Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU* 67


__ADS_3

Diego menelan salivanya kasar, sungguh baru ia temui seorang asisten yang lebih sangar dari atasannya sendiri.


"Roy, tolong mintai Kadiv. maintenance untuk datang ke ruanganku sekarang."


Roy mengangguk lalu keluar dari ruangan.


"Hufff, nemu di mana lu asisten model seperti itu." Diego baru bernafas lega setelah kepergian Roy.


"Ayahnya dulu kepercayaan mommy, dan setelah pensiun akhirnya putranya yang menggantikannya."


"Wahh anaknya se garang itu, apa kabar ayahnya, kurasa hantu jeruk purut pun sungkem sama dia, pasti kalah angker wajahnya."


"Ah kau salah besar Go, ayahnya beda jauh dengan putranya, di seorang pria yang lembut dan hangat pada siapapun, banyak yang menyayanginya"


Diego menggelengkan kepalanya, merasa tak percaya.


"Hhm gue curiga, jangan-jangan bukan anak kandungnya."


"Huss, ngaco kamu."


"Go, nggak apa-apa kan kalau kau ku tempatkan di bagian maintenance?"


"Sudah kau terima aku bekerja di perusahaanmu pun aku sangat berterima kasih" ujar Diego yang kini mulai merubah sebutan gue menjadi aku.


Diego mengangguk patuh saat salah satu kepala divisi mengajaknya berkeliling ruang maintenance sekaligus menerangkan cara kerja yang akan menjadi tugas Diego.


Sementara di sebuah ruangan di salah satu restoran besar, Andra memandang layar aplikasi hijau di mana ia bergabung dalam grup dengan kedua sahabatnya itu.


Diego tampak meng upload selfinya saat bersama salah satu rejan kerjanya di perusahaan Revan, hari ini ia sudah mulai masuk kerja.


Andra: "Lu bener serius kerja di sana Go?"


Juned: "Ya bener lah, lu liat aja dia sudah pake seragam"


Hening..


Juned sebenarnya tahu kegundahan sahabatnya itu, Revan jelas-jelas sedang mengibarkan bendera perang dan akan merebut kembali Zara dari sisinya.

__ADS_1


Apa lagi kini ternyata Diego ikut di rekrutnya sebagai salah satu karyawan di perusahaan miliknya.


Andra menghela nafas berat, sampai kini Zara belum juga mau menerima lamarannya, meski ia sudah memberikan lampu kuning namun hati Andra masih ketar-ketir, mantan Zara masih teguh pada pendiriannya untuk tetap akan berjuang mendapatkan Zara kembali.


Saat ini Andra begitu sibuk karena sang mommy masih belum pulih dari sakitnya, maka Andra lah yang harus menggantikannya mengurus restoran, dan siangnya pun masih harus mengecek situasi butik.


Pengunjung restoran lumayan stabil, Andra bermaksud akan mulai mencari chef yang terampil untuk membuat hidangan masakan tradisional yang sudah jarang di temui.


Untunglah salah satu karyawan senior menguasai beberapa resep yang di klaim warisan leluhurnya.


Andra sengaja meminta chef tersebut khusus untuk memasak masakan tradisional yang ia kuasai, dan juga meminta dua orang lagi untuk membantunya.


Cara Andra ternyata cukup membuahkan hasil, ada beberapa pengunjung yang sangat puas dengan hidangan tempo dulu yang di sajikan restoran itu.


"To, sini" Andra memanggil salah satu karyawannya.


"Ada apa den saya teh sedang sibuk" tanya Wanto polos.


"Ish lu kalau di panggil bos harus nurut meski sesibuk apapun, ngerti"


"Ealah sama aja semprul, gue aduin ke mommy, besok lu pensiun baru tahu"


"Atuh ulah kitu Den, karunya abdi teh orang susah, kalau sampai di pecat dari sini ka mana deui abdi rek nyari sahuap nasi"


"Aahh lu ngomong pake bahasa yang gue ngarti dong To, bikin gue tambah pusing aja"


"Ya maaf atuh Den, sok atuh ngomong apa?"


"Gini To, lu punya saudara apa tetangga apa teman, yang bisa masak makanan jaman dulu?"


Wanto tampak ngahuleng alias tertegun, tentu saja tetangganya bisa masak tapi kalau masakan tempo dulu Wanto nggak paham apa mereka bisa atau tidak.


"Saya nggak tahu, mereka pintar masak resep darurat Den, dalam arti, karena tak ada uang untuk belanja maka mereka masak apapun yang bisa di buat makan dan masuk ke perut dan bisa membuat kenyang"


"Masakan darurat kaya apa To?"


"Ehm kaya, rebus ubi, rebus tales, apa bakar singkong"

__ADS_1


"Ah itu mah bukan masakan namanya To"


"He hee" wajah polos Wanto tersenyum masam.


"Ah udahlah lu balik sono."


Andra siang ini harus mampir dulu ke butik mommynya, di rasa restoran sudah dapat teratasi, Andra pun meluncur menuju ke salah satu butik sang mommy.


Cuaca gerimis membuatnya tak bisa melajukan kendaraan dengan cepat, jalanan yang basah dan air hujan yang mulai deras membasahi mobil kesayangannya hingga jarak pandang pun semakin dekat.


Sekelebat bayangan wajah gadis manis bermain ingatannya.


Zara mungkin saat ini di apartemennya sedang kesepian, karena Dewi dua hari akan berada kampung.


Apa gue samper dia aja, batinnya.


Ah, mungkin dia lagi mager, tadi ponselnya off, pikirnya.


Tapi terkadang jasmani dan rohani sering tak sejalan.


Begitupun Andra, otaknya menolak untuk menjemput Zara namun kedua tangannya secara tak sadar mengarahkan kemudi ke arah apartemen gadis cantik itu.


"Ra, aku di bawah, turun gih."


Entah kenapa hati Zara begitu girang saat mendapat pesan dari Andra.


Merasa sepi sendiri di apartemen membuat harinya begitu suram, apalagi tak ada teman untuk berbagi berkeluh kesah.


Setelah berganti baju dengan model lebih casual, dengan bedak tipis dan pelembap bibir natural Zara pun berangkat dengan membawa tas selempang dan rambut yang sengaja ia kuncir ekor kuda.


Andra masih menatap layar ponselnya.


"Kebiasaan ni orang, pesan sudah terbaca tapi tidak di balas, dasar," Andra bermonolog sendiri.


"Balas dong Ra?"ucap Andra pada layar ponselnya.


"Ngapain ngomong sama handpone, sama orangnya langsung saja kak?"

__ADS_1


__ADS_2