
Shanum, wanita cinta pertama Andra yang telah memporak porandakan hatinya, kini berada tepat di depannya.
Rupanya Hardy adalah rekan kerja dan sahabat dekat Gunawan, dan kini mereka datang karena Gunawan lah yang mengundang mereka.
"Selamat atas pernikahan kalian, semoga langgeng dan bahagia selalu" ucap Shanum sambil menyalami tangannya yang dingin.
Andra hanya mengangguk, masih tampak rasa canggung saat ia menyalami Shanum.
"Selamat Bro, akhirnya kau menemukan pelabuhan cintamu, semoga kalian bahagia selamanya" Rangga berucap tulus, bocah ingusan yang dulu pernah membuatnya begitu kesal karena sangat perhatian pada Shanum.
Andra tersenyum dan mengangguk, ia sekarang sudah melupakan Shanum dan kini masa depannya adalah Zara yang kini sudah sah menjadi istrinya.
"Sstt Babe kenapa malah diam, kau kenal mereka?" tanya Zara lirih.
Andra masih saja menatap keluarga kecil tersebut, mereka tampak asik memilih hidangan, dengan putri cantik yang tak henti berceloteh lucu di gendongan Rangga.
Zara tertegun melihat tingkah aneh sang suami.
"Bro Gue pamit selamat menyongsong hari baru bersama istrimu " Juned menyalami sang sahabat begitu juga Diego.
"Hmm hati-hati" ujar Andra.
Beberapa tamu sudah mulai pulang meninggalkan mansion.
"Selamat untuk kalian berdua, nona Zara dan Tuan Joyandra , semoga bahagia dan langgeng" ucap Hardy menyalami Zara dan Andra sebelum pamit.
Dan untuk kedua kali sebagai salam perpisahan Andra kembali bersalaman dengan Shanum.
Andra tersenyum bahagia, hatinya kini memang sudah benar- benar menerima dengan ikhlas, karena tak ada lagi debaran yang dulu pernah ia rasakan saat pertama berjumpa dengan Shanum.
"Terima kasih atas do' a dan waktu kalian yang telah sudi datang ke pesta kami" ucap Andra santai.
"Tentu saja, Tuan Gunawan adalah sahabat terbaik Ayah Hardy apalagi ternyata menantunya adalah kau " jawab Shanum dengan senyum manisnya.
"Zara datanglah ke rumah jika kau sempat, kita ngobrol bersama, dan semoga kalian cepat dapat momongan."
"Terima kasih Kak Shanum."
Maharani muncul dari pintu depan, wajahnya terlihat letih setelah menerima para tamu yang kebanyakan memang sahabatnya di dunia Desainer, dan banyak di antara mereka pun mengenal Zara sebagai seorang model berbakat.
Karena para tamu sudah sepi Zara dan Andra pun pergi ke kamar.
"Kenapa kakimu sayang?"
"Betisku rasanya mau pecah, aku tak terbiasa memakai high heels berjam-jam" Zara meringis sambil duduk di sofa kamar dengan tangan mengusap kedua betisnya.
Dengan perlahan Andra duduk di samping Zara dan meraih kaki rampingnya lalu memijitnya dengan lembut.
"Wuaahh....enaknya" pekik Zara dengan mata terpejam.
"Enakan mana kalau ku pijit yang lain" bisik Andra lirih.
__ADS_1
"Ish kau ini Babe, semakin ke sini otak mesum mu semakin parah" jawab Zara kesal.
"Itu semua demi kelangsungan keturunan kita sayang, kalau aku tidak mesum padamu , sampai kapan kamu akan hamil"
"Lalu apakah meski dalam ke adaan seperti ini kau masih tega untuk bercocok tanam denganku?" wajah Zara begitu melas hingga Andra tertawa terbahak.
"Ha ha haa tentu saja tidak Babe, aku hanya menggodamu sayang ..ohh kemari lah, akan ku pijit semua tubuhmu" ujar Andra gemas.
Tok tok tok.
"Maaf ada tamu ingin bertemu dengan Non Zara"salah satu pelayan muncul di depan pintu.
"Siapa bi?" tanya Andra.
"Saya tidak tahu Den, dia wanita sepantaran Nyonya" jawab sang pelayan.
"Ya sudah nanti istriku ke depan menemuinya" ujar Andra.
Zara kembali merapi kan gaun pengantinya, lalu keluar menuju ruang tamu di temani Andra.
Sosok tubuh ramping dengan gaun berwarna moca berdiri memandang taman mansion.
"Ehm hmm" Andra berdehem membuat wanita tersebut membalikan tubuhnya.
Deg.
Sontak Zara menghentikan langkahnya, ia berdiri mematung menatap wanita paruh baya yang tak lain adalah Reni.
"Maafkan Tante Ra, Tante baru bisa datang" suara Reni lirih penuh penyesalan.
Zara masih berdiri mematung, dari mana ia tahu kalau malam ini adalah pesta pernikahannya, mungkinkan Ayah Gunawan yang mengundangnya, tanya Zara dalam hati.
Reni perlahan melangkah ke arah Zara lalu menyerahkan bungkusan cantik berwarna merah muda.
"Tante sangat berharap kamu mau menerimanya, do'a Tante selalu untuk kalian...semoga kalian bahagia dan langgeng hingga kakek dan nenek bahkan hingga maut me misahkan kalian, sekali lagi, maafkan Tante" Reni menunduk lalu membalikan tubuhnya dan melangkah pergi setelah lebih dahulu menyalami Andra.
"Tante..." suara Zara terdengar bergetar saat memanggil wanita itu.
Reni membalikan wajahnya dan menatap Zara intens.
"T terima kasih ..." ucap Zara tulus, dengan bibir masih bergetar, ada air mata mengembang di pelupuk matanya.
Reni tak dapat lagi menahan air mata yang kini jatuh tak tertahankan.
Ia menghambur ke arah Zara dan memeluk erat tubuh rampingnya.
"Maafkan Tante Zara hiks, Tante tak akan pernah bisa hidup tenang kalau kau belum memaafkan Tante huu huuu..."
"Iya Tante ...Zara telah maafin Tante" Zara menangis haru sambil terus menganggukan kepalanya.
Ada rasa lega di hatinya, memaafkan seseorang ternyata se indah itu rasanya, haru, lega, hangat dan bahagia itu lah yang di rasakan Zara kini
__ADS_1
Reni masih memeluknya erat, Zara membiarkan wanita itu menumpahkan suasana hati nya, isak tangis nya masih terdengar.
Zara mengusap punggung Reni dengan lembut, mencoba menenangkan hati wanita itu.
Perlahan Reni mengurai pelukannya dan menatap Zara penuh haru.
"Terima kasih akhirnya kau mau memaafkan Tante, Tante janji akan lakukan apapun yang kau ingin Tante lakukan untuk menebus kesalahan Tante."
"Sudahlah Tante, mari kita lupakan kejadian yang telah lalu, sekarang dan nanti jangan pernah ada lagi saling benci" ucap Zara bijak.
Reni mengangguk pasti.
"Tentu..tentu sayang, malam sudah larut, kau tidur lah, kalian pasti lelah setelah melakukan persiapan beberapa hari ini, tante pamit .."
Zara mengangguk melambaikan tangan pada Reni.
"Hati-hati di jalan Tante..." pesannya.
Reni mengangguk dengan senyum cerah.
Zara masuk dengan Andra berdampingan.
"Apa itu Babe?" tanya Andra pada bungkusan pemberian Reni.
"Entahlah."
"Huufffh, lelahnya, aku ingin tidur" Zara menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dengan gaun masih melekat di tubuhnya.
"Apa kau tak ingin membuka kado-kado itu Babe?" tanya Andra, puluhan kado berukuran besar dan kecil bertumpuk-tumpuk di ruang tengah mansion.
"Aku sangat lelah Babe, mungkin besok saja, aku ingin mandi tidur...tidur...dan tidur" Zara berucap lantang sambil melangkah ke kamar mandi.
Andra hanya bisa menghela nafas dalam, apakah di hati Zara sama sekali tak terbersit keinginan untuk bercinta seperti dirinya yang selalu ingin berdua dan ber mesraan dengannya.
"Malam ini kita libur dulu Din...." bisiknya lirih sambil memandang bagian bawah tubuhnya.
Dan benar saja malam itu keduanya tidur tanpa ada drama bercinta seperti biasa.
Tok tok tok.
Keduanya di kejutkan dengan ketukan di pintu kamar.
Ceklek.
Seorang satpam berdiri dengan wajah panik.
"Ada apa Pak?" tanya Andra.
"Ada sesuatu yang mencurigakan di tumpukan kado di ruang tengah Den" ucap satpam dengan wajah tegang.
"Mencurigakan bagaimana maksudnya Pak" Zara menyela panik.
__ADS_1
"K kami mencium bau tak sedap yang berasal dari tumpukan kado dari para tamu semalam" ucap satpam.