
Zara mengerjapkan kadua mata saat pipinya merasa sentuhan halus.
Andra tersenyum gemas, ia membayangkan tengah membangunkan seorang putri yang sedang tidur pulas.
Untuk sepersekian detik keduanya saling bertemu tatap.
"Sudah datang Kak" ucap Zara sedikit gugup, membuka mata dan melihat pemuda tampan tengah menatapnya tajam membuat jantungnya berdebar kencang.
"Heum, maaf sudah buat kamu nunggu lama."
"Ah tidak, hanya sedikit terbawa suasana dengan sejuknya usara di taman ini" ucap Zara dengan suara sedikit serak.
Andra menuntun tubuh Zara agar bangun dari duduknya.
"Ayo kita ke mansion" ucapnya setelah ikut merapihkan anak rambut Zara yang acak-acak an.
"Ke mansion? Ngapain Kak?."
"Mommy kangen sama calon menantunya."
Bluss.
Wajah Zara kini berubah bagai kepiting rebus, mendengar kata'calon mantu' jantungnya tiba-tiba berdebar kencang.
"Tapi aku belum mandi Kak, bajuku juga masih baju yang dari pagi" ucap Zara lirih, tak pantas rasanya menemui Maharani dengan baju lusuh dan dekil tubuhnya karena belum membersihkan diri.
"Nanti kita mandi di mansion, ada banyak baju di rumahku."
"Hah?" mulut Zara mengangga, penuturan Andra membuat otaknya berputar cepat.
"Mandi bareng? Maksudnya apa Kak."
"Oh eh a anu sayang, maksudnya kamu bisa mandi di mansion."
Andra tersenyum masam tak menyadari ucapan konyolnya.
"Udah ayo berangkat, mommy udah nunggu dari tadi" Andra menarik tangan Zara lembut sebelum kakinya lebih dulu menendang kursi di mana anak buahnya masih tidur.
"Woy bangun, dah sore ..pulang Lu."
Wanto terjingkrak dari tidurnya karena benturan kursi yang kena tendangan Andra.
"Eh Bos, udah datang" teriaknya pada Andra yang sudah berlalu sambil menggandeng Zara.
"Kak, kira-kira Tante ada apa ya ..mau ketemu aku?"
"Udah di bilangin dia itu sedang kangen, rindu sama kamu, calon menantunya."
"Ish.."cibir Zara kesal.
"Ra.." suara Andra kini berubah lembut dan dalam.
__ADS_1
"Apa Kak."
"Kita nikah yuk."
Zara menatap Andra sekilas, meski matanya lurus ke jalan tapi kenapa dengan mudah bibirnya mengucapakan kalimat yang sakral dengan begitu enteng.
"Beneran Ra, aku mau melamar kamu, mommyku sudah sangat setuju kamu menjadi menantunya."
"Masa melamar nggak ada romantis-romantisnya" jawab Zara jujur.
"Nggak perlu romantis, yang penting niatnya sungguh-sungguh dan bukan untuk main-main, aku sama mommy akan ke tempatmu secara resmi."
Glek.
Zara terdiam, jika benar pria di sampingnya adalah jodohnya maka ia akan sangat bahagia, tapi bagaimana jika mereka datang, lalu siapa yang akan menjadi wali nya saat pernikahan nanti.
"Ra.."panggil Andra lirih.
"Heum."
"Kau mau kan menjadi teman hidupku? teman yang akan selalu menemani di sisa umurku, dan melahirkan anak-anaku?"
Andra memandang Zara intens.
"Lihat jalan Kak" ujar Zara.
"Iya, tapi katakan dulu kalau kau bersedia jadi istriku" cerca Andra.
Andra menggenggam erat tangan Zara dengan tangan kirinya, dari ucapan dan sikapnya, gadis cantik di sebelahnya mungkin belum melihat berita yang sudah beredar, dan Andra tak takut akan hal itu, Zara sudah bersedia menjadi pasangan hidupnya, maka hal lain tak ada artinya bagi Andra.
"Tapi sebelum kita menikah, ada hal yang sangat penting yang harus aku lakukan, dan aku mau kamu bersabar."
Zara menautkan alisnya.
"Iya selesaikan dahulu urusan Kakak dengan yang terdahulu, aku nggak mau menerima lamaran dengan pria yang belum selesai dengan masa lalunya."
Deg.
"Maksudnya" tanya Andra panik.
Zara menggeleng kecil " Tidak, aku hanya tak ingin nantinya ada yang terluka di hari bahagia kita" ucapan singkat namun mengandung makna dalam dari bibir Zara membuat Andra mencelos.
"Yakinlah, tak ada masa lalu yang bisa menghalangi kebahagiaan kita" jawab andra pasti, karen ia pun sama sekali tak menyimpan sisa tempat hatinya untuk gadis lain, hanya Zara lah yang bertahta dan pemilik hatinya utuh.
"Yakin?" tanya Zara penuh selidik, meski berita yang santer terdengar di media bahwa Andra adalah kandidat terkuat sebagai calon menantu sang Menteri tapi ia percaya bahwa Andra memang jujur, tak ada dusta di matanya.
Andra mengangguk pasti, ia hanya ingin menyelesaikan urusan Zara dengan Ayah kandungnya, ia ingin kembali mempertemukan mereka dan berharap mereka kembali bersama.
Mobil pun sampai di gerbang mansion.
Andra melangkah dengan tangan terus menggenggam tangan ramping Zara.
__ADS_1
Sapaan para pelayan di sambutnya ramah.
"Kamu tunggu di sini, aku akan panggil Mommy" bisik Andra setelah meminta Zara menunggu di tuang tengah.
"Bi, apa mommy di kamar?" tanyanya pada pelayan.
"Iya Den,Nyonya dari tadi belum keluar, mungkin sudah tidur."
"Siapa bilang aku tidur" ucap Maharani yang ternyata sudah keluar dari kamarnya.
Hatinya yang cemas dengan keadaan Zara membuatnya tak bisa memejamkan matanya, ia tak ingin melihat hati gadis itu kembali terluka setelah berita tentang putranya yang beredar.
"Mana dia? Mana calon menantuku" tanyanya dengan langkah cepat menyongsong Andra.
Andra menunjuk dengan dagunya ke ruang tengah.
"Zara...kamu datang nak" teriakan Maharani membuat Zara tertegun dan berdiri dari tempatnya duduk.
"Bagaimana kabarmu sayang muacch" Maharani memeluk dan mencium puncak kepala Zara dengan antusias.
Hati Zara menghangat, matanya tampak berembun, belum pernah ia mendapat pelukan yang begitu hangat dari seorang wanita yang seumuran ibunya.
"Kamu baik-baik saja kan sayang? Kamu nggak percaya dengan berita itu kan? tenang lah semua berita itu bohong, kamulah calon menantu Tante, hanya kamu yang Tante mau menjadi istri Joy, tak ada gadis lain yang bisa mengambil Joy darimu."
Maharani memeluk Zara begitu erat, merasa tak nyaman Zara melambai tanganya ke arah Andra dengan isyarat agar ia meminta mommynya untuk melepas pelukan.
"Mom, udah peluknya mom, Zara belum mandi."
Zara membulatkan matanya kesal ke arah Andra yang dengan jujurnya mengatakan hal memalukan itu.
"Ah bukan masalah, toh calon menantu mommy ini tetap saja cantik" ucap Maharani lalu melepas pelukannya.
"Ayo kita makan, kamu lapar kan?"
"T tapi aku belum mandi Tante, nggak enak rasanya" ucap Zara sungkan.
"Ya udah nanti Tante suruh pelayan nyiapin baju buat kamu, ada baju-baju butik yang baru datang yang mungkin pas buat kamu" ucap Maharani tenang.
"Ah t tidak usah Tante, aku pakai baju ini aja, aku akan cuci muka sebentar lalu kita makan, nggak usah ganti baju" Zara berucap cepat, lalu menuju kamar mandi, sungguh ia tak bisa menerima pemberian Maharani karena baju di butiknya semua berharga fantastis, dan sayang rasanya jika di pakai olehnya, jangankan untuk beli baju branded, ganti ponselnya yang sudah retak pun, sayang rasanya, batin Zara.
"Joy, mommy ingin kau segera melamar Zara secepatnya."
"Iya mom tenang aja, nanti kalau urusannya beres aku pasti akan melamarnya."
Plakk.
"Aawwhh mom, kenapa pukul aku" pekik Andra saat Maharani menepuk lengannya keras.
"Urusan apalagi hah? Apa begitu penting hingga kau menunda lamaranmu sendiri?."
Andra mengangguk pasti.
__ADS_1
"Aku ingin mempertemukan Zara dengan Ayah kandungnya Mom, aku ingin di hari bahagia kami Ayah Zara bisa ikut menyaksikan pernikahan kami, karena hanya dia lah yang berhak menjadi wali Zara saat pernikahan nanti."