
Nafas Revan kian teratur, membuat Reni kini merasa lega.
Untunglah kali ini hanya lambungnya yang terganggu, dan kata Dokter Hidayat, jantung Revan baik-baik saja, hanya perlu makan teratur dan banyak istirahat, juga kondisi pikiran harus selalu terjaga, jangan sampai ada beban yang mengganggu pikirannya.
Reni menatap tubuh tegap sang putra, memang semakin tirus wajahnya terlihat, tubuh kekarnya pun kian menyusut.
Perpisahan dengan Zara membuat Revan sangat terguncang, meski senyum dan tawa tak hilang dari wajah namun ternyata ada kesedihan mendalam yang ia rasa.
Reni menghela nafas berat, karena kesalah pahaman dan dosa yang di perbuat kini sang putra yang sangat di sayangi yang menanggung akibatnya.
Karena ke egoisan Reni membuat keluarga bahagia Gunawan hancur.
Hanya penyesalan yang kini Reni rasakan, putra satu-satunya yang mendapat imbas dosa nya.
Reni terisak, air mata jatuh dari sudut mata keriputnya.
Waktu menunjukan pukul satu dini hari.
"Nyonya sudah malam, silahkan Nyonya tidur saja dulu, biar Den Joy saya yang akan menjaganya" ujar bibi senior.
Dia adalah salah satu bibi yang sudah bekerja lebih dari dua puluh tahun, sejak Revan masih kecil hingga sekarang,
Dan ikatan batin dengan putra majikannya sudah seperti ibu dan anak.
Melihat putra yang di kasihinya terbaring tak berdaya dan tantang kisah tragis cintanya membuat bibi begitu sedih.
Reni pun yang merasa ikut pusing dan berat rasa kepalanya mengangguk lirih.
"Aku tidur dulu Bi, tolong jaga Revan Bi, cepat bangunkan aku kalau dia sadar" ujar Reni dengan wajah sendu.
Beberapa jam menangis, membuat wajahnya terlihat sembab, begitu pun kedua matanya yang membengkak.
"Iya Nyonya, pasti akan saya jaga Den Revan, Nyonya cepatlah istirahat."
Reni pun pergi keluar dari kamar setelah mengecup kening putra nya.
Ceklek.
Suasana kamar kini menjadi jening.
"Bi, tolong ambilin minum" bisik Revan tiba-tiba.
"Hah, ya ampun Den ternya..."
"Ssttt, jangan berisik, nanti ibu balik lagi" ujar Revan sambil menutup mulut sang Bibi dengan tangannya.
Kedua mata bibi mengerjap dengan kepala mengangguk cepat.
"Syukurlah Den Revan sudah sadar, tunggu sebentar bibi akan ambil minum dulu."
Rupanya diam-diam Revan sudah sadar sedari tadi, namun ia masih enggan bicara dengan sang ibu.
Glek glek glek.
__ADS_1
Bibi tersenyum lega, melihat Tuan Muda nya segar kembali.
"Bi, ada makanan apa di dapur? Aku lapar" sambung Revan dengan wajah polos.
"Ehm tunggu sebentar, bibi akan buatin Den Revan, nasi goreng seafood, kebetulan di kulkas masih ada cumi dan udang" jawab bibi semangat.
Revan pun mengangguk setuju.
Sepeninggal bibi, Revan mengambil ponselnya.
Matanya membulat penuh saat sang asisten memanggilnya lebih dari sembilan panggilan.
Sukurin Lu, makanya jangan suka sok asik sama gue, giliran ada perlu penting kan Lu juga yang susah, batin Revan dengan tersenyum girang, namun sepersekian detik senyumnya hilang saat membaca pesan dari Roy, yang membuat jantungnya serasa berhenti.
"Bos, menurut dugaanku, kalian tidak satu ayah.."
Kalimat singkat yang di kirim sang asisten sontak membuatnya terlonjak.
"****..." umpatnya kesal.
Beberapa kali panggilannya tak di angkat oleh sang asisten.
"Sialan" hati Revan mencelos, jika tadi ia merasa puas karena melihat daftar panggilan tak terjawab dari sang asisten, kini berbalik arah, ia yang sedang di rundung kekesalan luar biasa karena puluhan panggilan di acuhkan oleh Roy, karma memang tak pernah salah alamat.
Revan menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu melihat jam di dinding.
Pukul dua dini hari, tentu saja asistennya mungkin sedang terlelap, ucap Revan dalam hati merutuki kebodohannya sendiri.
Ceklek.
Matanya berbinar, nasi goreng seafood buatan bibi sangatlah lezat, dan Revan sangat menyukainya.
"Makan Den, mumpung masih hangat" ujar Bibi.
"Terima kasih Bi, kalau tak ada Bibi, mungkin aku sudah mati kelaparan" ujar Revan sambil menyendok nasi ke dalam mulutnya, ia sangat lapar, hingga tak lama sepiring nasi sudah berpindah ke dalam perutnya.
"Ah jangan ngomong sembarangan Den, pamali kata orang mah, Den Revan masih muda, masih banyak cita-cita yang belum tercapai, apalagi Den Revan belum menikah" terang bibi panjang lebar.
Revan hanya tersenyum masam, memikirkan kata 'menikah' tiba-tiba ia teringat pada Zara.
Benarkah apa yang Roy bilang, kami bukan saudara satu ayah, batin Revan.
Dua sudut bibirnya naik ke atas membentuk garis lengkung, ada setitik cahaya terang di depannya.
"Sudah makannya Den, akan Bibi bereskan" ujar bibi.
"Iya Bi, terima kasih udah ngerepotin Bibi" ujar Revan lirih.
Bibi hanya tersenyum dan mengangguk tulus.
"Jangan berfikiran macam-macam Den, melihat Den Revan sehat dan kembali tersenyum, Bibi sudah sangat bahagia" ucap Bibi.
"Bi..."
__ADS_1
"Iya Den, ada apa? Den Joy mau makan apa lagi?"
Revan menggeleng pelan.
"Boleh aku peluk Bibi" ucapnya lirih.
Perempuan tua tersebut tersenyum dengan mata berkaca-kaca, lalu berhambur ke arah Tuan Muda yang sudah di anggap seperti putranya sendiri.
Untuk beberapa saat keduanya saling berpelukan erat.
Hati Revan kini menghangat, wanita paruh baya yang sudah di anggap seperti ibunya sendiri, wanita yang selalu mengasihinya dengan tulus, meski hanya sebagai pelayan, tapi Revan menganggap wanita itu istimewa di hidupnya, dialah ibu kedua nya setelah Reni.
"Den Revan sekarang tidur lagi, masih malam" ujar Bibi lembut.
Revan lalu mengangguk dam membaringkan tubuhnya di kasur, lalu Bibi menutupinya dengan selimut tebal.
"Bi..." panggil Revan lagi, lirih sebelum Bibi keluar dari kamarnya.
"Ada apalagi Den?"
"Terima kasih karena selalu menyayangiku dengan tulus."
Bibi mengangguk dengan senyum hangat, lalu pergi dari ruangan.
Pagi menjelang.
Roy kaget bukan main saat di notifikasi ponselnya ada dua puluh satu panggilan tak terjawab.
Glek.
Tangan Roy tampak gemetar, dadanya berdebar kencang.
Bagaimana ini, apakah bosnya itu sedang mengamuk, pikir Roy cemas.
Dengan cepat ia bergegas mandi dan berganti baju, entah apa yang akan terjadi, terjadilah, ucapnya dalam hati dengan pasrah.
Roy melajukan mobil kantor dengan cepat, ia berniat datang lebih awal pagi ini, bersiap dengan apapun yang akan atasannya berikan padanya, apakah amukan amarah ataupun kekesalan yang selalu ia lampiaskan padanya.
Namun alangkah senang hatinya, kala Revan mengiriminya satu pesan.
"Gue datang agak siang" pesan singkat namun bisa membuat dadanya lega bukan main.
Tapi rona wajahnya pun kembali berubah, ada apa sebenarnya dengan bos nya itu, kenapa bisa sampai datang terlambat.
Untuk datang ke mansion, Roy belum mempunyai nyali untuk menghadapi Nyonya Reni, dan berkirim pesan pada atasannya rasanya tak etis baginya yang hanya sebagai asisten.
Roy merasa gundah gulana di ruangannya, beberapa berkas yang harus ia periksa pun masih utuh terbengkalai.
Jika bosnya sudah membaca pesannya pastilah ia sangat gembira dengan apa yang ada dalam pikiran Roy.
Antara sang bos dengan mantan kekasihnya kemungkinan besar bukanlah saudara satu ayah,seperti apa yang pernah Zara katakan pada Revan.
Dan jika mereka tak ada ikatan darah maka Revan masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan Zara kembali.
__ADS_1