
Pagi hari Andra melajukan sedan hitam ke arah Cafe Juned.
Jam buka cafe masih dua jam lagi tapi Juned menyuruhnya untuk datang lebih pagi.
Andra menurut saja apa yang sahabatnya katakan, bahkan Andra melewatkan sarapannya hanya untuk datang lebih awal di cafe tersebut.
Awas saja kalau hari ini aku tak dapat kan apa yang ku butuhkan, aku robohkan cafe ini, pikir Andra geram.
Netranya beberapa kali melirik ke arah pergelangan tangannya.
Pukul sepuluh kurang lima belas menit, Andra mendengar deru suara motor sport milik Juned mendatangi cafe.
Cih, nyuruh orang lain datang pagi, lha dia sendiri jam segini baru muncul, sialan tuh satu mahluk, geramnya lagi.
Juned dengan senyum manis menyapa Andra, tak sadar jika saat ini sahabatnya itu sedang berusaha keras untuk menahan gejolak amarah yang hampir meluap.
"Udah lama lu ?"
"Heum dari jaman Majapahit berdiri."
Jawaban Andra bernada sarkas membuat Juned tergelak.
"Ciee ternyata lu temenan sama patih Gajahmada?" sambung Juned cuek sambil melangkah menuju dapur cafe.
"Sialan lu, cepet gih bikinin gue sarapan."
"Lha kan banyak karyawan gue Ndra, lu tinggal bilang aja."
"Ogah, gue mau lu yang bikin." ujar Andra pongah.
Tak ingin memperpanjang kekesalan sahabatnya itu Juned pun melangkah ke arah dapur cafe, tak membutuhkan waktu lama untuknya membuat sebuah omelet beserta minuman sari buah dan menyodorkannya di depan meja Andra.
Waktu sarapan yang ia lewatkan membuat Andra tampak lahap menghabiskan omelet dengan cepat.
"Bagaimana menurut pengamatanmu, lihatlah Cafe ini, baru buka beberapa menit sudah banyak pengunjung berdatangan." jelas Juned.
"Heum, belum ada kelebihan yang ..."
Kalimat Andra terpotong karena Juned memberi isyarat agar Andra menunggunya sebentar lalu bergegas Juned menuju ke dapur cafe.
Tak berapa lama Juned pun muncul dengan satu porsi nasi goreng dan minuman yang ia sajikan ke salah satu pengunjung.
"Kenapa lu yang layanin, bukannya banyak karyawan lu?"
"Meski aku adalah bos mereka sekaligus pemilik cafe tapi jika dalam situasi darurat kami selalu saling membantu."Terang Juned bijak.
Andra menelisik cafe yang memang sudah mulai sibuk, pengunjung yang hendak menikmati sarapan tentu saja mereka sebagian besar sedang berburu dengan waktu.
Juned selalu menekankan pada para karyawannya melayani pengunjung dengan cepat dan ramah.
Tak heran jika mereka hanya menghabiskan waktu tak lebih dari tiga puluh menit untuk menunggu pesanan datang.
__ADS_1
Pengunjung akan merasa senang jika makanan yang mereka pesan akan datang tanpa harus menunggu lama, tak seperti banyak restoran lain yang membuat para pengunjung harus menghabiskan waktu sampai berjam-jam hanya untuk menikmati sarapan sebuah omelet ataupun nasi goreng.
Bahkan Juned pun akan turun tangan jika karyawannya keteter, ia tak segan mengantar sendiri pesanan makanan pada pengunjung.
Sudah menjadi kebiasaannya Juned akan selalu datang pagi hari karena memang waktu sibuk cafe adalah saat baru buka dan mulai lengang setelah jam makan siang.
Andra tertegun saat Juned tampil dengan apron dan membawa nampan berisi makanan dan menyajikan di meja pengunjung.
"Gimana masakannya?" Juned mengedikan kedua alisnya, Andra menghabiskan omelet tanpa sisa.
"Heem, enak juga masakan lu." Jawab Andra.
"Gue bisa masak bukan untuk jualan, kalau cafe gue jual makanan dari hasil masakan gue, mana laku lah."Terang Juned.
Andra mengerutkan alisnya.
"Lalu ini?" tunjuk Andra ke piring bekas omeletnya.
"Ya koki lah, ya kali pemilik cafe yang harus masak sendiri." bola mata Juned memutar jengah.
"Sialan lu, gue pikir lu yang masak omelet buat gue."
Juned hanya mencebik kesal.
"Eh bro, nyokap gue mau mampir kapan-kapan kesini, boleh kagak?" tanya Andra.
"Suatu kehormatan bagi ku dan cafe ini jika nyonya Maharani sudi datang berkunjung." Juned membungkukan kepalanya dengan senyum hangat.
"Mau kemana lu?"
"Mau jemput masa depan gue dulu."
Di sebuah mall besar Andra memarkirkan mobilnya.
Mommy Maharani menyuruh untuk menjemputnya di salah satu butiknya yang terdapat di mall ini.
Celana jeans dengan kaos putih polos di tambah topi hitam yang menutupi rambut hitamnya membuat Andra lebih leluasa berjalan memasuki gedung mall.
Meski penampilan sederhana dengan wajah tertutup topi namun tak membuat ketampanannya tersamarkan.
Banyak pengunjung apalagi pada ABG melirik ke arah Andra.
Pengunjung mall yang sebagian besar adalah pada wanita, baik gadis remaja maupun wanita yang bergaya sosialita.
Beberapa gadis berseragam sekoalah menengah yang berjalan bergerombol terlihat berbisik saat Andra melewati mereka.
Decakan penuh kekaguman keluar dari bibir mereka.
Sinar mata yang memandang sosok Andra yang mempesona seakan menghipnotis mereka untuk terus melihat wajah baby face Andra.
Tatapan datar dan dingin tak membuat mereka jengah.
__ADS_1
Sementara di sudut lain, Zara dan Dewi berjalan menuju restoran fast food.
Zara hari ini entah mengapa ingin mengunjungi tempat yang penuh kenangan baginya.
Sebelum ia terjun ke dunia model, Zara bekerja di restoran cepat saji bersama dengan Dewi, keberuntungan membawanya bertemu dengan seorang desainer terkenal saat itu, melihat wajah dan body Zara yang memenuhi kriteria sebagai model, desainer tersebut memintanya menjadi model untuk memperagaakan baju rancangannya.
Zara tersenyum senang rupanya tempat itu tak berubah sama sekali, merekapun mempercepat langkahnya.
"Tunggu...!"
Zara dan Dewi sontak membalikan tubuhnya saat satu suara menahan langkah mereka dan....
Jederrr.
Keduanya membeku di tempat saat wanita cantik dengan dress brukat sebatas lutut berwarna mocca, dengan bekas luka di dahi berjalan kearah mereka.
Dewi memandang ke arah Zara yang juga masih membeku dengan wajah tampak tegang.
Tangan Dewi mengeratkan genggaman tangan Zara yang kini berubah dingin.
"Ra, ibunya Revan," bisik Dewi pelan.
Raut wajah yang tegang tampak jelas tertangkap di wajah Zara.
Netranya menatap wanita paruh baya tersebut dengan tatapan tajam menusuk.
"Dewi mau kemana? Dan ini...apa kah kamu yang bernama Zara?"
"Kenalkan aku ibunya Revan".
Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu mengulurkan tangan ke arah Zara.
Dewi menyikut bahu Zara yang masih diam tak bergerak.
"A..."
"Hai babe, rupanya di sini kau, ayo kita berangkat, mommy sudah tunggu kamu di butik."
Belum sempat Zara meneruskan kalimat, tiba-tiba sosok pria bertubuh tegap dengan kaos putih polos menyambar tangannya yang hendak menyambut uluran tangan ibu Revan.
"Dew maaf ya, aku bawa Zara dulu, maklum mommy mertua udah gak sabar, nunggu di butik buat fitting gaun pengantin." terang Andra dengan wajah santai.
ketiga wanita berbeda generasi tersebut saling pandang.
"J jadi dia sudah akan menikah" batin ibu Revan dengan tubuh lemas.
"Kenapa kau tak memberitahukan padaku kabar gembira ini Ra." gumam batin Dewi.
"Drama apalagi yang telah ia ciptakan."
Zara menatap Andra dengan tajam.
__ADS_1