Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU *36


__ADS_3

Maharani masih dengan antusias memilih gaun yang cocok untuk calon menantunya.


Sementara Zara sedang berfikir keras, bagaimana untuk menjelaskan yang sebenarnya bahwa rencana pernikahan yang Andra katakan hanyalah alasan semu yang mereka buat agar terhindar dari Revan dan ibunya.


"Sayang coba gaun yang warna nude ini, mommy pikir sangat cocok untuk warna kulitmu."


Zara tersenyum masam, entah sudah berapa gaun yang sudah ia coba dan tubuh nya pun kini terasa begitu lelah.


"Ehm, mom kita istirahat dulu ya....lapar nih," Andra mengusap perutnya yang memang sudah terasa keroncongan.


Maharani melihat ke arah Zara yang memang sudah terlihat lesu dan tak bersemangat.


"Ehm kalian makan duluan gih sono, mommy masih kenyang." Tolak Maharani dengan senyum tak lepas dari bibirnya.


"Baiklah mom, aku akan ajak Zara ke restoran yang ada di ujung mall ini." Andra melirik ke arah Zara.


Keduanya pun melangkah pergi dari butik dengan perasaan lega.


"Huff, bagaimana ini kak? Kita sudah membohongi tante, bagaimana kalau tante tahu jika rencana pernikahan ini hanyalah sebuah sandiwara?" tanya Zara panik, sambil mengaduk makanan di hadapannya.


"Tenanglah, masalah ini biar aku yang akan mengatasi, kau tak perlu memikirkannya."


Andra menjawab dengan tenang, berbanding terbalik dengan isi hatinya yang tentu saja merasa pusing tujuh keliling memikirkan nasib bisnis restoran miliknya yang sedang lesu, di tambah lagi dengan masalah besar yang baru saja di buatnya yaitu sandiwara kebohongan tentang pernikahannya dengan Zara, seakan Andra sedang menggali kuburnya sendiri.


Sementara radius beberapa meter jarak dari tempat Andra dan Zara, seseorang dengan rahang mengembung keras dan tatapan mata merah menyala, menandakan ia sedang menahan amarah di dadanya.


Tangan kanannya mengepal keras.


"Rupanya kalian membohongiku selama ini." ucap nya dengan nada geram, tatapannya tajam ke arah sepasang kekasih yang sedang menikmati makan tak jauh dari tempat duduknya.


Akan ku lihat sampai sejauh mana kau akan terus membohongiku Ra.


Revan menatap kepergian gadis yang amat di cintainya dengan kekasih bohongannya itu.


Perutnya yang kosong dan suasana hati yang tak menentu, membuat Revan akhirnya meninggalkan perusahaan, dan di sebuah mall besar itu ia akhirnya ia mengisi perut dan tak sengaja melihat kedatangan Zara dengan pria yang di akui sebagai kekasih barunya.


Revan yang kebetulan berada di sebuah meja yang terhalang dengan bunga yang berada dalam pot berukuran besar, dapat dengan leluasa mendengar pembicaraan mereka dengan jelas, tanpa sepengetahuan keduanya.


Apa yang membuatmu sungguh ingin pergi dariku Ra, tak cukupkah perhatian dan kasih sayangku selama ini, kurang besarkah rasa cintaku padamu.


Revan menatap punggung Zara tanpa berkedip, meski hatinya begitu sakit karena kebohongan yang baru di ketahuinya, namun rasa cinta menutup segalanya.


Asa yang seakan musnah, kini telah datang lagi.


Jika rencana pernikahan mereka hanyalah sebuah sandiwara, maka masih ada harapan baginya untuk mendapatkan Zara kembali.

__ADS_1


Revan kembali menuju ke parkiran gedung mall setelah memastikan Zara dan pria itu sudah meninggalkan mall.


Langkahnya kini penuh semangat, bahkan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang begitu manis.


Revan melajukan mobilnya menuju mansion setelah terlebih dulu mengirimkan pesan pada seseorang.


Dengan wajah berseri Revan memasuki rumah mewah nan luas.


"Bi mana ibu?" Revan menyisir ruang tamu dan ruang tengah di mana biasanya sang ibu menghabiskan waktu dengan membaca.


"Nyonya ada di kamar mas." jawab bibi dengan wajah tertunduk.


"Kenapa bi?" tanya Revan lagi, karena melihat wajah keriput bibi tampak tertunduk.


"A anu mas, ibu...."


"Ibu kenapa bi?" Revan berubah panik.


Bibi menggelengkan kepalanya" Bibi tidak tahu mas, pulang dari bepergian wajah ibu terlihat sedih dan sepertinya habis menangis."


Bergegas Revan menuju kamar sang ibu yang berada di dekat taman samping.


Tok tok.


" Bu, ibu.."


Tak ada sahutan dari dalam kamar, membuat Revan panik.


Perlahan tuas pintu kamar di tekan dan ternyata tak terkunci.


"Aku masuk ya bu?"


Revan melangkahkan kaki memasuki ruangan ber ukuran enam kali enam tersebut yang ternyata masih gelap.


Dadanya berdesir keras saat melihat ibunya duduk diam memandang jendela kamar yang di biarkan terbuka, hingga lampu taman menerobos masuk ke kamar yang masih gelap gulita karena lampu belum di nyalakan.


Klek.


Suasana kamar kini terang benderang setelah Revan menyalakan tombol di dinding .


"Bu..."


Revan meraih bahu sang ibu dan menarik hingga kini wajah yang sudah terlihat keriput itu menghadap kearahnya.


Mata sendu yang tampak bengkak menandakan air mata sudah cukup lama mengalir dari sudut matanya.

__ADS_1


"Ibu kenapa..?" Revan bertanya lembut, pedih rasa di dadanya melihat wanita yang begitu menyayanginya dalam kesedihan yang begitu dalam.


Grep


Revan diam terpaku saat ibu merengkuh tubuhnya dan memeluk begitu erat.


"Maafkan ibu nak, ibu tidak akan lagi membuatmu resah, ibu tak akan menyuruhmu untuk segera menikah, mulai sekarang kau harus bahagia nikmati masa mudamu, kau harus mencari pengganti Zara, kau pasti akan dapat pengganti yang lebih baik dari gadis itu, lupakan dia nak, Zara bukan jodoh untukmu hiks."


Tangis perempuan itu akhirnya pecah kembali dalam pelukan Revan.


Dengan lembut Revan mengusap punggung Reni dengan sabar, tepukan kecil sesekali ia lakukan agar ibunya merasa tenang.


Sang ibu yang begitu menyayanginya dan selalu memgharap agar putra satu-satunya itu hidup bahagia.


"Sebenarnya apa yang terjadi bu, kenapa tiba-tiba ibu bersikap seperti ini?" Revan kini mencoba bertanya apa yang membuat ibunya resah akan kehidupan asmaranya.


Reni mengurai pelukannya, di tatapnya netra Revan dengan tajam.


Wajah tampan yang selama beberapa hari terlihat murung, urat senyum yang seakan sirna dari wajahnya kini terlihat sudah kembali seperti sedia kala.


Di tatapnya lekat wajah Revan, sinar mata yang penuh semangat kini sudah kembali, bahkan raut kesedihan sudah tak ada lagi.


Apa yang membuat wajah murung itu kembali bersinar, pikir Reni.


"K kamu baik-baik saja nak?"


Revan tersenyum "Kenapa malah ibu yang balik bertanya pada Revan bu?"


Tentu saja saat ini wajah Revan kembali berseri, setelah mengetahui jika Zara ternyata hanya bersandiwara tentang hubungannya, saat ini ia masih memiliki asa untuk menggapai Zara kembali ke sisinya.


Reni lalu menceritakan pertemuannya dengan Zara dengan kekasih barunya, yang ternyata mereka akan fitting gaun pengantin yang kekasih Zara ternyata adalah putra dari sahabat Reni.


Revan tersenyum mendengar penuturan sang ibu.


"Sudahlah, sekarang ibu istirahat, aku baik-baik saja bu, jangan cemaskan aku."


Revan memegang tangan keriput dan mengusap punggung tangannya lembut.


Reni menatap sang putra dengan tatapan penuh tanda tanya.


Jika kemarin wajah tampan itu terlihat sayu dan tak bergairah namun kenapa sekarang berubah seratus delapan puluh derajat.


Meski Reni merasa senang namun hatinya masih diliputi berbagai pertanyaan.


Revan berjalan ke luar dari kamar setelah berhasil menenangkan hati sang ibu.

__ADS_1


Tunggu lah bu, aku akan membawanya kembali ke sisiku dan saat itulah aku akan memperkenalkannya secara resmi padamu, sebagai calon istriku.


__ADS_2