
"Apa kau begitu membenciku Ra, apakah tak ada kata maaf untuk kami" Revan sengaja menekankan kata'kami' karena ia pun merasa ikut andil dalam menimbulkan benih kebencian di hati Zara akibat perbuatan sang Ibu.
Zara memandang Revan tajam.
"Setelah apa yang di perbuat oleh Ibu mu pada keluargaku rasanya terlalu sakit Van, hatiku pun masih perih bahkan mungkin luka ini akan selamanya berdarah" ucap Zara dengan datar.
"Apa yang harus kami lakukan agar kau memaafkan kami" ujar Revan dalam.
Zara menggeleng pelan.
"Sudahh terlambat Van, apa kau tahu bagaimana rasanya di tinggal oleh seorang ibu yang melahirkanmu dalam keadaan sakit hati dan badan, karena suaminya lebih memilih pergi dengan wanita lain, apa kau merasakan juga saat aku dengan mata kepalaku sendiri, Ayah meninggalan kami. Pada mulanya kami semua hidup bahagia penuh dengan cinta, kami saling mengasihi, begitu hangat dan damai keluargaku kala itu, hingga kedatangan Ibumu menghancurkan semua, apa yang bisa kau lakukan untuk membayar semua luka yang telah kalian toreh begitu dalam."
Nada suara Zara pelan namun bergetar dan Revan menyadari hal itu.
Ia tahu hati Zara yang begitu lembut tak akan membiarkan dendam dan luka semakin mendarah daging, Zara hanya perlu waktu, suatu saat nanti pasti maaf akan ia ucapkan, Revan membatin.
Meski ucapan dari bibirnya memang pedas namun hatinya tak sejahat itu, Revan tahu dan paham selembut apa hati Zara.
Pelayan membawakan nampan berisi minuman segar dan kue ringan.
"Makanlah dulu Ra" ucap Revan mencairkan suasana yang tegang.
Zara hanya menghela nafas berat.
"Baiklah nanti aku akan suruh asistenku untuk menghitung rincian biaya yang telah kami keluarkan, kau bisa mentransfer nya nanti."
Untuk saat ini Revan tak ingin memaksakan kehendaknya, biarlah waktu yang akan mengikis kebencian di hati gadis yang masih begitu di cintainya itu.
"Baiklah, aku harus pulang, terima kasih"Zara menunduk hormat lalu pergi tanpa meminum minumannya.
Revan hanya bisa memandang kepergian Zara dengan hati berdenyut nyeri.
Ia mulai membangun batas yang tinggi terhadap dirinya, batas yang hanya ia sendiri yang bisa menghancurkannya.
Helaan nafas panjang Revan ia hembuskan dengan kasar, sesak di dadanya terasa begitu menyakitkan, bagai sebuah gunung yang sedang menindihnya.
Revan hanya bisa memandang kepergian mobil Zara dari balik dinding kaca.
Tanpa di sadarinya, seseorang dari tempat tak terlalu jauh , tengah tersenyum bahagia setelah berhasil membidik kebersamaan keduanya dengan ponsel miliknya.
"Bagus, dengan foto ini, Gue bisa menyingkirkan Elu darinya, dasar gadis udik" umpat sosok wanita itu dengan senyum culas.
Zara melajukan mobil ke arah sebuah mall besar di mana sahabatnya bekerja, ia sengaja datang untuk menjemputnya pulang dan menikmati streetfood yang sudah lama tak ia rasakan.
Setelah memarkirkan kendaraan ia pun keluar menuju mall di mana restoran cepat saji Dewi bekerja.
Celana jeans dengan jaket denim serta topi hitam selalu menjadi ciri khasnya.
Sambil sedikit menundukan kepala, lewat sudut matanya, Zara melihat Dewi keluar dari restoran.
Prok prok.
Dewi memutar matanya ke arah suara tepukan tangan Zara dan senyumnya terbit dan berlari kecil ke arahnya.
__ADS_1
"Udah lama di sini Lu?" tanya Dewi.
"Belum, baru sampai, hayuuk, kita ke mana dulu nih" Zara merangkul pundak sahabatnya.
"Ke depan gedung mall ini aja dulu, ada gerai makanan dari negara xx yang makannya mantul kayaknya."
"Lu udah nyoba?"
"Belom, tapi banyak yang antri gila."
"Oke, kita coba."
Menikmati 'me time' dengan bestie ternyata sungguh mengasyikan.
Karena suasana malam serta topi yang di pakainya membuat Zara bisa lebih leluasa bergerak tanpa ada yang mengenalinya.
Namun ternyata satu sorot mata tajam tengah mengawasinya dari jarak tak terlalu jauh.
Manu memang mendapat perintah Gunawan untuk mengawasinya, insting seorang Ayah memanglah tepat, Zara pasti akan keluar karena hari ini terakhirnya di rumah karena besok sudah mulai masuk bekerja.
Keduanya saling tertawa saling mencicip makanan yang mereka beli, tawa riang nya terdengar merdu di telinga Manu.
Hati Mnau pun menghangat, Zara tertawa begitu lepas seakan tanpa beban.
Kau lebih cantik saat tersenyum Non, ucap batin Manu.
Malam sudah larut namun kedua gadis itu belum juga menyudahi keasikannya.
"Nu, bagaimana pengamatanmu tadi apa dia terlihat bahagia?"tanya Gunawan lewat pesan singkat.
"Hah tadi, sekarang juga saya belum pulang Bos, mereka masih asik menikmati seafood bakar" balas Manu membuat Gunawan mengerutkan alisnya.
"Sudah larut ini Nu, tolong kau suruh mereka pulang Nu" titah Gunawan spontan.
"Bagaimana caranya Bos?"
"Gue nggak tahu pokoknya Lu harus bisa menyuruh mereka pulang, tak baik angin malam untuk kesehatan" ujar Gunawan tegas.
"Baik Bos."
Manu hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Perlahan langkahnya mendekati kedua gadis cantik itu.
"Ah hai Nu, sedang apa kau di sini" sapa Zara yang tak sengaja menyenggol bahu Manu, padahal memang itu di sengaja oleh pria tampan itu.
"Saya kebetulan lewat Non, mau cari makan buat Bos."
"Wah apa Bos kamu doyan jajanan pinggir jalan seperti ini?" tanya Zara.
"Bos saya apa saja mau Non, semua masuk ke perutnya."
Sementara Dewi masih shock dengan pemandangan indah di hadapannya, jika hari kemarin pria tertampan versi nya adalah Dokter Wisnu, tapi sekarang ia sudah berpindah haluan.
__ADS_1
Pria bertampang setengah bule itu sedang berbincang dengan Zara.
Hidung mancung bibir tipis dengan kulit putih dan dadanya yang bidang dengan tinggi sekitar seratus delapan puluh lebih.
Sungguh pria idaman Dewi.
"Apaan sii Wi" tanya Zara saat Dewi menyikut pinggangnya.
Dewi mengedikan bahunya, isyarat agar Zara mengenalkan pria tampan itu.
"Manu, kenalin nih sahabatku tercantik sepanjang masa Dewi mirasantika."
Dewi menyikut Zara kencang.
"Sialan Lu, kaya judul lagu dangdut aja" omelnya lirih.
"Manu" Manu mengulurkan tangannya.
"Dewi."
"Aku panggil apa nih, Dewi, Mira, Santi, atau Tika?" jawab Manu mengedkan alisnya.
"Dewi aja, nggak usah di percaya nenek sihir ini, ucapannya suka ngaco kalau lagi malam kliwonan" jawab Dewi santai.
Zara hanya mencebik kesal, sementara Manu tersenyum manis membuat Dewi kejang-kejang.
"Wahh sepertinya malam sudah larut Non, sebaiknya kita pulang sekarang" ujar Manu serius, ia tak mau Gunawan mengamuk nantinya karena tugas mengajak Zara pulang masih belum bisa.
"Tapi kita masih belum nyoba jajanan itu Nu" ucap Zara sambil menunjuk sebuah penjual yang sedang duduk menghadap tungku.
"Tapi Non, di tempat ini biasanya cukup rawan, suka ada gank motor lewat pada iseng."
"Hah gank motor? Isengnya ngapain Nu?" tanya Zara polos.
"Mereka suka nyobain ketajaman golok secara random."
"Maksudnya?" Dewi penasaran.
"Ya asal tebas aja, kalau dia lagi apes, ya leher putus."
Meski ucapan Manu terdengar santai namun bisa membuat kedua gadis itu ciut nyalinya.
"Masa Nu?" tanya Zara masih belum percaya.
"Ada kok buktinya di ponsel saya Non, nih kemarin ada tukang somay yang tangannya buntung, trus tukang parkir yang terpaksa silaturahmi dengan malaikat maut dadakan gara-gara golok mereka nyasar di kepalanya hingga belah" jawab Manu masih enteng sambil berlagak membuka galeri di ponselnya.
"Ah t tidak usah Nu, aku suka mual kalau liat gambar yang berdarah-darah" tolak Zara.
"Ya udah kita pulang aja sekarang Non, Dew, demi keselamatan kita bersama."
Zara dan Dewi manggut-manggut polos, sementara Manu terkikik dalam hati.
Begitu mudah ia membodohi kedua gadis manis itu, batinnya.
__ADS_1