah, karena gadis dusun itu? Apa karena dia kau menolak ku hah, katakan Ndra, apa lebihnya dia dariku, katakan apa yang membuat gadis miskin yatim piatu itu menarik bagimu huu huu .." tangis Fitri semakin menjadi.

__ADS_1


"Fitri, kau gadis pintar dan cerdas gunakan akal dan hatimu, jangan biarkan ke egoisan menguasaimu."


Andra masih berusaha menenangkan gadis di depannya yang mulai histeris dengan tubuh terguncang menahan tangis.


__ADS_2